Upaya Membentengi Generasi Milenial dari Pengaruh Paham Radikal Negatif

PERISTIWA | 30 April 2019 16:21 Reporter : Didi Syafirdi

Merdeka.com - Kemajuan teknologi dan informasi tidak hanya berdampak positif, tetapi memiliki dampak negatif terutama menyangkut sikap intoleransi dan radikalisme mengarah pada terorisme. Generasi milenial harus terus diberikan pendidikan karakter untuk membentengi diri dari serangan hal-hal negatif tersebut.

"Masa depan Indonesia berada di pangkuan generasi milenial. Dalam mencapai negara sejahtera, damai, adil, dan makmur sebagaimana diamanatkan konstitusi maka generasi milenial harus terus diberikan pengajaran tentang pendidikan karakter, baik wawasan kebangsaan maupun ideologi Pancasila," ujar Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) Syaiful Bakhri dalam keterangannya, Selasa (30/4).

Menurutnya, saat ini generasi muda senang melihat perubahan. Karena itu, perubahan yang cenderung negatif harus dieliminir, sementara perubahan yang positif harus digalakkan. Dengan penguatan karakter, otomatis proses eliminasi pengaruh negatif ini akan berjalan baik.

Ia sepakat Hari Pendidikan Nasional (Hardikans) 2 Mei 2019, harus dijadikan momentum untuk menggelorakan penguatan karakter bangsa melalui pendidikan formal maupun non formal. "Apalagi saat ini bangsa Indonesia tengah menghadapi ancaman intoleransi, radikalisme, dan terorisme."

Ia mengapresiasi langkah Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dengan program duta damai dunia maya hingga Asia Tenggara. Menurutnya, program itu sangat tepat untuk mencetak generasi muda sebagai duta perdamaian melawan propaganda radikalisme dan terorisme di dunia maya.

"Duta damai dunia maya menjawab sebuah tantangan terkait radikalisasi di dunia maya. Utamanya inovasi dan kreatifitas melalui media siber sekaligus tonggak dalam perubahan menuju peradaban industri maupun pendidikan. Dengan inovasi dan kreativitasnya, generasi milenial bisa diandalkan untuk menghasilkan konten dan narasi damai," paparnya.

Menurutnya, model duta damai dunia maya ini sangat tepat karena anak muda memiliki kreativitas untuk membantu program-program pencegahan dengan bisa langsung merespons apa yang terjadi di masyarakat dunia.

Syaiful menilai, salah satu efek negatif dari media sosial adalah masifnya kelompok radikal melakukan propanganda. Dan itu target penyebaran paham dan rekrutmen itu adalah generasi milenial. Dengan demikian, penguatan karakter milenial harus terus dilakukan di berbagai lini, mulai dari keluarga, lingkungan, sekolah, maupun tempat umum.

"Intinya, kalau pikiran dan jiwa anak muda dikuasai hawa damai, hawa NKRI, maka aspek negatif berupa intoleransi, radikalisme, dan terorisme akan hilang," tandasnya.

Baca juga:
Merangkul Generasi Milenial untuk Sebarkan Konten Sejuk di Dunia Maya
Lawan Propaganda Terorisme dengan Konten Damai di Dunia Maya
Kunjungi Masjid Al Noor, Pangeran William Disambut PM Jacinda Ardern
Menhan Ingatkan Prajurit Kodam Siliwangi Ancaman Terhadap Pancasila
Intelijen: Dua dari Tujuh Pelaku Serangan Bom di Sri Lanka Anak Politikus Kaya
Usai Teror Bom, Presiden Sri Lanka Rombak Total Institusi Keamanan

(mdk/did)

TOPIK TERKAIT