Hot Issue

Tutup Celah Varian Delta Menyebar di Indonesia

Tutup Celah Varian Delta Menyebar di Indonesia
Tenaga medis merawat pasien Covid-19. ©2020 Merdeka.com
PERISTIWA | 17 Juni 2021 07:28 Reporter : Fellyanda Suci Agiesta

Merdeka.com - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dilanda kekhawatiran. Penyebabnya, gelombang baru Covid-19 melanda Ibu Kota. Lonjakan kasus tak terkira. Anies tak ingin situasi berubah menjadi genting.

"Kita menghadapi gelombang baru peningkatan kasus Covid setelah musim libur Lebaran bulan lalu," kata Anies.

Peningkatan kasus di Ibu Kota mulai terlihat sejak 6 Juni 2021. Dalam sepekan, kasus positif melonjak hingga 50 persen. Kenaikan juga terlihat dalam persentase positivity rate.

Mantan Mendikbud ini berharap semua pihak termasuk masyarakat memandang kondisi dengan serius. Sebab, jika masih menganggap sebagai masalah enteng, ancaman ada di depan mata.

"Bila kondisi sekarang tidak terkendali kita akan masuk fase genting. Bila fase genting itu terjadi kita harus ambil langkah drastis seperti September dan Februari lalu," tegas Anies.

Kekhawatiran Anies beralasan. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengakui angka kasus positif melonjak tajam di beberapa daerah. Adapun daerah dengan kasus positif cukup tinggi adalah Bangkalan dan Kudus. Peningkatan dicurigai dampak libur Lebaran beberapa waktu lalu.

"Kita tahu Kudus adalah daerah ziarah, sedangkan di Madura banyak pekerja migran yang pulang dari negara tetangga," ungkap Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam jumpa pers beberapa waktu lalu.

Kasus Covid-19 Naik Karena Varian Baru

Budi Gunadi Sadikin menambahkan lonjakan kasus Covid-19 di sejumlah daerah karena kemunculan varian baru virus Corona. Varian yang dimaksud adalah Delta.

Varian ini pula menjadi cikal bakal meledaknya kasus positif Covid-19 di India. Angka meninggal dunia di India akibat varian Delta cukup tinggi bahkan dibandingkan dengan banyak negara. Data Kamis 6 Juni 2021 lalu menunjukkan ada 6.148 kematian dalam sehari akibat Covid-19.

"Beberapa daerah seperti Kudus kemudian, DKI Jakarta dan juga di Bangkalan memang sudah terkonfirmasi varian deltanya atau B1617.2 atau juga varian dari India mendominasi," kata Menkes Budi.

Dijelaskannya, varian ini memiliki karakteristik menular lebih cepat tetapi tidak lebih mematikan. Oleh karena itu, dia meminta agar masyarakat benar-benar disiplin menerapkan protokol kesehatan.

Ketua Dewan Pertimbangan Pengurus Besar (PB) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof Zubairi Djoerban menambahkan, jika seseorang terpapar varian Covid-19 Delta memiliki risiko masuk rumah sakit dua kali lipat daripada terjangkit varian B117 Alfa asal Inggris.

"Analisis di The Lancet menunjukkan bahwa risiko masuk rumah sakit dua kali lipat pada mereka yang memiliki varian Delta dibandingkan dengan Alfa (Inggris). Risiko juga meningkat pada mereka yang memiliki komorbid," jelasnya melalui akun Twitter @ProfesorZubairi, Rabu (16/6).

Dokter spesialis penyakit dalam subspesialis hematologi-onkologi ini juga membenarkan karakteristik varian Delta lebih cepat menular. Hal itu dipengaruhi oleh mutasi dimiliki varian Delta. Berdasarkan hasil studi, gejala yang muncul pada orang yang terjangkit varian Covid-19 Delta berbeda dengan virus awal. Gejala Covid-19 semula berupa demam, batuk dan kehilangan penciuman. Sedangkan gejala jika terpapar varian Covid-19 Delta adalah sakit kepala, tenggorokan dan pilek.

"Seperti kena flu berat," sambungnya.

Indonesia Bisa Alami Kejadian Seperti India?

Ganasnya sebaran Covid-19 Delta di Indonesia harus jadi perhatian serius semua pihak. Epidemiolog, Dicky Budiman, menyayangkan situasi terprediksi ini tidak bisa dicegah lebih awal.

"Sebetulnya bukan satu situasi yang tidak bisa diprediksi. Bisa diprediksi. Awal tahun ini saya sudah sampaikan, ingatkan. Ada potensi itu. Enam bulan ke depan nanti saya share itu, di Januari itu saya ingatkan," kata Dicky saat berbincang dengan merdeka.com, Rabu (15/6).

Menurutnya, lonjakan saat ini bisa dikatakan puncak kasus positif Covid-19 di Indonesia. Bahkan dalam prediksinya akan ada puncak selanjutnya setelah kondisi saat ini.

