Waspada Banjir Besar Samarinda Bisa Terulang

Waspada Banjir Besar Samarinda Bisa Terulang
PERISTIWA | 13 Januari 2020 14:27 Reporter : Saud Rosadi

Merdeka.com - Daerah Aliran Sungai (DAS) Karang Mumus di Samarinda, Kalimantan Timur, meluap. Ratusan rumah di dua kecamatan, terendam banjir, akibat peningkatan debit air di Bendungan Benanga Lempake. Sekarang berada di level waspada.

Pantauan merdeka.com di Bendungan Benanga Lempake, debit tinggi muka air (TMA) di angka 87 cm pada pukul 12.15 WITA, sebagai imbas hujan deras yang terjadi nyaris sepanjang hari Sabtu (11/1).

Imbasnya, permukiman di sepanjang DAS Karang Mumus, yang dimulai dari Perumnas Bengkuring di Sempaja Timur, Kecamatan Samarinda Utara, terendam banjir hampir 1 meter. Per pukul 14.00 WITA siang ini, tercatat ratusan rumah dihuni 561 KK atau sekitar 1.930 jiwa, jadi korban banjir.

Angka tersebut belum termasuk banjir yang merendam permukiman warga di DAS Karang Mumus, kawasan Perum Griya Mukti Sejahtera (GMS) kelurahan Gunung Lingai.

Balai Wilayah Sungai (BWS) III Kalimantan Kementerian PUPR, yang bertugas mengelola Bendungan Benanga mengingatkan potensi banjir besar seperti Juni 2019. Saat itu sekitar 56.000 jiwa terdampak banjir. Kondisi ini berpotensi kembali terulang akibat luapan DAS Karang Mumus.

"Bulan Juni 2019, TMA tertinggi 79 cm. Sementara Desember 2019, 73 cm. Sekarang 87 cm," kata Kepala Satker Operasional dan Pemeliharaan BWS III Kalimantan Kementerian PUPR Kalpin Nur, ditemui di Bendungan Benanga, Senin (13/1).

Luapan DAS Karang Mumus bisa semakin parah apabila Sungai Mahakam yang menjadi muara Sungai Karang Mumus, sedang pasang dan air tertahan di penyempitan dan pendangkalan Sungai Karang Mumus di kawasan Gang Nibung.

"Bisa semakin banyak lagi yang tenggelam," ujar Kalpin.

1 dari 1 halaman

Air dari Tambang

tambang rev1

Kalpin mengaku heran dengan kenaikan signifikan debit TMA Bendungan Benanga. Padahal, Minggu (12/1) siang kemarin, tidak turun hujan sampai siang ini.

"Dari kemarin saya tanya petugas saya, kok segini naiknya? (TMA 87cm). Padahal hujan tidak," sebut Kalpin.

Untuk menjawab penasaran, tim BWS pun memantau hulu Bendungan Benanga.

"Saya curiga, ada salah satu tampungan tambang ikut menyumbang kenaikan debit air Benanga. Karena, dari pantauan drone, di Benanga ini, ada air keruh, ada air bening dari air hujan," jelas Kalpin.

"Dicurigai seperti itu. Ada air kolam tambang, masuk ke Benanga. Karena itu tadi, ada air hujan dan air keruh. Dan, debit Benanga naik signifikan," ucap Kalpin.

Untuk diketahui, banjir di 3 kecamatan Samarinda Utara, Sungai Pinang dan Samarinda Ulu, merendam ribuan rumah warga di bulan Juni 2019 lalu. Tercatat, korban terdampak banjir 56 ribu jiwa, dan memaksa Pemkot menetapkan masa tanggap darurat 2 pekan. Banjir hingga 1,5 meter saat itu, melumpuhkan sebagian besar aktivitas ekonomi Samarinda.

Banjir kembali terulang di bulan Desember 2019. Tidak kurang 500 rumah terendam hingga 1 meter. Kedua banjir di tahun 2019 itu, disebabkan luapan DAS Karang Mumus, menyusul peningkatan debit Bendungan Benanga. (mdk/noe)

Baca juga:
Banjir Akibat Hujan 7 Jam di Samarinda, Penumpang Pesawat Diangkut Truk ke Bandara
Usai Banjir, Sungai Karang Mumus Samarinda Dikeruk
Diterjang Banjir 2 Pekan, Pemkot Samarinda Bakal Relokasi 328 Rumah di Bantaran SKM
Masa Tanggap Darurat Banjir di Samarinda Diperpanjang 3 Hari
Hampir 2 Pekan, Banjir di Samarinda Tidak Kunjung Surut
Pemprov Kaltim Tuding Aktivitas Tambang Batu Bara Turut Sebabkan Banjir Samarinda

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami