Warga Keluhkan Aturan Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Rumah Susun

PERISTIWA | 26 November 2019 16:18 Reporter : Ya'cob Billiocta

Merdeka.com - Sejumlah penghuni apartemen mengeluhkan terbitnya Peraturan Menteri (Permen) PUPR No 23 tahun 2019 tentang Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Satuan Rumah Susun (P3SRS). Mereka mengungkapkan ketidaksetujuannya terhadap aturan baru tersebut.

Umumnya para pemilik atau penghuni apartemen atau rusun khawatir jika kemunculan aturan tersebut akan berdampak pada pelayanan prima yang selama ini mereka dapatkan.

"Dikelola oleh pengembang saja masih ada yang kurang nyaman, apalagi jika nanti diserahkan kepada pengurus perhimpunan. Bisa-bisa kalau kita komplain malah berantem," kata Denny Irawan, salah satu penghuni Apartemen Aeropolis di wilayah Kota Tangerang, Selasa (26/11).

Menurut dia, perhimpunan sebaiknya hanya menjadi perwakilan penghuni saja, tidak menjadi pengatur pengelolaan rusun.

"Menjadi pengelola apartemen terlihat mudah memang, tetapi menjadi profesional itu tidak semudah diucapkan. Karena praktiknya sangat jauh berbeda dengan kenyataan," tambahnya.

Sementara itu, Ayu Wulandira penghuni Apartemen Kalibata City Jakarta Selatan juga menyatakan khawatir pengelolaan rusun diambil alih kepada pengurus perhimpunan.

"Saya melihat di aturan baru ini maksudnya pemerintah baik. Tetapi umumnya penghuni apartemen itu mencari kenyamanan dan kemudahan. Saya misalnya memilih apartemen dengan melihat developer-nya, kalau tahu pengelolanya bukan developer ya enggak mau saya," tuturnya.

Sementara itu, pengamat properti Erwin Kallo mengatakan tidak mau menyalahkan protes para penghuni tersebut. Karena memang salah satu keputusan konsumen membeli apartemen adalah melihat track record pengembang.

"Karena bagaimanapun nama baik pengembang juga akan memengaruhi keputusan pembelian. Saya pribadi juga pasti akan memasukkan faktor tersebut dalam pertimbangan sebelum melakukan pembelian," katanya.

Soal pengelolaan, memang betul tidak berarti ketika diserahkan kepada para pemilik atau penghuni (tanpa melibatkan pengembang), berarti akan menjadi lebih baik saat dikelola pengembang. Namun belum tentu terbukti juga bahwa ketika diambil alih oleh para pemilik atau penghuni, kemudian pengelolaan pasti lebih buruk.

"Jadi menurut saya, yang penting adalah peraturan harus membangun suatu sistem hukum yang jelas terkait P3SRS dan bagaimana pengelolaan suatu apartemen harus dilakukan. Misalnya aspek keterbukaan terhadap laporan keuangan atau terhadap laporan pengelolaan. Selain itu, aspek kehati-hatian, seperti audit terhadap laporan keuangan juga penting, untuk memberikan jaminan kepada para pemilik atau penghuni bahwa hal keuangan tidak disalahgunakan oleh para pengurus perhimpunan," katanya.

P3SRS merupakan badan hukum yang beranggotakan para pemilik dan penghuni satuan rumah susun. P3SRS dibentuk untuk bertanggung jawab atas kepentingan para pemilik dan penghuni yang berkaitan dengan bagian bersama, benda bersama, tanah bersama serta penghunian. (mdk/cob)

Baca juga:
OLX: Rumah Tapak Masih Jadi Primadona
Izumi Sentul Realty Siapkan Investasi Rp 1,2 Triliun Bangun Apartemen Opus Park
Setiabudi Land Raih Penjualan 50 Persen Unit A-venue Townhouse
Anak Usaha Waskita Karya Topping Off Apartemen Vasaka Nines di BSD
Anak Usaha Adhi Karya Bangun Apartemen Mewah di Jakarta Utara
Cocok untuk Milenial, SouthCity Tawarkan Apartemen The Parc Uang Muka Rp 50.000/Hari

TOPIK TERKAIT

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.