"Tapi inilah yang akan menjadi puncak dari gelombang pertama kita, dan bahkan sayangnya ada potensi puncak lagi sebelum nanti turun itu. Potensi puncak pertama di-lead oleh terutama varian Alfa yang juga merupakan ada andil kontribusi pandemi satu tahun kita. Kemudian ini puncak kembar," jelasnya.

Dijelaskannya, pada puncak kedua nanti kasus positif Covid-19 akan didominasi varian Delta yang secara karakteristik lebih serius dari varian Alfa. Ketika Varian Delta berada di puncaknya, dia memprediksi ada potensi kesakitan dan kematian besar.

"Artinya kita sudah dalam situasi serius, masuk lagi varian baru," tegasnya.

Sebenarnya, kata Dicky, kondisi ini bisa dicegah dengan cara melakukan pengadilan secara konsisten, berbasis sains. Seperti pintu masuk negara tidak dilonggarkan dan aturan masa karantina tidak dibuat kurang dari 14 hari.

Sebab bila itu masih terjadi, tentu risiko masuknya varian baru Covid-19 semakin terbuka lebar. Dalam kondisi ini, katanya, tidaklah tepat juga bila menyebut murni karena masyarakat melakukan perjalanan seperti kegiatan mudik beberapa waktu lalu.

"Ada memang kontribusi mudik besar. Tapi kontribusi yang sebelumnya pun signifikan, dari pemilu lah, dari tahun baru lah, dari keramaian-keramaian, dari perjalanan-perjalanan ke sana sini, meeting yang tetap ada, working from home yang diabaikan, nah ini yang terjadi," kritik Dicky.

Meski demikian, dia sangat berharap kondisi lonjakan Covid-19 di Tanah Air saat ini tidak seperti India. Salah satu keyakinan itu mengacu pada jumlah penduduk Indonesia tidak sepadat India.

"Kedua secara geografis, kita ini kepulauan ini membantu banget. Itu anugerah. Tanpa kita sadari itu sangat membantu Indonesia dalam meredam kecepatan penularan. Dan satu hal lagi, walaupun termasuk yang abai, sebagian masyarakat kita masih cukup konsisten menerapkan, terutama pakai masker ini."

Dicky menambahkan, saatnya semua pihak baik dari pemerintah pusat maupun daerah juga masyarakat bekerja sama menekan sebaran virus ini. Langkah pertama yang bisa dilakukan dengan melakukan melakukan tata kelola penanganan pandemi dengan baik.

"Di-lead sama menteri kesehatan. Saya sudah usulkan ketua satgas covid harusnya menkes karena dia yang punya sistem kesehatan. Kalau tidak, nanti kalau ada pandemi lebih parah kita tidak punya sistem yang kuat, bahaya banget," katanya.

Pemerintah juga diminta menyampaikan kondisi yang sebenarnya terkait Covid-19 di Tanah Air. Dalam kondisi seperti saat ini, narasi yang dibangun pemerintah harus diperbaiki, tidak ada lagi aroma glorifikasi, positifisme. Lebih baik, katanya, menyampaikan data apa adanya dan transparan apalagi bertujuan untuk pencitraan.

"Ini tanggung jawabnya jiwa loh. Ini yang harus diubah paradigmanya sehingga kita bisa merespons pandemi ini dengan berbasis strategi dan sains yaitu penguatan di akses deteksi kasus testing tracing, deteksi kunjungan ke rumah-rumah untuk pencegahan, vaksinasi kalau bisa semua, lalu 5M, dan batasi pergerakannya tanpa harus menerapkan lockdown dan PSBB," katanya.

"Masalahnya pemerintah sering tidak konsisten sih, di sektor lain serius di sisi lain sisa beda. Jadi ada inkonsistensi dalam strategi komunikasi, ini akhirnya menurunkan tingkat kepercayaan dan kepatuhan publik," katanya.

Dicky berkeyakinan, jika semua itu benar-benar dilakukan demi menyelamatkan banyak jiwa, tentu hasilnya akan berbeda. Tetapi sebaliknya, jika kerja serius ini dilakukan dengan bermain-main, maka Indonesia harus siap dengan keadaan yang lebih serius dari pandemi ini.

"Kesimpulan saya, kalau kita abai, mau pemerintah atau masyarakat jangan kaget kalau kita menyongsong badai," tutup Dicky. (mdk/yan)

Baca juga:
Wakil Ketua DPRD DKI Tolak Usulan Pemberlakuan Kembali PSBB
Kasus Covid-19 Naik, Polisi Perketat Buka-Tutup Jalan di Bandung
Picu Kerumunan, Acara Kenaikan Kelas di Palabuhanratu Sukabumi Dibubarkan
Dokter Reisa Ingatkan Jangan Pertaruhkan Kesehatan, Tingkatkan Penerapan Prokes
Korlantas Polri Sudah Bangun Seratusan Pos Pemeriksaan di Zona Merah Covid-19
Kasus Covid-19 Melonjak, Ruang Isolasi Mandiri di Depok Capai 100 Persen
Bupati Garut: Covid-19 Sudah Mulai Banyak Ditemukan di Perkampungan

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami