Walhi Curiga Aktivis Golfrind Tewas Karena Kekerasan Bukan Kecelakaan

PERISTIWA | 10 Oktober 2019 12:51 Reporter : Yunita Amalia

Merdeka.com - Aktivis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) dan pegiat HAM menaruh curiga adanya kesengajaan kekerasan yang menyasar Golfrid Siregar, seorang aktivis Walhi Sumatera Utara. Aktivis Walhi nasional, Zenzi Suhadi menuturkan kecurigaan didasari beberapa ancaman yang diterima Golfrid sebelum akhirnya ditemukan dalam kondisi kritis di Flyover Jamin Ginting, Kamis (3/10) dini hari.

"Kami menduga almarhum bukan meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Namun karena mengalami tindak kekerasan yang mengakibatkan kematian," kata Zenzi saat menggelar konferensi pers di kantor Walhi, Jakarta Selatan, Kamis (10/10).

Zenzi menilai kekerasan terhadap Golfrid boleh jadi menimpa dengan pertimbangan saat ini ia merupakan advokat Walhi dalam dua kasus yakni menggugat Gubernur Sumatera Utara karena tetap memberikan izin terhadap PT. NSHE dan pelaporan perwira polisi di Polda Sumut karena menghentikan penyelidikan kasus pemalsuan tanda tangan ahli dalam kasus PLTA Batang Toru ke Mabes Polri.

Berdasarkan informasi dari aktivis Walhi di Sumatera Utara, sebelum ditemukan kritis di Flyover Jamin Ginting, Golfrid kerap kali menerima ancaman telepon. Umumnya, bentuk ancaman tersebut menyeret-nyeret keselamatan keluarga.

"Masih sayang enggak sama keluarga? Nah ini ancaman yang sering diterima," kata Zenzi.

Tidak hanya itu, bentuk lain ancaman yang diterima Golfrid disebutkan adalah pengintaian oleh pihak tertentu. Tiap kali akan berangkat melakukan investigasi terhadap adanya dugaan pelanggaran HAM dan kerusakan lingkungan serius, ada orang tak dikenal mengikuti kemana pun Golfrid pergi.

Kecurigaan menguat saat polisi justru mengubah pernyataannya. Semula, Golfrid disebut korban kecelakaan lalu lintas. Belakangan, pernyataan itu berubah menjadi korban perampokan. Informasi korban perampokan itu diterima melalui Walhi di Sumatera Utara.

Bahkan, Polresta Medan disebut telah menetapkan dua orang perampok Golfrid sebagai tersangka.

"Informasi baru, polisi sudah menetapkan dua tersangka dari tiga orang yang membawa Golfrid ke rumah sakit. Dugaan perampokan. Ini saya kira kasusnya diarahkan ke perampokan," kata Papang Hidayat, perwakilan Amnesty International Indonesia.

Pernyataan tersebut dinilai Papang merupakan segregasi terhadap pejuang HAM dan lingkungan hidup.

Papang mengatakan, adalah hal janggal jika peristiwa yang dialami Golfrid adalah perampokan. Misalnya, barang-barang milik Golfrid seperti tas, dompet, ponsel, hilang kecuali sepeda motor.

"Sepeda motor barang yang mahal sebagai objek perampokan," ujarnya.

Atas dasar itu, Walhi bersama YLBHI, Amnesty International Indonesia, Greenpeace Indonesia, KontraS menuntut pengusutan tuntas penyebab kematian Golfrid oleh Mabes Polri.

Walhi dan kawan-kawan mengharapkan penanganan ini dipegang Mabes Polri mengingat adanya conflict of interest oleh Polda Sumatera Utara.

Baca juga:
Polisi Tetapkan Tiga Tersangka Pencurian Barang Milik Aktivis Walhi Golfrid
Olah TKP Selesai, Kasus Kematian Aktivis Walhi di Medan Masih Gelap
Polisi Olah TKP Aktivis Lingkungan Golfrid Siregar di Medan Ditemukan Tewas
Keluarga Berharap Kematian Aktivis Lingkungan Golfrid Siregar Diusut Tuntas
Jenazah Golfried Selesai Diautopsi, Segera Dimakamkan

(mdk/rhm)