Upaya Pembentukan Kabupaten Bogor Barat Dinilai Sulit Terwujud

PERISTIWA | 14 November 2019 17:15 Reporter : Rasyid Ali

Merdeka.com - Dosen Fakultas Arsitektur Lanskap dan Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti, Yayat Supriatna mengatakan, upaya Pemerintah Kabupaten Bogor mendesak pencabutan moratorium Daerah Otonomi Baru (DOB) akan percuma. Bahkan dia menyebut upaya pembentukan DOB Kabupaten Bogor Barat adalah mimpi.

"Kalau posisi keuangan negara belum siap bagaimana? Ekonomi global saja turun terus. Pertumbuhan negara lain juga terancam. Kalau ini didesak terus hanya sebatas tujuan politis, bagaimana membangun kesejahteraan," kata Yayat, Kamis (14/11).

Karena, kata Yayat, alasan paling mendasar dalam membuat DOB, khususnya Kabupaten Bogor Barat adalah meningkatkan kesejahteraan serta mengentaskan kemiskinan.

"Bukan persoalan politis. Sudah lama isu pembentukan kabupaten baru ini tapi tidak ada perubahan signifikan tuh," kata Yayat.

Dia mengungkapkan, jika tujuan Pemerintah Kabupaten Bogor sebagai daerah induk, dalam membentuk Kabupaten Bogor Barat untuk menyejahterakan masyarakat, perlu dibarengi dengan beragam strategi.

"Ya apa strateginya untuk mengentaskan kemiskinan, apa strategi untuk mengembangkan wilayah, pengelolaan sumber daya manusianya bagaimana. Bukan sekedar membantu, tapi apa strateginya. Kalau tanpa visi misi dan gizi yang jelas, buat apa mimpi," tegasnya.

"Intinya strategi apa yang mau dibawa untuk memajukan Bogor Barat dan Timur. Bangun jalan tambang saja enggak selesai, kemacetan masih ramai, masih banyak penguasaan oleh kelompok tertentu, kalau pemekaran hanya buat meningkatkan raja-raja lokal, masyarakat kapan bisa sejahtera," katanya.

Menurut Yayat, kesejahteraan masyarakat bergantung pada sumber daya yang dimiliki masing-masing wilayah. "Belajar dari daerah lain yang miskin tapi bisa maju," katanya.

1 dari 1 halaman

Kemiskinan Tinggi

Kabupaten Bogor sudah sangat lama ingin membentuk Kabupaten Bogor Barat. Namun, upaya itu kini terbentur kebijakan moratorium dari Presiden Joko Widodo. Jika menilik pada data, pemekaran daerah ini menjadi penting bagi Bumi Tegar Beriman.

Berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappedalitbang) Kabupaten Bogor, pada 2018 lalu terdapat sekitar 41 ribu rumah tangga sangat miskin di 14 kecamatan calon anggota DOB Kabupaten Bogor Barat, dari keseluruhan 76 ribu rumah tangga sangat miskin se-Kabupaten Bogor.

Pemerintah Kabupaten Bogor pun telah mengusulkan anggaran Rp 40 miliar dalam RAPBD 2020, untuk membebaskan 40 hektare lahan calon ibu kota Kabupaten Bogor Barat di Kecamatan Cigudeg.

Dari 14 kecamatan, Rumpin dan Sukajaya menduduki peringkat teratas dengan status rumah tangga sangat miskin terbanyak. Di Rumpin, tercatat 4.117 rumah tangga dan di Sukajaya 4.114 rumah tangga sangat miskin.

"Hingga tahun 2015 (sebelum moratorium), tercatat ada 424.314 jiwa sangat miskin atau 76.175 rumah tangga," kata Kepala Bidang Kesejahteraan Sosial Bappedalitbang Kabupaten Bogor, Emy Sriwahyuni.

Namun, data itu perlu dimutakhirkan kembali untuk meyakinkan pemerintah pusat agar segera mencabut moratorium.

"Kami harus merevisi beberapa persyaratan yang masuk ke Kementerian Dalam Negeri. Karena ada perubahan seiring berjalannya waktu. Karna data yang kami sampaikan 2013. Nah dari 2013 ke 2019 terjadi perubahan. Seiring berjalannya waktu, seperti jumlah penduduk, PAD, aset, itu semua kan bertambah, itu yang harus kita perbaiki," Ketua Dewan Penasihat Komite Persiapan Pembentukan Kabupaten Bogor Barat, Haryanto Surbakti.

"Terlapas kapan pemekaran disetujui presiden, yang jelas kita harus siap-siap. Jangan sampai saat moratorium dicabut, kita belum siap secara administrasinya, makannya harus kita perbaharui," jelasnya. (mdk/cob)

Baca juga:
Gerindra akan Tanya Soal Pemekaran Papua Saat Rapat Komisi II dengan Mendagri
Menko Polhukam Anggap Wajar Ada Penolakan Rencana Pemekaran Papua
Kapolda Papua Sebut Pemekaran Wilayah Mempermudah Kesejahteraan Rakyat
Pemkab Bogor Harap Jokowi Cabut Moratorium Pembentukan Daerah Otonomi Baru
Jokowi: Bukan Saya Memerintahkan Pemekaran Papua
Pemprov Sumut Evaluasi 18 Calon Desa Baru yang Bakal Dimekarkan

TOPIK TERKAIT