Warga Halmahera Barat Trauma Usai Gempa Magnitudo 7,1

PERISTIWA | 15 November 2019 13:48 Reporter : Ya'cob Billiocta

Merdeka.com - Warga Jailolo di Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara (Malut), masih trauma setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,1. Salah seorang warga, Viky Dasmasella mengatakan, masyarakat setempat sudah kembali dari dataran tinggi pascagempa magnitudo 7,1. Namun gempa susulan dengan guncangan bervariasi hingga Jumat siang mengakibatkan rasa trauma.

"Aktivitas perkantoran di Jailolo berlangsung sebagaimana biasanya karena warga telah kembali ke masing-masing rumah. Hanya saja gempa susulan masih berlangsung sehingga masyarakat trauma," katanya, Jumat (15/11).

Dia mengakui, gempa magnitudo 7,1 guncangannya terasa sangat kuat sehingga warga Jailolo berlarian ke dataran tinggi karena khawatir terjadi tsunami, menindaklanjuti peringatan dini BMKG.

"Guncangan gempa sangat kuat sehingga masyarakat khawatir terjadi tsunami karena magnitudo 7,1 terjadi gelombang pasang tersebut," kata Viky.

Disinggung kerusakan, dia menjelaskan terjadi keretakan rumah-rumah warga serta fasilitas umum maupun sosial yang sedang didata BPBD.

"Guncangan gempa kuat tersebut pasti menimbulkan keretakan bangunan dan masih dihimpun datanya," ujar Viky.

1 dari 1 halaman

Sekolah Diliburkan

Satuan Pendidikan Kecamatan Pulau Batang Dua, Kota Ternate, Provinsi Malut menyatakan sebagian besar aktivitas sekolah di daerah itu diliburkan pascagempa.

"Sebagian besar aktivitas belajar-mengajar di Batang Dua diliburkan, karena saat gempa warga memilih lari menyelamatkan diri ke daerah ketinggian, karena khawatir adanya gempa susulan," kata Kepala Satuan Pendidikan Kecamatan Pulau Batang Dua, Kota Ternate, Naftali Herung.

Menurut Naftali, sekolah yang memilih untuk diliburkan sebagian besar berada di dataran rendah dan pesisir pantai, baik itu di Pulau Mayau maupun Pulau Tifure.

Sebab, kata dia, warga yang tinggal di daerah tersebut sebagian besar memilih mengungsi ke dataran tinggi, sehingga pihaknya tidak mewajibkan sekolah untuk tetap beraktivitas, karena warga dan siswa masih diselimuti kekhawatiran terjadinya gempa susulan.

Naftali mengakui, sebagian besar sekolah yang diliburkan itu di antaranya SMAN Batang Dua, tiga sekolah SMP sederajat yang berada di Pulau Tifure dan dua sekolah di Mayau, empat SD di Mayau dan dua sekolah berada di Pulau Tifure.

"Sejumlah kepala sekolah telah menghubungi, tetapi saya meminta kepada mereka untuk menunggu perkembangan resmi dari BMKG maupun pemerintah daerah terkait dengan gempa bumi berkekuatan 7,1 magnitudo di Malut," kata Naftali. (mdk/cob)

Baca juga:
Belasan Rumah dan 3 Tempat Ibadah di Maluku Utara Rusak Akibat Gempa
Pengidap Sakit Jantung di Sulut Meninggal Usai Gempa Magnitudo 7,1
Aktivitas Warga di Halmahera Barat, Ternate dan Bitung Kembali Normal
BMKG Catat 79 Gempa Susulan Guncang Maluku Utara
Gempa di Maluku Utara Akibat Penyesaran dalam Lempeng Laut
Kurun Waktu Sekitar 30 Menit, Jailolo Diguncang 3 Kali Gempa

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.