Tolak RKUHP, PSI Sebut Adopsi Hukum Adat Bikin Cemas Sektor Usaha

PERISTIWA | 19 September 2019 17:13 Reporter : Iqbal Fadil

Merdeka.com - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menyatakan rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) berpotensi memicu efek negatif terhadap sektor usaha. Terutama, terkait Pasal 2 pada RKUHP.

"RKUHP mengatur pemidanaan berdasarkan hukum yang hidup atau hukum adat yang membuat orang dapat dipidana berdasarkan hukum tidak tertulis. Ini pasal karet, bisa diterapkan secara subjektif, terserah golongan mayoritas yang tinggal di situ," kata Juru Bicara PSI, Rian Ernest melalui keterangan pers di Jakarta, Kamis (19/9).

Dalam penjelasan Pasal 2, Pemerintah Daerah dapat mengatur "KUHP" nya sendiri berdasarkan hukum yang hidup di masyarakat dan menyebutnya sebagai "delik adat".

Penjelasan Pasal 2 Ayat (1) berbunyi: "Dalam pasal ini, yang dimaksud dengan "hukum yang hidup dalam masyarakat yang menentukan bahwa seseorang patut dipidana" adalah hukum pidana adat. Hukum yang hidup di dalam masyarakat dalam pasal ini berkaitan dengan hukum yang masih berlaku dan berkembang dalam kehidupan masyarakat di Indonesia. Di beberapa daerah tertentu di Indonesia masih terdapat ketentuan hukum yang tidak tertulis yang hidup dalam masyarakat dan berlaku sebagai hukum di daerah tersebut yang menentukan bahwa seseorang patut dipidana. Untuk memberikan dasar hukum mengenai berlakunya hukum pidana (delik) adat, perlu ditegaskan dan dikompilasi oleh pemerintah yang berasal dari Peraturan Daerah masing-masing. Kompilasi ini memuat mengenai hukum yang hidup dalam masyarakat yang dikualifikasi sebagai tindak pidana adat."

Pemberlakuan hal tersebut, kata Rian, akan memberi dampak buruk pada kepastian hukum di Indonesia. Tidak ada kepastian hukum, investor enggan masuk.

"Saya membayangkan investasi yang masuk dalam bentuk pabrik, pengolahan energi, dan pembangkit listrik. Bila ada pimpinan perusahaan yang tidak sengaja melakukan sesuatu yang melanggar adat setempat, bisa dipenjara. Ini tentu seperti mengatakan kepada para investor: "Jangan berinvestasi di Indonesia karena hukum di sini tidak jelas." Ditambah pasal-pasal yang berbasis moral kelompok tertentu yang masuk terlalu jauh ke ranah privat akan menciptakan ketakutan dan sentimen negatif terhadap sektor usaha," kata Rian.

DPR rencananya mengesahkan RKUHP pada 24 September 2019. Padahal ada banyak pasal yang bermasalah dan mendapatkan protes dari masyarakat.

Baca juga:
PKS Nilai Pasal Penghinaan Presiden di RKUHP Bisa jadi Pasal Karet
RKUHP: Publikasi Sidang Tertutup Bisa Dipidana
Pemerintah dan DPR Sepakati Semua Poin di Revisi KUHP, Tinggal Disahkan
Revisi UU KUHP, Pemerintah Minta Pasal Pria Ingkar Janji Menikahi Wanita Dihapus
MA Serahkan Penyusunan RUKHP di DPR, Harap Lahir UU Pidana yang Tepat
Pasal-Pasal Kontroversi di RKUHP yang Jadi Sorotan publik

(mdk/bal)