Tragedi Kanjuruhan: Setiap Subuh Ibu Minta ke Kuburan, Petang Menangis

Tragedi Kanjuruhan: Setiap Subuh Ibu Minta ke Kuburan, Petang Menangis
Pemain Arema FC tabur bunga untuk korban tragedi Kanjuruhan. ©REUTERS/Willy Kurniawan
NEWS | 7 Oktober 2022 07:27 Reporter : Darmadi Sasongko

Merdeka.com - Luka batin itu masih dirasa. Tidak mudah untuk dilupakan. Sosok yang dicintai masih membekas dalam ingatan, meski raga sudah bersatu dengan semesta.

Tidak ada yang menyangka, akan begitu cepat bagi Mulyanto kehilangan sang buah tercinta, Hafian Hasik Rifky. Kebahagiaan mendukung klub tercinta berlaga di stadion kebanggaan Arema, berakhir petaka.

"Setiap subuh ibunya minta ke kuburan. Setiap pagi, subuh minta ke kuburan, petang-petang nangis di kuburan," kata Mulyanto sambil menahan tangis di RSSA Malang.

Mulyanto merupakan warga Krasaan, Probolinggo yang kehilangan putranya saat Tragedi Kanjuruhan. Hafian saat itu menonton laga Arema FC Vs Persebaya di stadion bersama teman-teman indekos.

2 dari 3 halaman

Minggu (2/10) dini hari, teman-temanya datang membawa kabar duka, Hafian turut menjadi korban meninggal dunia.

"Subuh itu teman kosnya datang ke rumah. Saya mau berangkat ke masjid. Saya minta masuk. Dia hanya bilang mau bertemu dengan kakaknya Hafian," kisahnya.

Mulyanto pun membangunkan anaknya yang masih tertidur untuk menemui teman-teman adiknya. Mereka ketika itu hanya mau menyampaikan kepada kakak Hafian.

"Setelah bertemu tidak tahu bicara apa, langsung kakaknya ini nangis. Saya tanya kenapa? Adik meninggal Pak. Tabrakan tah? Ndak nonton balbalan," ujarnya.

Keluarga tidak mengira kejadian itu dialami anaknya. Kabar itu pun sulit diterima keluarga, karena selama ini Hafian sehat dan baik-baik saja.

"Ibunya langsung nggeblak (jatuh ke belakang). Setelah itu saya menyuruh kakaknya mengambil jenazah adiknya ke Malang," ungkapnya.

Keluarga mencari ke beberapa rumah sakit, sebelum kemudian diketahui berada di rumah sakit Wafa Husada Kepanjen. Posisinya berada di pojok bersama beberapa jenazah lain.

"Dicari ke beberapa rumah sakit ternyata anak saya ada di Wafa Husada. Berada di pojok sudah meninggal dunia. Sebelum jam 7, karena sesudah jam 7 jenazah mau dipindah ke RSSA," kisahnya.

3 dari 3 halaman

Mulyanto mengaku tidak menemukan bekas luka di sekujur tubuh anaknya. Hanya mengenakan kaos dalam warna putih.

"Saya buka semua bajunya tidak ada luka. Tidak ada luka memar, mulus. Hanya pakai sepatu, jaket hilang, HP hilang, dompet hilang, tinggal kaos dalam," ceritanya.

Mulyanto berharap pemerintah dan Kepolisian menuntut agar kasus kematian anaknya dan korban-korban lainnya diusut sampai tuntas. Baginya, nyawa tidak dapat ditukar apapun.

"Minta diusut setuntas-tuntasnya, keadilan. Itu nyawa orang, bukan binatang. Tidak bisa ditukar apapun, saya minta keadilan," ungkap Mulyanto.

(mdk/cob)

Baca juga:
Proses Hukum Enam Tersangka Tragedi Kanjuruhan Ditangani Polda Jatim
Merekonstruksi Pergerakan Aremania Hingga Berakhir di 'Pintu Maut' Stadion Kanjuruhan
Kapolri: Mayoritas Korban Meninggal Tragedi Kanjuruhan Akibat Asfiksia
Tragedi Kanjuruhan: Pintu Stadion Tidak Dibuka Sepenuhnya, Penjaga Tak di Tempat
Analisis Washington Post: Tindakan Polisi Berujung Kematian Massal di Kanjuruhan
Kapolri: PT LIB Gunakan Verifikasi Stadion Kanjuruhan Tahun 2020

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini