Wantimpres: Bangsa Kita Menjunjung Tinggi Toleransi Antar-Semua Golongan

PERISTIWA | 28 Agustus 2019 17:51 Reporter : Didi Syafirdi

Merdeka.com - Sentimen suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) menjadi momok berbahaya bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Isu tersebut mampu menyulut terjadinya kekerasan bahkan anarkisme.

Di era digital sekarang ini, distribusi isu SARA menjadi sangat liar. Seperti yang terjadi saat pelaksanaan Pilpres dan kasus Papua. Karena itulah, mencegah isu SARA sangat penting khususnya di dunia maya.

"Itu memang memerlukan sikap bersama, sikap waspada bersama kita semua, sikap dewasa kita dalam kehidupan bermasyarakat bangsa ini," ujar anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Agum Gumelar dalam keterangannya, Rabu (28/8).

"Karena sejak kita merdeka para pejuang kemerdekaan ini kan sudah bertekad dan bersepakat untuk mendirikan sebuah bangsa atau negara yang namanya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang terdiri dari multi etnis, multi agama, multi budaya dan bertekad menjadikan Pancasila sebagai alat pemersatunya," tambahnya.

Menurut Agum, kalau itu semua dicamkan dan dihayati dengan baik bangsa Indonesia akan sulit terpengaruh hal-hal negatif seperti SARA itu. Hal itu dinilai sebagai tugas seluruh komponen bangsa.

"Ke depan bagaimana kita semua bisa merajut persatuan dengan berpedoman kepada Pancasila. Itu yang harus kita lakukan," kata mantan Menteri bidang Politik, Sosial dan Keamanan (Menko Polsoskam) ini.

Untuk itu, mantan Komandan Kopassus TNI AD ini mengimbau kepada generasi muda harus bisa mengenali sejarah bangsa, di mana tonggak sejarah pada tahun 1945 saat Indonesia merdeka dan hasil keputusan para pejuang kemerdekaan yang sepakat mendirikan NKRI. Selain itu, para pendiri bangsa juga bersepakat menjadikan Pancasila sebagai ideologi dan alat pemersatunya.

Mantan Gubernur Lemhanas ini menilai, sejarah harus diketahui dan dikenali oleh para generasi muda bangsa. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenali sejarah bangsanya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawan.

"Nah, inilah yang harus ditanamkan kepada para generasi muda kita, bahwa bangsa kita ini menjunjung tinggi toleransi antar-semua golongan, agama dan etnis yang ada. Generasi muda jangan mudah terpancing hasutan, apalagi melalui media sosial," tuturnya.

Ia mengungkapkan, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi memiliki andil besar dalam penyebaran isu SARA dan intoleransi. Menurutnya, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sebenarnya memiliki dampak positif yang seharusnya bisa dimanfaatkan secara bijak untuk kemajuan bangsa dan negara. Namun di sisi lain, juga berdampak negatif dengan beredarnya berita ujaran kebencian dan hoaks di media sosial.

"Hal positif dari perkembangan teknologi ini banyak, tetapi masalahnya ada sebagian kelompok dan masyarakat yang justru memanfaatkan sisi negatifnya," tutur mantan Pangdam VII/Wirabuana ini.

Hal ini, tegas Agum, harus dilawan untuk menjaga persatuan dan perdamaian. Seluruh komponen bangsa harus dewasa menyikapinya. Apalagi dalam negara demokrasi seperti Indonesia memerlukan kedewasaan bagi rakyatnya untuk bisa mengerti tentang demokrasi. Peran tokoh bangsa dan masyarakat menjadi penting untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat awam.

Selain itu, menurut alumni Akademi Militer Nasional (AMN) tahun 1969 ini, peran dari pemerintah melalui Badan Pembinaan ideologi Pancasila (BPIP) juga harus bisa menyebarluaskan Pancasila agar bisa menjadi sesuatu yang diyakini, lalu diresapi dan kemudian diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

"Janganlah menjadikan Pancasila itu sebagai retorika belaka atau sebagai jargon belaka. Ini yang tidak boleh terjadi. Jadi tugas BPIP ke depan teramat besar dan berat untuk bisa mempersatukan bangsa ini yang kemarin masyarakatnya sempat dibuat seperti itu. Salah satunya mencegah dan menolak isu SARA ini agar tidak berkembang di masyarakat terutama melalui media sosial," pungkasnya.

(mdk/did)