Wali Kota Tegal: Yang Saya Lakukan untuk Menjaga Warga Saya

Wali Kota Tegal: Yang Saya Lakukan untuk Menjaga Warga Saya
PERISTIWA » MALANG | 28 Maret 2020 14:16 Reporter : Wilfridus Setu Embu

Merdeka.com - Wali Kota Tegal Dedy Yon Supriyono memberikan penjelasan terkait langkah isolasi wilayah yang dia lakukan. Aspek kemanusiaan dan kesehatan masyarakat menjadi poin pertimbangan utama.

"Hal ini saya lakukan ini untuk protect warga saya. Karena kita sekarang, yang tadinya darurat siaga, kita sudah menetapkan zona merah atau warganya yang status positif," kata dia dalam diskusi SmartFM bertajuk 'Kerja Efektif Menghadapi Corona', Sabtu (28/3).

Dia sadar bahwa banyak warganya yang merantau di Jakarta, daerah dengan jumlah kasus positif Covid-19 paling besar se-Indonesia sekitar 50 persen. Selain itu, Kota Tegal merupakan daerah transit bagi daerah sekitarnya.

"Kota Tegal sebagai transit city bagi daerah tetangga seperti Brebes, Kabupaten Tegal, dan Pemalang yang banyak warganya merantau di Jakarta. Ini pada pulang," jelas Dedy.

"Makanya saya membikin pembatas dengan istilah local lockdown. Isolasi wilayah dengan keadaan darurat mereka harus dikarantina, di kotanya, tidak boleh keluar, dan juga tidak gampang orang masuk ke kota Tegal melalui satu pintu, ini harus dicek suhu tubuhnya. Dan nanti ada beberapa titik, nanti harus menunjukkan identitas, KTP, SIM, dan sebagainya agar kalau terjadi yang tidak diinginkan, kita melacak mudah," lanjut dia.

Dia mengakui, bahwa pada mulanya langkah-langkah pembatasan seperti imbauan jaga jarak mendapatkan penolakan dari masyarakat. Namun situasi berbalik ketika ditemukan kasus positif Covid-19. Dukungan dari kemudian mengalir kepada Pemda.

"Setelah tahu warganya ada yang positif, mereka itu merasa tidak nyaman kalau tidak dibatasi. Karena Kota Tegal yang tadi saya sampaikan ini sebagai transit city untuk daerah yang lain di kota tegal," ungkapnya.

Berbagai langkah persiapan sudah dijalankan pihaknya dalam menghadapi isolasi wilayah. Salah satunya memastikan ketersediaan bahan pangan bagi masyarakat. Pihaknya sudah berkomunikasi dengan Bulog untuk memastikan ketersediaan pasokan untuk 3 hingga 4 bulan ke depan.

"Di Kota Tegal sendiri masyarakatnya rata-rata ini mampu. Untuk angka kemiskinan sangat kecil. Masyarakat Tegal ini mampu. Kita kalau melihat kebutuhan masyarakat, kita sudah menginstruksikan Dinas Sosial untuk masyarakat atau tidak mampu ini. Persiapan ya dana yang tidak terduga untuk bencana dapat digunakan," urai dia.

"Selain itu saya dan jajaran seluruh ASN, anggota DPRD, saya berencana mengkoordinasi mereka semua menyisihkan pendapatan membantu masyarakat tidak mampu," terang Dedy.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menilai langkah Wali Kota Tegal dilatarbelakangi oleh motivasi yang baik, yakni untuk membatasi pergerakan masyarakat. Mengingat jaga jarak merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah dan memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Mulanya, jelas Ganjar, Dedy menutup alun-alun Kota Tegal agar tidak lagi digunakan sebagai tempat berkumpul. "Alun-alun di sana dipakai sebagai tempat rendesvous, tempat berkumpul, ngobrol. Luar biasa lah. Itu kan tempat penularan yang paling gampang. Maka kemudian alun-alun ditutup, listrik dimatikan agar tidak terjadi pertemuan warga. Sampai tingkat ini kan bagus,"

Setelah ditemukan kasus positif Covid-19, maka langkah pencegahan Pemkot Tegal dia akui makin luas. "Setelah itu ada positif satu kita lakukan tracing sumbernya dari mana. setelah itu Pak Wali Kota kayaknya gemas. Kalau gitu saya tutup. Istilahnya kemudian diambil yang agak seram, lockdown padahal awalnya itu lockdown alun-alun. Alun-alun saja di-lockdown. Kemudian sekarang bergeser," tutur Ganjar.

"Kemudian saya tanya ternyata enggak, mengurangi perbatasan sehingga jalan-jalan di dalam kota dibatasi, ditutup sampai level ini sebenarnya masih oke kok. Saya klarifikasi bukan lockdown yang kemudian dibicarakan oleh teman-teman media menjadi seram. Intinya dari Pak Wali Kota bagus. Hanya mengurangi pergerakan massa," imbuhnya.

Ganjar sendiri mengakui masih banyak warganya yang cuek terhadap anjuran pemerintah untuk jaga jarak. Dia bahkan sudah mencoba berbagai cara untuk mengedukasi masyarakat.

"Masih banyak yang cuek, makanya saya cerewet di Instagram saya di medsos saya, tiap hari saya salto dengan berbagai cara untuk meningkatkan kesadaran, yuk tidak mudik, please mohon maaf dengan sangat kalau anda mencintai keluarga anda kakek nenek saudara anak istri tolong jangan pulang," tandasnya. (mdk/cob)

Baca juga:
Tutup Akses Jalan Pakai Beton, Ini 6 Fakta Tegal Lakukan Local Lockdown
Ganjar Sebut Ruang Gerak Warga Tegal Dibatasi untuk Cegah Penyebaran Corona
Tegal Berlakukan Local Lockdown, Ini 5 Fakta Terbaru
Beda Penerapan Lockdown Local di Tegal dengan Kota-Kota di Luar Negeri
Wali Kota Tegal akan Tutup Jalur Perbatasan Pakai Pembatas Beton
5 Fakta Kebijakan Local Lockdown, Upaya Kota Tegal untuk Cegah Corona

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Agar Jiwa Tak Terguncang Karena Corona

5