Unesa Nonaktifkan Dosen Terduga Pelecehan Seksual Mahasiswi

Unesa Nonaktifkan Dosen Terduga Pelecehan Seksual Mahasiswi
Universitas Negeri Surabaya. ©2020 Merdeka.com/unesa.ac.id
NEWS | 18 Januari 2022 20:12 Reporter : Erwin Yohanes

Merdeka.com - Pihak Universitas Negeri Surabaya (Unesa) akhirnya menjatuhkan sanksi pada terduga pelaku pelecehan seksual, seorang dosen berinisial H. Dia dijatuhi sanksi berupa penonaktifan selama 1 tahun dan penundaan pangkat serta jabatan selama 2 tahun.

Penjatuhan sanksi terhadap dosen terduga pelaku pelecehan seksual ini diungkapkan oleh Kepala UPT Humas Unesa, Vinda Maya Setianingrum. Ia menyatakan, universitas telah melakukan pengusutan kasus dugaan pelecehan seksual secara serius.

Setelah adanya temuan terkait terduga pelaku berinisial H, Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS) mengadakan serangkaian investigasi selama 7 hari dengan memanggil terduga pelaku dan mengumpulkan data dari penyintas.

Setelah menganalisis seluruh temuan serta keterangan dari para penyintas dan konfirmasi dari terduga pelaku, Unesa menetapkan sanksi tegas berupa penonaktifan pelaku berinisial H selama 1 tahun dan penundaan kenaikan pangkat dan jabatan selama 2 tahun.

Keputusan ini didasarkan pada Keputusan Rektor Nomor 304/UN38/HK/KP/2016 tentang Kode Etik Dosen Universitas Negeri Surabaya.

“Dasar pertimbangan pengambilan keputusan ini ditetapkan setelah seluruh data terkumpul. Selanjutnya, rekomendasi sanksi diteruskan sesuai dengan prosedur yang berlaku. Terkait sanksi yang diberikan merupakan hasil rapat antara Senat Komisi Etik, pimpinan dan Satgas pada Selasa 18 Januari 2022,” terangnya.

2 dari 3 halaman

Alasan Tak Dibawa ke Ranah Hukum

Dikonfirmasi mengapa tidak membawa kasus ini ke ranah hukum, Vinda mengatakan bahwa hal tersebut diserahkan pada korban. Jika korban hendak membawa kasus ini ke ranah hukum, maka pihaknya akan melakukan pendampingan.

"Jika korban melapor kami tentu akan mendampingi. Tapi katanya mereka (korban) masih akan melihat dulu keputusan di internal (Unesa) seperti apa," tegasnya.

Terhadap kasus yang lain, Unesa telah memiliki layanan psikologi dan advokasi hukum yang dapat dimanfaatkan untuk pendampingan korban.

“Ini semua sifatnya opsional, tentunya Tim PPKS Unesa juga akan menawarkan penggunaan layanan ini untuk penyintas,” ujar dia.

3 dari 3 halaman

Penanganan Sesuai Permendikbud

Mengenai terduga pelaku kasus pelecehan seksual yang lain, saat ini Tim Satgas PPKS Unesa sedang dalam proses melakukan investigasi dengan mengumpulkan laporan yang masuk melalui Hotline Satgas PPKS Unesa serta melakukan pemanggilan dan investigasi serupa kepada terduga pelaku.

Ke depannya, sesuai dengan amanat Permendikbud Nomor 30 tahun 2021, Tim Satgas PPKS akan melakukan penanganan kekerasan seksual saat ini dan selanjutnya akan fokus melakukan program pencegahan kekerasan seksual.

Unesa mengucapkan terima kasih atas partisipasi berbagai pihak dalam pengusutan kasus ini. “Khususnya pada para penyintas yang telah berani untuk berbagi cerita. Ini menjadi momentum untuk perbaikan lembaga,” tegasnya.

(mdk/gil)

Baca juga:
Kronologi Pelapor Kasus Pelecehan Seksual Diduga Dilecehkan Kasat Reskrim Boyolali
Presiden Jokowi Punya Waktu 60 Hari Kirim Surpres ke DPR soal RUU TPKS
Cegah Pelecehan Seksual di Lembaga Pendidikan, Wali Murid Harus Ketat Pengawasan
Dituntut Hukuman Mati, Herry Wirawan dan Kuasa Hukum Siapkan Pledoi
Tersangka Pencabulan Mahasiswi, Dekan Nonaktif UNRI Ditahan Petugas
Dugaan Pelecehan Seksual, Kasat Reskrim Polres Boyolali Dicopot
Ada Penyalin Cahaya, 6 Film yang Usung Isu Pelecehan Seksual buat Membuka Mata Publik

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami