Wadanyon Kopassus: Komandan tak tahu penyerangan LP Cebongan

Wadanyon Kopassus: Komandan tak tahu penyerangan LP Cebongan
Sidang kasus Lapas Cebongan. ©2013 Merdeka.com/parwito
PERISTIWA | 2 Juli 2013 16:12 Reporter : Parwito

Merdeka.com - Komandan Batalyon (Danyon) Grup 2 Kopassus Kandang Menjangan, Kartosuro, Sukoharjo, Jawa Tengah mengaku sama sekali tidak mengetahui penyerangan Lapas Kelas IIB Cebongan, Sleman, DIY, pada Sabtu 23 Maret 2013 dini hari lalu. Saat penyerangan, Danyon sedang berada di Bali dalam rangka tugas alias dinas.

"Ketika terjadi penyerangan pada 23 Maret 2013 dini hari, Danyon berada di Bali. Saya selaku Wadanyon berada di Jakarta sejak awal Maret hingga 7 April untuk pembekalan Sesko," ungkap Wakil Komandan Batalyon (Wadanyon) Grup 2 Kopassus Mayor Ricard Sangaji dalam sidang dengan terdakwa Serma Rokhmadi, Serma Mohammad Zaenuri, dan Serma Sutar di Pengadilan Militer II/11 Yogyakarta, siang tadi.

Ricard mengaku meski berada di Jakarta, dirinya selalu memantau kegiatan dan peristiwa yang terjadi. Dia juga menyatakan terdakwa II (Mohammad Zaenuri) dan terdakwa I (Rochmadi) bertugas di bagian intelijen. Sementara terdakwa III (Sutar) bertugas di provost.

Zaenuri dan Rochmadi sudah mengetahui Serda Ucok selaku eksekutor yang menewaskan empat tahanan titipan Polda DIY di Lapas Cebongan pergi ke Yogyakarta.

"Terdakwa II dan terdakwa I pergi ke Yogyakarta mencari informasi apa yang dilakukan Ucok dan kawan-kawannya. Tetapi, terdakwa II dan I kehilangan jejak sehingga tidak tahu apa yang dilakukan Ucok dan kawan-kawannya. Mereka kembali ke markas tanpa membawa hasil," ungkapnya.

Ricard mengaku tidak mendapatkan informasi sehingga tidak mengetahui bila Ucok dan rekan-rekannya melakukan penyerangan ke Lapas Cebongan.

"Saya melihat tindakan terdakwa II dan I ini salah karena tidak melapor ke atasan. Informasi yang mereka dapat kurang. Tugas intel itu mengumpulkan data yang akurat, bahasa kami A-1," jelasnya.

Ricard menerangkan jika kejadian informasi itu dilaporkan ke atasan, pasti atasan akan menanyakan dengan rinci, dengan siapa, tujuannya apa, apa yang dilakukan, dan seterusnya.

"Saat kembali dari Jakarta saya meminta penjelasan langsung dari terdakwa II dan I, maupun terdakwa III. Namun, ketiganya sudah berada di Denpom IV/Diponegoro karena dituding terlibat penyerangan Lapas Cebongan. Saya baru tahu kalau ada prajurit kami yang terlibat penyerangan Lapas Cebongan pada 30 Maret, saat tim investigasi melaporkan hasilnya. Itu pun mengetahui dari media televisi yang menyiarkan langsung," terangnya.

Selain Wadanyon, Kasi Intel Grup 2 Kopassus Kartosuro, Kapten Beni Anggar Angasworo, turut dihadirkan dalam sidang yang dipimpin Kadinmil Letkol Faridah Farid itu. Prajurit bagian intel lainnya, Wahyu W, juga dihadirkan dalam persidangan.

Dalam persidangan itu, tiga terdakwa dituding bersalah karena tidak melaporkan peristiwa yang diketahui ke atasan mereka. Ketiganya juga dijerat pasal berlapis karena dituding turut serta dalam penyerangan Lapas Cebongan Sleman, DIY. (mdk/ian)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami