Tragedi Kanjuruhan Bukti Lemahnya Budaya K3 di Indonesia

Tragedi Kanjuruhan Bukti Lemahnya Budaya K3 di Indonesia
Suasana kericuhan di laga Arema FC vs Persebaya di Stadion Kanjuruhan. ©2022 REUTERS TV
NEWS | 5 Oktober 2022 15:22 Reporter : Nur Fauziah

Merdeka.com - Tragedi Kanjuruhan merenggut korban jiwa 131 orang dan membuat ratusan lainnya terluka. Peristiwa yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Sabtu (1/10) malam, itu menjadi bukti lemahnya budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Indonesia.

Penilaian ini disampaikan ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (K3 FKM UI), Zulkifli Djunaedi. Menurutnya, tanpa adanya K3 dalam event besar, berpotensi merenggut nyawa manusia.

"Dalam pertandingan tersebut dihadiri ribuan massa. Jika tidak dilengkapi dengan induksi keselamatan, sistem, prosedur, sarana dan prasarana K3, semua itu berpotensi merenggut nyawa manusia. Tidak memadainya fasilitas dan sarana emergency menjadi faktor kritis pada kejadian multiple fatalities tersebut," kata ahli K3 FKM UI, Zulkifli Djunaedi, Rabu (5/10).

2 dari 3 halaman

Larangan Penggunaan Gas Air Mata

Penggunaan gas air mata dalam upaya emergency response pun kata dia patut dipertanyakan. Padahal dalam regulasi FIFA No 19 hal tersebut sudah dilarang.

"Kenapa gas air mata digunakan dalam meredam amukan massa, padahal sudah jelas dalam regulasi FIFA No 19 bahwa gas air mata dan senjata tajam tidak boleh digunakan dalam pengamanan massa di stadion," ucapnya.

Tragedi Kanjuruhan harus diinvestigasi mendalam secara independen dengan melibatkan semua unsur termasuk para ahli K3, ahli kedaruratan, perancang stadion, dan pihak lainnya. Hasil investigasi tragedi tersebut harus disosialisasikan agar kecelakaan serupa dapat dicegah dan menjadi pembelajaran bersama.

3 dari 3 halaman

Jadi Pelajaran

Sementara para pencinta sepak bola juga diminta turut memahami dan menghindari tindakan berbahaya. "Jangan lupa untuk menghindari berbagai tindakan berbahaya bagi diri sendiri dan orang lain, ketahui prosedur keadaan darurat dan rute evakuasi stadion di mana Anda menyaksikan pertandingan sepak bola secara langsung,” kata Kepala Disaster Risk Reduction Center (DRRC) UI Fatma Lestari.

Dalam rangka menjamin keselamatan masyarakat, sangat diperlukan sebuah sistem dan prosedur keselamatan. Misalnya dimulai dari kajian risiko keselamatan, manajemen risiko, hingga prosedur keadaan darurat. Perlu diidentifikasi juga berbagai risiko yang mungkin dihadapi ketika dalam pertandingan sepak bola.

"Langkah selanjutnya adalah melakukan penyusunan manajemen risiko agar kecelakaan terhindari, terminimalisir hingga tidak terjadi. Termasuk di dalamnya ada tindakan seperti apa saja yang harus dilakukan saat terjadi keadaan darurat seperti di Stadion Kanjuruhan beberapa hari lalu," tambahnya.

Ketua Departemen K3 FKM UI, Mila Tejamaya menuturkan, crowd safety management merupakan lesson learned dari Tragedi Kanjuruhan. Tanpa crowd management plan, besar kemungkinan tragedi-tragedi perhelatan besar menjadi tidak terelakkan dan tentunya hal ini tidak diinginkan.

"Crowd safety adalah bagian dari K3, harus menjadi perhatian pemerintah setempat dalam memberikan perizinan untuk suatu event. Sebagai pembelajaran, crowd management plan harus ditunjukkan kepada pemerintah setempat guna mendapatkan izin penyelenggaraan suatu event," katanya.

(mdk/yan)

Baca juga:
Jenguk Korban Tragedi Kanjuruhan, Jokowi Tanya Situasi saat Kerusuhan
Jenderal Andika Jelaskan Pasal Pidana Jerat Prajurit TNI Terlibat Tragedi Kanjuruhan
Mahfud MD: TGIPF Bisa Rekomendasikan Perombakan Organisasi Sepak Bola Indonesia
4 Momen Juragan99 Presiden Arema FC Takziah ke Keluarga Korban, Beri Santunan
Jokowi Perintahkan Tim Pencari Fakta Usut Tragedi Kanjuruhan Kurang dari Sebulan
Jokowi Perintahkan Menteri PUPR Audit Total Semua Stadion untuk Liga
Kesaksian Aremania: Aparat Ogah Beri Bantuan saat Banyak Suporter Jatuh Pingsan

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini