Umar Patek, 'Pendosa' yang Tak Lagi Merasa Kesepian

PERISTIWA | 6 Mei 2019 13:40 Reporter : Didi Syafirdi

Merdeka.com - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Suhardi Alius bertemu narapidana terorisme kasus Bom Bali I, Umar Patek di Lapas Kelas 1, Porong, Sidoarjo. Menurutnya, para napiter maupun mantan napiter yang sudah bertobat akan diberikan bantuan untuk menata kembali hidupnya.

"Ini kita buktikan pada bapak Umar Patek bahwa negara hadir dalam rangka program deradikalisasi. Salah satu program pokok BNPT adalah deradikalisasi, bagaimana teman-teman yang sudah kembali, baik itu di dalam dan di luar lapas, akan kita rangkul dengan baik," ungkap Suhardi dalam keterangannya, Senin (6/5).

Menurut Umar, BNPT selama ini tetap setia mendampinginya, meskipun masih banyak masyarakat yang mengucilkannya. "Saya berterima kasih kepada Kepala BNPT dan jajarannya, yang bersedia hadir menemui seorang pendosa yang telah berbuat onar di negeri ini," tuturnya.

"Saya merasakan kalau saya tidak sendirian, di tengah banyaknya aktivis Islam dan masyarakat yang mengucilkan saya. Di sini saya memiliki teman dan sahabat-sahabat yang memperhatikan sehingga saya merasa tidak sendirian, Alhamdulillah saya bersyukur dan berterima kasih," ujarnya.

Pertemuan ini bukanlah yang pertama. Pada Agustus 2017 lalu keduanya sempat bertemu. Saat itu Umar menyampaikan keluh kesahnya mengenai status kewarganaegaraan istrinya yang belum menjadi WNI.

Selain bertemu Umar, Suhardi juga mendatangi Yayasan Lingkar Perdamaian (YLP) di Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan. Yayasan berisi mantan napi teroris dan mantan kombatan dalam kasus terorisme. Yayasan ini dipimpin oleh Ali Fauzi Manzi adik kandung dari terpidana seumur hidup Ali Imron serta terpidana mati Muklas alias Ali Gufron dan Amrozi dalam kasus bom Bali I.

Suhardi menjelaskan kunjungan ini untuk membangun rasa kekeluargaan dengan mantan napiter seiiring memasuki bulan Ramadan. Menurutnya, kekeluargaan ini harus tetap dijaga dan ke depannya tetap memberikan manfaat positif dalam upaya penanggulangan terorisme.

Dia berharap apa yang telah dilakukan yayasan ini bisa menjadi embrio yang bagus karena telah menjadi rujukan dan role model oleh dunia internasional. "Inilah contoh yang harus kita gelorakan di Republik ini, sehingga yang dulu tidak mengenal nasionalisme dan kebangsaan, sekarang mereka cinta NKRI dan mau menjadi ambassador kita atau duta kita," tuturnya.

Sementara itu Ali Fauzi Manzi mengapresiasi upaya dan metode yang dilakukan BNPT dengan melakukan pendekatan lunak (soft approach). "Akar terorisme tidak tunggal dan bahkan saling berkaitan, oleh karenanya penanganannya tidak boleh tunggal, harus banyak aspek, perspektif dan metodologi, BNPT hadir ke sini dengan membawa resep dan obat-obat yang bagi saya sangat tepat," ucapnya.

Menurutnya, kehadiran kawan-kawannya para mantan napiter dan kombatan telah memberikan dampak cukup besar. Yang dulu memiliki kebencian kepada aparat TNI, Polri dan negara, sekarang ini kebencian itu mulai terkikis dan menghilang.

"Sekarang bisa dilihat bagaimana keakraban para mantan napiter dan mantan kombatan dengan aparat negara, ke depan harus lebih kita tingkatkan lagi," tandasnya.

(mdk/did)

TOPIK TERKAIT