Tolak Anggaran Penangkapan Burung Pipit di Sleman, LSM Ungkit Kebijakan Mao Zedong

Tolak Anggaran Penangkapan Burung Pipit di Sleman, LSM Ungkit Kebijakan Mao Zedong
Burung pipit. ©2021 Liputan6.com/Faizal Fanani
PERISTIWA | 26 Maret 2021 11:52 Reporter : Purnomo Edi

Merdeka.com - DPRD Kabupaten Sleman tengah membahas anggaran untuk penangkapan burung pipit atau emprit yang dianggap sebagai hama pertanian. Namun langkah ini mendapat protes dari pegiat konservasi.

Yayasan Wahana Gerakan Lestari Indonesia (Wagleri) mengkritik keras langkah DPRD Sleman. Menurut lembaga swadaya masyarakat (LSM) ini, penangkapan burung pipit dengan memasang jaring di persawahan adalah upaya destruktif. Langkah itu justru akan merusak dan melahirkan ketimpangan ekosistem.

"Tidak hanya rantai makanan. Bisa juga nanti ekologinya terganggu semua," kata Ketua Pengurus Yayasan Wagleri Hanif Kurniawan saat dihubungi, Jumat (26/3).

Hanif juga mengingatkan kajian historis tentang upaya memusnahkan burung gereja yang pernah dilakukan di Tiongkok. Pemimpin negara itu, Mao Zedong, memerintahkan agar burung gereja dimusnahkan karena menjadi hama pertanian.

"Perintah itu malah menjadi malapetaka, karena justru memicu merebaknya hama lain, seperti serangga dan tanaman gulma. Artinya pertanian yang katanya mau berjalan justru terpuruk. Itu kajian historis," urai Hanif.

Menurut Hanif, selain tak melakukan kajian historis, usulan dari DPRD Sleman juga tak didukung kajian ilmiah. "Ketika sudah ada kajian ilmiahnya mana emprit yang makan padi, mana yang nggak, kan nggak ngerti. Kalau makan padi pun, apa iya emprit serakus tikus? Kan nggak tahu juga," kritik Hanif.

"Lha tikus yang rakus saja masih bisa dikendalikan pakai rekayasa biologi, ekologinya masih bisa dimainkan. Apalagi emprit yang belum terlalu parah," imbuh Hanif.

Kajian ilmiah diperlukan dalam pengendalian satwa liar, seperti jumlah populasi di alam, daya dukung lingkungan, kecepatan reproduksi hingga peran organisme tersebut dalam ekosistem. Menurutnya, banyak banyak kampus mempunyai ahli dan kajian ilmiah untuk mengatasi permasalahan burung pipit itu.

"Beberapa puluh kampus ada di sini. Ada Fakultas Biologi, Kedokteran Hewan, Kehutanan, Pertanian. Kenapa tidak kemudian mereka dilibatkan untuk kemudian kita jajaki dan memberikan solusi terbaik," papar Hanif.

"Makanya ketika pemerintah membuat kebijakan, itu bisa konsultasi dengan berbagai macam perguruan tinggi di Yogyakarta. Ya, tentu jalannya akan lebih terang," imbuh Hanif.

Wakil Ketua DPRD Sleman Arif Kurniawan angkat bicara usai muncul kritikan terhadap anggaran penangkapan burung pipit. Dia menyatakan anggaran itu belumlah diketok palu.

Arif menuturkan, pengajuan usulan penangkapan burung pipit berasal dari Dinas Pertanian Kabupaten Sleman untuk melindungi lahan petani secara menyeluruh.

"Jadi kalau dari serangan hama tikus mengatasinya dengan pengadaan galvalum. Sementara untuk menangkap dan menghalau burung emprit lewat pengadaan jaring," ucap Arif.

Arif membeberkan penambahan anggaran untuk jaring penangkap dan penghalau burung pipit ini di kisaran Rp 120 juta hingga Rp 140 juta. Anggaran ini masih didiskusikan.

Terkait kajian ilmiah mengenai apakah burung pipit masuk hama pertanian atau tidak, Arif mengaku belum ada kajian secara valid. Namun mereka terbuka untuk kajian mendalam bersama para pegiat konservasi, karena kebijakan tidak boleh bertabrakan dengan upaya pelestarian lingkungan.

"Kita belum bisa menyampaikan apakah burung emprit itu masuk dalam kategori hama seperti tikus, wereng, dan itu dibasmi. Tapi fakta itu mengganggu. Ketika sudah hampir panen pasti habis dimakan oleh burung emprit itu," tutup Arif. (mdk/yan)

Baca juga:
Heboh Isu Impor Beras, Hasil Panen Padi Petani di Malang Justru Melimpah
Resmikan Gudang SRG di Brebes, Kemendag Sebut Bawang Bisa Disimpan untuk 6 Bulan
Organik Adalah Zat Aman & Bermanfaat, Kenali Bedanya dengan Anorganik
Genjot Devisa Negara, Petrokimia Gresik Galakan Ekspor Melati dari Tegal
Berani Berubah: Lahan Tani Menjadi Andalan Ketahanan Pangan Warga di Masa Pandemi
Gunakan Listrik PLN, Petani di Soppeng Hemat Biaya Operasional Hingga 50 Persen

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

TOPIK TERKAIT

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami