Umat Tri Dharma di Jember Mandikan Patung Dewa

PERISTIWA » MALANG | 20 Januari 2020 03:31 Reporter : Muhammad Permana

Merdeka.com - Sepekan jelang Tahun Baru Imlek, kesibukan terasa di Tempat Ibadat Tri Dharma (TITD) Pay Lien San yang ada di Desa Glagahwero, Kecamatan Panti, Jember, Jawa Timur. Tahun 2020 ini, Hari Raya atau Tahun Baru Imlek 2571 jatuh pada Minggu, 25 Januari 2020 mendatang.

"Tradisi kita sebelum Imlek memang membersihkan tempat ibadah. Kita bersihkan patung dewa beserta altar serta seluruh penjuru ruangan," ujar Hery Nofem Stadiono, Wakil Ketua Pengurus TITD Pay Lien San Jember saat ditemui Merdeka.com di sela-sela tradisi pembersihan pada Minggu (19/01) siang ini.

Menurut kepercayaan umat Tri Dharma, ritual membersihkan patung dewa dan altar ini, punya makna religi tersendiri. Yakni untuk membersihkan dosa-dosa yang ditinggalkan umat yang bertobat dan berdoa di TITD.

"Namanya juga tempat ibadat, bisa didatangi siapa saja. Tidak selalu orang baik. Orang jahat juga datang ke sini untuk berdoa dan bertobat," ungkap pria yang memiliki nama alias Jap Swie Liong ini.

Mereka yang sudah berbuat dosa dan berdoa di TITD, dalam kepercayaan Tri Dharma, akan meninggalkan dosa-dosanya dalam bentuk kotoran yang mengotori patung dewa beserta altarnya.

Sedangkan para pendosa ini akan kembali dalam kondisi hati dan rohani yang bersih usai beribadat di TITD. "Karena itulah, kita sebagai pengurus, setahun sekali membersihkan patung dewa-dewa. Selama ini patung-patung dewa ini sudah banyak menerima kotoran dari orang-orang yang berdosa," papar Hery.

Dengan dibersihkan selama seharian penuh, maka diharapkan tempat ibadat ini sudah bersih saat digunakan perayaan Imlek pekan mendatang. "Istilahnya kalau dalam Islam, seperti Fitri lagi. Jadi bersih lagi saat Imlek," kata Hery.

Satu-persatu patung yang ada di dalam ruang tempat ibadat, dipindahkan ke halaman untuk dibersihkan bersama-sama. Masing-masing patung dewa, memiliki peran tersendiri, seperti dewa bumi atau dewa rejeki. Namun Hery tidak bisa memastikan, jumlah patung dewa yang ada di TITD Pay Lien San.

"Mungkin antara 50 hingga 60 patung. Di sini kan ada 16 altar. Masing-masing Altar jumlah patungnya berbeda, ada yang bisa mencapai belasan. Termasuk juga ada satu patung dewa yang memiliki beberapa pose," jelas Hery.

Bersama belasan pengurus TITD Pay Lien San, Hery bahu membahu membersihkan seluruh patung dewa beserta altarnya. Juga di segala penjuru ruang tempat ibadat. Mereka rata-rata sudah berusia paruh baya dan lanjut usia. " Kalau yang masih muda, masih sibuk dengan urusan masing-masing," ujar seorang umat Tri Dharma seraya tersenyum.

Saat perayaan hari besar Tri Dharma seperti Imlek atau Cap Gomeh, TITD Pay Lien San bisa dikunjungi ratusan pemeluk ibadah Tri Dharma, dari penjuru kota Jember. Namun pengurusnya hanya sekitar 30 orang. "Kalau yang aktif paling hanya belasan saja," ujar Hery.

Tri Dharma sendiri merupakan gabungan dari tiga aliran kepercayaan, yakni Taoisme, Konghucu dan Buddha. Hery sendiri mengaku beraliran Taoisme. "Kalau di sini tidak bisa di bedakan, mana yang Tao, Konghucu atau Buddha. Secara historis, Tao adalah guru pertamanya, yang kemudian ajarannya disebarkan oleh Konghucu. Kemudian datang ajaran Buddha (yang di bawa Sidharta Gautama) dari India," pungkas Hery. (mdk/ded)

Baca juga:
Melihat Ritual Bersih Patung Jelang Imlek
Menengok Akulturasi Tionghoa-Jawa di Klenteng Banyumas
VIDEO: Jelang Imlek, Warga Tionghoa di Malang Mandikan Patung Dewa
Jelang Imlek, Warga Tionghoa Mandikan Patung Dewa-Dewi
Jelang Imlek, Perajin Lampion di Solo Kebanjiran Pesanan
Membersihkan Patung Dewa Jelang Tahun Baru Imlek

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.