Warung Makan di Bantul Bawa Misi Bayar Seikhlasnya Demi Sedekah

Warung Makan di Bantul Bawa Misi Bayar Seikhlasnya Demi Sedekah
PERISTIWA | 30 November 2020 05:35 Reporter : Purnomo Edi

Merdeka.com - Sebuah warung makan berkonsep unik di Jalan Imogiri Timur Km 8, Kabupaten Bantul, DIY. Warung Ayam Goreng Syariah ini menjual makanan dengan konsep bayar seikhlasnya atau semampunya.

Pemilik warung makan, Asep Suryana (25) menceritakan, awalnya warung miliknya ini menggratiskan makanan bagi warga yang membutuhkan. Hanya saja ternyata banyak warga yang merasa sungkan apabila makan gratis.

"Kami sempat membuat etalase yang diisi dengan makanan gratis bagi yang mau ambil. Tapi ternyata orang jadi sungkan. Walaupun mereka orang tidak mampu, tapi bukan berarti minta gratis. Mereka ingin beli, walaupun dengan harga yang tidak biasa (terjangkau bagi mereka)," ujar Asep, Sabtu (28/11).

Ide membuat warung dengan konsep bayar seikhlasnya pun akhirnya muncul dari situasi tersebut. Asep kemudian membuat menu ayam goreng dan sayur yang bisa dibayar dengan seikhlasnya.

Asep menuturkan, menu ayam goreng dengan nasi dan sayur dijualnya dengan harga normal Rp10.000. Namun bisa dibeli seikhlasnya dengan harga Rp500, Rp1.000 maupun Rp5.000. "Karena konsepnya bayar seikhlasnya atau semampunya pembeli," ucap Asep.

Warung yang berdiri sejak awal 2020 ini justru tak pernah merugi meski menerapkan konsep bayar dengan harga seikhlasnya. Selama sehari biasanya Asep menyiapkan 20 porsi ayam yang bisa dibayar seikhlasnya.

"Alhamdulillah sampai sekarang ternyata tidak rugi. Ada saja caranya (pemasukan). Niatnya makanan untuk orang yang membutuhkan, tapi kadang ada orang random datang atau teman ngasih donasi. Jadi motto dari warung ini cukup simpel, sedekahku sedekahmu. Artinya sedekahku sama juga dengan sedekahmu," ungkap Asep.

warung makan di bantul terapkan konsep bayar seikhlasnya

Asep juga bekerja sama dengan sejumlah tetangga dan rekan dekat untuk membuka warung di rumahnya. Halaman rumah Asep yang cukup luas dimanfaatkan juga untuk menyediakan lapak-lapak pedagang lainnya. Seperti penjual soto, burger, kopi, hingga gudeg. Saat ini sudah ada sekitar delapan lapak yang berjualan.

Para penjual makanan itu juga menyewa tempat dengan harga yang sangat terjangkau. Namun dengan perjanjian menyediakan minimal 20 porsi makanan yang mereka jual dengan harga seikhlasnya.

"Sekalian untuk zakat. Karena kami kadang was-was. Kami pernah memberikan donasi (melalui perantara) tapi tidak disampaikan donasinya. Jadi kami ingin memastikan donasinya sampai. Ya sudah dari kami sendiri langsung saja," ucap Asep. (mdk/noe)

Baca juga:
Dipotong Gaji 100% karena Pandemi, Karyawan Ini Beranikan Resign & Buka Usaha Dimsum
Masih Muda, Pria ini Beberkan Cara Bisnis Kulinernya Beromzet Rp200 Juta
Dari Dapur ke Lahan, Begini Cara Public Farm Tetap Produktif selama Pandemi
Kisah Hidup Susi Pudjiastuti, Putus Sekolah jadi Pengepul Ikan di Pangandaran
Viral Kisah Mahasiswa KKN 15 Tahun di Pelosok, Namanya Dijadikan Jalan

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami