Tumpek Landep, TNI dan Polisi di Bali gelar ritual terhadap pistol

PERISTIWA | 16 Mei 2015 12:28 Reporter : Eko Prasetya

Merdeka.com - Kodim 1616 Gianyar, Bali menggelar ritual khusus terhadap puluhan senjata laras panjang jenis M16, A1 dan pistol P-1 bertepatan dengan hari Tumpek Landep, persembahan suci khusus ditujukan benda terbuat dari bahan besi, logam, emas.

"Puluhan senjata tersebut dijejer dan dilakukan penyucian," kata pemimpin ritual tersebut (pemangku) Kodim 16/16/Gianyar, Mangku Made Bawa, seperti dilansir Antara Sabtu (16/5).

Dia mengatakan, ritual untuk memohon keselamatan karena senjata tersebut memberikan perlindungan terhadap pemakai, baik dari kendaraan maupun senjata khususnya umat Hindu di Kodim 1616/Gianyar. Semua benda yang dibuat dari bahan logam memiliki unsur yang dipercaya dapat berpengaruh bagi penggunanya, dan diharapkan melalui ritual bertepatan dengan Hari Tumpek Landep dapat memberikan pengaruh yang baik bagi penggunanya. Nilai kearifan lokal dalam perayaan Tumpek Landep dapat memberi pengaruh yang baik khususnya bagi warga Kodim 1616/Gianyar, harap Mangku Made Bawa.

Sementara itu, ritual yang sama juga berlangsung di Mapolres Gianyar. Umat Hindu Dharma di Bali menggelar ritual Tumpek Landep, persembahan suci yang khusus ditujukan untuk semua jenis benda yang terbuat dari bahan besi, logam, emas seperti keris dan senjata pusaka lainnya.

Kegiatan ritual menggunakan kelengkapan sarana banten, rangkaian janur kombinasi bunga dan buah-buahan dipersembahkan untuk berbagai jenis alat produksi dan aset dari bahan besi, tembaga maupun emas. Kegiatan ritual itu umumnya dilakukan di masing-masing rumah tangga dengan skala kecil, madya dan utama sesuai kemampuan dari keluarga bersangkutan. Semua itu bermakna untuk memohon keselamatan ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Dewa Senjata.

Kegiatan ritual berkaitan dengan Tumpek Landep di masing-masing keluarga maupun perusahaan dan kantor berlangsung sejak pagi, sore hingga malam hari. Tumpek Landep sekaligus merupakan 'pujawali' Betara Siwa yang berfungsi melebur dan 'memralina' (memusnahkan) kembali ke asalnya.

Tumpek Landep berlangsung setiap 210 hari sekali. Masyarakat yang berprofesi sebagai petani mempersembahkan kurban suci ditujukan kepada alat-alat pertanian berupa canggul, sabit maupun traktor. Semua peralatan yang terbuat dari besi dan tembaga termasuk mobil dan sepeda motor yang lalu-lalang di jalan raya pada hari Tumpek Landep itu diisi sesajen dan hiasan khusus dari janur yang disebut 'cenig', 'sampian gangtung', dan 'tamiang'.

Semua itu merupakan wujud puji syukur orang Bali ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena telah memberikan pengetahuan dan kemampuan merancang teknologi canggih, hingga tercipta benda-benda yang dapat mempermudah manusia dalam kehidupan sehari-hari.

(mdk/eko)