Waspada Propaganda Terorisme di Medsos, BNPT Ajak Anak Muda Perkuat Nilai Pancasila

Waspada Propaganda Terorisme di Medsos, BNPT Ajak Anak Muda Perkuat Nilai Pancasila
Kepala BNPT Komjen Pol Boy Rafli Amar di Universitas Brawijaya Malang. Darmadi Sasongko
NEWS | 6 Juli 2022 23:02 Reporter : Darmadi Sasongko

Merdeka.com - Terorisme sangat berkepentingan dengan media terutama media sosial. Media sosial dianggap sebagai penunjang eksistensi keberadaan pelaku terorisme.

"Terorisme sangat berkepentingan dengan media terutama media sosial. Dia butuh pengakuan. Menimbulkan ketakutan yang luas melalui media sosial. Dia ingin eksistensinya diakui orang," kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Boy Rafli Amar di Universitas Brawijaya, Malang, Rabu (6/7).

Mantan Kadivhumas Polri itu menjelaskan, media sosial menjadi salah satu alternatif paling diminati terorisme. Hal ini karena 60 persen dari penduduk Indonesia merupakan pengguna media sosial dan di antaranya merupakan remaja atau generasi muda.

"Karena itu, perlu ditanamkan secara kuat kepada generasi muda terutama mahasiswa penerapan nilai-nilai Pancasila. Kita berharap generasi muda tidak mengalami disorientasi terhadap nilai-nilai Pancasila," kata Boy.

2 dari 2 halaman

Selain menanamkan nilai-nilai Pancasila, arah kebijakan BNPT adalah meningkatkan moderasi beragama. BNPT menggandeng organisasi Islam seperti Muhammadiyah dan NU, dan pemuka agama lain.

"Kami tidak ingin teroris mengatasnamakan misi agama yang memang sengaja diembuskan kelompok-kelompok tertentu," ujar dia.

Boy menambahkan, misi terorisme bukan misi agama. Boy mengatakan terorisme adalah identitas yang justru merupakan sebuah tindakan pendzoliman terhadap agama.

"Virus intoleransi tidak kalah cepatnya menyebar seperti Covid-19. Maka kita memerlukan vaksin terhadap virus intoleransi. Mari kita perkuat wawasan kebangsaan kita. Kita perkuat program-program moderasi beragama," kata dia.

Sementara Wakil Rektor V Bambang Susilo menambahkan, pendidikan muatan lokal di sekolah bisa menjadi model pencegahan terorisme.

"Dulu sekitar tahun '81 saya masih duduk di bangku sekolah juga sudah mulai muncul radikalisme. Namun saya tidak ikut masuk ke dalam hal tersebut karena saya sukanya sama wayang. Hal-hal yang bermuatan lokal bisa jadi modal untuk mencegah terorisme," kata Bambang.

Bambang berharap kerja sama UB dengan BNPT tidak hanya sebatas pada pencegahan saja tapi sudah ke ranah pendidikan dan penelitian. (mdk/gil)

Baca juga:
PPATK: Anggota ACT Kirim Dana ke Negara Berisiko Tinggi Pendanaan Terorisme 17 Kali
Temuan Aliran Dana ACT ke Al-Qaeda, PPATK: Ada yang Langsung dan Tidak
Dana ACT Diindikasi Berkaitan Terorisme, PPATK Serahkan Hasil Analisis ke Densus 88
ACT Bantah Mendanai Terorisme: Tiap Program Undang Gubernur dan Menteri selalu Datang
DPR Dukung BNPT dan PPATK Bongkar Dugaan ACT Danai Aksi Terorisme
Kejari Jakarta Timur Musnahkan Barang Bukti 302 Kasus Kejahatan
Kapolri Jenderal Listyo Sigit: Tindak Tegas Jaringan Terorisme

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini