Tommy Akui Serahkan Surat Permohonan Penghapusan Red Notice Djoko Tjandra ke Napoleon

Tommy Akui Serahkan Surat Permohonan Penghapusan Red Notice Djoko Tjandra ke Napoleon
PERISTIWA | 3 Desember 2020 23:38 Reporter : Nur Habibie

Merdeka.com - Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan Tommy Sumardi menjadi saksi terkait perkara penghapusan red notice atas nama Djoko Soegiarto Tjandra. Ia menjadi saksi atas terdakwa Djoko Tjandra di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi, Jakarta Pusat, Kamis (3/12).

Dalam kesaksiannya itu, Tommy menyebut jika dirinya telah menyerahkan surat istri Djoko Tjandra, Anna Boentaran perihal permohonan pencabutan red notice suaminya kepada Irjen Napoleon Bonaparte yang saat itu menjabat Kadiv Hubinter Polri.

"Surat itu dari awal, surat itu seingat saya surat permohonan pencabutan red notice yang ditujukan Kadiv Hubinter Pak Napoleon," kata Tommy.

Namun, ia mengaku tak tahu siapa yang membuat surat tersebut. Surat itu ia terima dari supir Djoko Tjandra yaitu Nurdin yang ia berikan kepada Napoleon.

"Saya telepon Pras (Brigjen Prasetijo Utomo), saya mau bawa surat ini ke Pak Napoleon, silakan nanti saya nyusul, lalu ketemu di ruangan Pak Napoleon," ujarnya.

Setelah sampai di ruangan Napoleon, ia pun memberikan surat tersebut dan menyarankan Napoleon untuk membacanya lebih dahulu.

Namun, Napoleon dikatakannya sudah mengetahui isi dari surat tersebut terkait permohonan pencabutan red notice Djoko Tjandra.

"Saya bilang ini ada surat permohonan dari Pak Djoko Tjandra coba bapak baca-baca dulu, terus dia bilang 'saya enggak perlu, ini saya sudah tahu semua'. Pak Napoleon bilang gitu, ya sudah saya diem," jelasnya.

Setelah menyerahkan surat tersebut, Tommy dan Prasetijo pun langsung meninggalkan ruangan tersebut.

"Setelah dari situ pak bertiga, kemudian saksi kemana sama Pras? Ada pembicaraan lain?" tanya jaksa.

"Tidak," singkat Tommy.

"Setelah itu ke mana?" tanya jaksa kembali.

"Saya langsung balik, Pak Pras balik juga," jawab Tommy.

Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan seorang anggota Polri, Junjungan Fortes dalam sidang perkara penghapusan red notice atas nama Djoko Soegiarto Tjandra. Sidang ini digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta Pusat, Kamis (26/11).

Dalam sidang itu, ia mengaku pernah dipanggil oleh Brigjen Prasetijo Utomo yang saat itu menjabat sebagai Karo Korwas PPNS Bareskrim Polri, sebanyak tiga kali.

Pemanggilan pertama pada 9 April 2020, saat itu ia diminta untuk membuat surat atas nama isteri Djoko Tjandra yakni Anna Boentaran, yang ditujukan ke Irjen Napoleon Bonaparte, yang kala itu menjabat Kadiv Hubinter Polri.

"Pernah dihubungi beliau (Prasetijo) pada 9 April 2020, Brigjen Prasetijo Utomo memerintahkan saya untuk menghadap beliau melalui telepon," kata Fortes.

"Ketika saya diperintahkan untuk menghadap, saya melapor ke Kabag Bapak Tommy. Beliau mengizinkan saya, setelah itu saya langsung menghadap Pak Prasetijo. Sampai di sana, beliau memerintahkan saya buat surat dari sipil ke Kadiv Hubinter Polri. Menyampaikan bahwa saudara Djoko Soegiarto Tjandra adalah orang bebas atau tidak bersalah," sambungnya.

Fortes menyebut, surat tersebut terdiri dari tiga paragraf. Pertama, ucapan terimakasih dari Anna Boentaran kepada Napoleon. Pada paragraf kedua, berisi salinan Peninjauan Kembali Djoko Tjandra dan paragraf ketiga tertera kalimat mohon bantuan hukum.

"Saya ingat suratnya dua lembar, dan itu terdiri dari 3 paragraf. Pertama, saya ketik ucapan terimakasih dari Anna ke Kadivhuter, paragraf dua, amar putusan, paragraf tiga disebutkan Djoko Tjandra adalah orang tidak bersalah," sebutnya.

Selanjutnya, untuk panggilan kedua dilakukan pada 4 Mei 2020. Dalam pertemuan kedua itu, ia diberikan informasi jika surat yang sudah dia buat telah diteruskan.

"Di panggil kedua dia sampaikan kalau surat yang saya bikin sudah di diteruskan. 'Nanti kamu dapatlah'. Saya bilang, 'siap'. Kalau enggak salah tanggal 4 Mei 2020. Saya tidak berani bertanya. Dia juga bilang, 'Kadivmu dapat banyak'," jelasnya.

Saat itu, ia mengaku tidak berani menanyakan soal 'Nanti kamu dapatlah'. Terlebih, Prasetijo juga tidak menjelaskan maksud perkataan tersebut.

"Pemahaman anda terkait ucapan tersebut?," tanya jaksa.

"Saya tidak bertanya, dan Pak Prasetijo tidak menjelaskan lebih jauh," jawabnya.

"Tahu tidak maksud kalimat itu?," tanya jaksa kembali.

"Secara tidak langsung, pemahaman saya ini soal uang," jawabnya kembali.

Selanjutnya, dua hari kemudian ternyata Fortes kembali diminta untuk menghadap Prasetijo. Saat itu, ia diberikan bingkisan oleh Prasetijo.

"Saya diperintahkan untuk menghadap. Jadi ketika saya datang ke sana sekitar jam 1 siang kalau tidak salah, tanggal saya tidak ingat, kalau enggak salah 6 Mei 2020 beliau memerintahkan saya menghadap ke ruangan dan diberikan bingkisan untuk orang yang terdampak Covid atau bingkisan lebaran," pungkasnya. (mdk/fik)

Baca juga:
Lelah, Brigjen Prasetijo Utomo Tak Beri Kesaksian Kasus Djoko Tjandra
Alasan Div Hubinter Polri Lama Balas Surat Kejagung Terkait Red Notice Djoko Tjandra
Imigrasi Sempat Hubungi Ses NCB Interpol Tanya Keaslian Surat Divhubinter Polri
Sudah Terhapus, Red Notice Djoko Tjandra Masih Bisa Dilihat Tapi Data Tak Valid
Akui Kesalahan, Tommy Sumardi Tak Ajukan Saksi Meringankan di Kasus Djoko Tjandra
Sidang Djoko Tjandra: Dua Jenderal Bakal Bersaksi Hari Ini

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami