Tunggu Hasil Autopsi, Polisi Belum Pastikan Siswi SMP di Gorong-gorong Korban Bully

PERISTIWA | 29 Januari 2020 05:04 Reporter : Mochammad Iqbal

Merdeka.com - DS (13) siswi SMPN 6 Tasikmalaya yang jenazahnya ditemukan di dalam gorong-gorong diautopsi polisi, Selasa (28/1). Proses autopsi sendiri dilakukan di RSUD dr Soekardjo oleh dokter spesialis forensik Polda Jabar.

Hasil autopsi masih akan diperiksa lebih lanjut oleh tim forensik. Hasilnya baru diketahui 14 sampai 20 hari ke depan.

"Dari hasil autopsi ini tentunya akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut karena harus dianalisa lagi hasilnya," kata Kapolres Tasikmalaya Kota, AKPB Anom Karibianto.

Kapolres belum bisa memastikan penyebab meninggalnya DS. Sambil menunggu hasil autopsi, polisi akan terus melakukan penyelidikan lebih lanjut.

Dia menuturkan, sejumlah informasi telah didapatkan di tempat kejadian perkara. "Nanti akan dikonfirmasi dengan keterangan saksi dan bukti lainnya. Hal tersebut nantinya tentu akan didukung oleh hasil autopsi ini," sebutnya.

1 dari 1 halaman

Tanda Tanya Korban Bully

Polisi sudah memeriksa enam orang saksi terkait meninggalnya DS. Keterangan para saksi akan disesuaikan dengan informasi lainnya.

"Sementara kita belum bisa memastikan apakah korban ini adalah korban kejahatan atau meninggal biasa, apakah ada tanda kekerasan atau tidak. Kita tunggu hasilnya saja sekitar 14 sampai 20 hari," ungkapnya.

Meninggalnya DS rupanya menyisakan tanda tanya di kalangan teman-temannya. Silvia Handayani (12), salah satu teman dekat dan tetangganya mengaku bahwa pada Kamis (23/1) masih sempat bertemu dengan DS dan keluar gerbang sekolah bersama sekitar pukul 15.00.

Silvia menyebut bahwa saat hendak pulang kondisi cuaca memang tengah hujan deras, namun ia tetap memaksakan pulang karena sudah sore. "DS berteduh dulu di toko yang ada di depan sekolah," sebutnya.

Keesokan harinya, dia mengaku mendapat informasi bahwa DS tidak pulang ke rumah sehingga ia bingung karena tidak biasanya main di luar sampai sore bahkan malah hari. Dia mengetahui kebiasaan DS yang selalu langsung pulang ke rumah usai selesai sekolah.

"Saya sudah berteman dengan DS sejak SD dan sering main bersama karena rumah kita juga memang dekat. Di SMP kita tidak sekelas tapi suka sering curhat sering dihina oleh teman-teman sekelasnya. Katanya suka dikatain tukang leupeut (lontong)," ungkapnya.

Teman DS lainnya, Hasna Aprilia (13) menyebut bahwa selama ini ia mengenal sosok korban tidak ada yang berbeda dalam kepribadiannya dan suka main bareng. Namun meski begitu ia menyebut bahwa tidak jarang DS sangat pendiam dibanding yang lainnya. Ia pun membenarkan kalau DS kerap dikatai bau lontong. Suka marah kalau dikatai itu, sebutnya. (mdk/noe)

Baca juga:
Sebelum Ditemukan Tewas dalam Gorong-gorong, Siswi SMP di Tasikmalaya Sering Dibully
Kepsek SMPN 147 Jakarta Tegaskan Siswanya Bunuh Diri Bukan Karena Dibully
Tidak Tahan di-Bully, ABG di Garut Berusaha Bunuh Diri
Instagram Rilis Fitur Peringatan Kala Tulis Caption Ofensif
Prilly Latuconsina dan Para Artis Ini Dulunya Pernah Jadi Korban Bullying di Sekolah
Reza Rahadian Pernah Jadi Korban Bullying, Dipanggil Monyet Saat SMP

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.