Wali Kota Ambon: Kerukunan Aset Utama dalam Percepatan Menjadi Kota Inklusif

PERISTIWA | 20 November 2019 17:41 Reporter : Haris Kurniawan

Merdeka.com - Wali Kota Ambon Richard Louhenapessy mengungkapkan, kerukunan menjadi pondasi utama hingga ditetapkan sebagai kota inklusif oleh UNICEF pada tahun 2014. Hal itu disampaikannya di sela-sela kegiatan Forum Kemitraan Multi-Pihak 2019 di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Rabu (20/11).

Dirinya menceritakan, Kota Ambon pernah mengalami konflik sosial. Namun, karena komitmen yang kuat untuk bersatu, akhirnya konflik itu dapat diatasi. Dengan latar belakang ini, Richard menduga hal itu menjadi alasan UNICEF mencanangkan Kota Ambon sebagai kota inklusif.

"UNICEF melihat bagaimana Ambon harus menjadi prototipe kota-kota seperti itu. Kita menyambutnya dengan semangat normatif dalam bentuk Perda, lalu yang paling utama adalah soal komitmen. Karena kalau hanya dengan verbalistis tanpa ada goodwill tanpa komitmen, saya kira tidak akan sampai ke situ (menjadi kota inklusif)," ujarnya saat berbincang dengan Merdeka.com.

Selain itu, kata Richard, fenomena sosial yang baik seperti penyamaan hak disabilitas juga menjadi landasan Kota Ambon menjadi inklusif. Lanjutnya, kerukunan yang saat ini ada di Kota Ambon juga menjadikan kota ini sebagai kota percontohan antarumat beragama yang terbaik di Indonesia, sebagaimana diumumkan Kementerian Agama.

"Nah, salah satu indikator yang paling menonjol ialah soal kerukunan sosial yang ada di Ambon. Januari 2019 ini Kemenag memberikan Ambon sebagai kota percontohan antarumat beragama yang terbaik di Indonesia."

"Artinya apa? Nilai-nilai kemanusiaan itu menjadi salah satu fenomena sosial yang sangat menonjol di Ambon. Toleransi, tidak ada radikalisme, kemudian solidaritas sosial itu menjadi contoh yang baik dan modal kita sebetulnya untuk mendorong perwujudan kota inklusif," tuntasnya.

(mdk/hrs)

TOPIK TERKAIT