Wasekjen PKB bantah Agus menjadi eksperimen politik poros Cikeas

PERISTIWA | 27 September 2016 03:35 Reporter : Raynaldo Ghiffari Lubabah

Merdeka.com - Wasekjen PKB Daniel Johan membantah penunjukan Agus Harimurti Yudhoyono sebagai calon gubernur DKI Jakarta adalah eksperimen politik poros Cikeas. Daniel menegaskan nama Agus dipilih karena melihat kelebihan dan kualitasnya yang dinilai terbaik dari semua tokoh yang dipertimbangkan.

"Kalau PKB sih enggak eksperimen ya. Karena nama Agus muncul dan kemudian ada pembahasan kelebihan dari calon yang ada, disepakati Agus terbaik," kata Daniel kepada merdeka.com, Senin (26/9).

Meski begitu, Daniel mengakui penunjukan Agus-Sylviana adalah sebuah kejutan dan menimbulkan keraguan publik. Oleh karena itu, penting bagi Agus-Sylviana untuk menjawab dan membuktikan mereka memang pantas menjadi pemimpin alternatif bagi Jakarta.

"Langkah awal munculnya nama Agus yang menimbulkan kejutan merupakan hal baik yang menimbulkan banyak pertanyaan, dan itu harus dijawab Agus-Sylviana bahwa mereka adalah alternatif terbaik yang dibutuhkan masyarakat DKI," terangnya.

Ditambahkannya, agar mendapat kepercayaan publik, pasangan Agus-Sylviana juga harus memaparkan konsep pembangunan dan gaya kepemimpinan yang berbeda dari Ahok-Djarot. Semisal, kebijakan yang mengedepankan pendekatan yang lebih humanis dan ramah.

"Agus-Sylviana harus memaparkan konsep pembangunan dan kepemimpinan alternatif yang membedakan dengan incumbent Ahok yang suka gusur, tidak ramah dengan rakyat kecil dan marah-marah, arogan," tegasnya.

"Harus jelaskan konsep mau dibawa ke mana Jakarta. Bagaimana nasib warga Jakarta lima tahun ke depan, dan bagaimana mewujudkan kepemimpinan yang bersih dan ramah bagi warga Jakarta," pungkas Wakil Ketua Komisi IV DPR ini.

Sebelumnya diketahui, Direktur Eksekutif Indo Barometer, Muhammad Qodari menilai penunjukan Agus Harimurti Yudhoyono sebagai bakal calon gubernur sebagai eksperimen politik. Dia mengatakan diusungnya nama Agus menunjukkan poros Cikeas kesulitan mencari lawan tangguh bagi petahana.

"Parpol kesulitan mencari lawannya Ahok, makanya mereka mencari wajah baru. Untuk sosok yang terlanjur disosialisasikan ternyata elektabilitasnya tidak terlalu meningkat dan diperkirakan akan sulit berkembang, jadi lebih baik mencari wajah baru, melakukan eksperimen politik," kata Qodari di Warung Daun, Cikini, Jakarta, Sabtu (24/9).

(mdk/cob)