Trauma Dicabuli Guru, Murid di Badung Mencoba Bunuh Diri dengan Cara Iris Tangan

PERISTIWA | 22 Januari 2020 16:31 Reporter : Moh. Kadafi

Merdeka.com - TF (13), murid SMP mengalami trauma berat usai dicabuli guru olahraga, sewaktu korban masih duduk di bangku SD. Terlebih korban selalu dicari oleh tersangka. Merasa trauma dan takut, korban mencoba bunuh diri dengan cara mengiris-iris tangannya menggunakan pisau cutter di depan kelas.

Kasatreskrim Polres Badung AKP Laorens R. Heselo menuturkan tersangka seorang Guru SD berinisial IGA KW (53). Dua korban adalah TF dan KDAP (12).

"Tersangka ini merupakan seorang PNS guru dan merupakan guru olahraga," kata Laorens R. Heselo di Mapolres Badung, Bali, Rabu (22/1).

Peristiwa itu terjadi sekitar bulan Juli 2018 sampai Juli 2019, antara jam 16.00 WITA sampai pukul 18.00 WITA saat kegiatan ekstrakurikuler olahraga kriket di dalam kelas sekolah dasar di Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung.

Kasus ini terbongkar saat TF mencoba bunuh diri. Ketika melakukan hal itu, kemudian diketahui oleh teman-temannya sehingga dilaporkan ke guru. Korban kemudian mengaku trauma karena saat SD menjadi korban persetubuhan tersangka dari kelas 5 sampai 6.

"Pada saat giliran korban masuk ke dalam kelas, tersangka memaksa korban untuk bersetubuh dengan ancaman kalau tidak mau menuruti perintah tersangka korban akan diberikan nilai jelek atau tidak naik kelas," imbuh Heselo.

Selain itu, dari keterangan TF diketahui juga ada korban lainnya yaitu korban dengan inisial KDAP yang saat ini masih duduk di kelas 6 SD dan dari keterangan korban bahwa perbuatan tersangka dilakukan dengan modus yang sama.

Selanjutnya, polisi mendatangi TKP dan melakukan penyelidikan dan meminta keterangan saksi-saksi. Polisi lantas menangkap tersangka di rumah yang tidak jauh dari sekolah SD.

"Jadi perbuatan kepada korban ini terjadi beberapa kali, korban TF ini terjadi sebanyak 9 kali dilakukan persetubuhan sedangkan KDAP ini 10 kali. Terakhir pada bulan Juli tahun 2019 itu terakhir persetubuhannya," jelas Heselo.

"Tapi masih ada lagi perbuatan cabul yang dilakukan tersangka menurut pengakuan korban KDAP pada tanggal 11 Januari (2019), tapi cuma dilihat kemaluannya saja dan juga sempat dibuka pakaiannya. Tapi tidak dilakukan persetubuhan," sambungnya.

Tersangka dijerat pasal 81 Jo Pasal 76D Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35, Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman penjara minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun. Hukuman dimaksud dapat ditambah 1/3 karena tersangka sebagai pendidik atau tenaga pendidikan Pasal 81 ayat (3). (mdk/cob)

Baca juga:
AMDI Harap Korban Pemerkosaan di Toba Samosir Dapat Perlindungan & Pendampingan
Gagal Perkosa Wanita Hamil, Tukang Ojek di Siak Cabuli Gadis SMP
Ayah Tiri Cabuli Anaknya yang Lagi Tidur Siang Usai Pulang Sekolah
Cabuli Belasan Anak, Ketua Ikatan Gay Tulungagung Diringkus Polisi
Kakek Perkosa Siswi SMP di Sumenep hingga Hamil
Hamili Kekasih, Pemuda Pengangguran di Sulawesi Selatan Diciduk Polisi

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.