Waspadai Air Kubangan Bekas Tambang Bauksit Diperjualbelikan di Tanjung Pinang

PERISTIWA | 22 September 2019 08:34 Reporter : Fikri Faqih

Merdeka.com - Musim kemarau panjang dimanfaatkan beberapa pihak untuk meraup keuntungan dengan cara culas. Pasalnya di Tanjung Pinang dan Bintang, air kubangan bekas tambang bauksit disedot dan dijual sebagai air bersih ke masyarakat.

Berdasarkan penelusuran Antara, sejumlah truk tangki dan mobil pick up keluar masuk ke salah satu lokasi di Jalan Raya Senggarang, Tanjung Pinang yang terdapat air kubangan bekas pertambangan bauksit.

Truk tangki dan mobil pick up membawa drum petak bervolume 1000 liter itu antre di lokasi tersebut. Masing-masing truk membawa mesin penyedot air dan pipa. Setelah penuh, air kubangan tambang itu tersebut dijual ke rumah warga.

Kondisi yang sama juga terjadi di Sei Unggar, Wak Copek kawasan perbatasan antara Tanjung Pinang dan Bintan. Di kawasan ini, kondisi lebih parah. Lebih dari 30 truk tangki air dan mobil pick up lalu lalang ke lokasi air kubangan bekas pertambangan bauksit. Di lokasi itu terdapat belasan truk tangki dan mobil pick up yang masih menyedot air yang tergenang di atas lumpur bauksit.

Truk tangki dan mobil pick up itu bertuliskan 'jual air bersih'. Di lokasi itu sudah terdapat puluhan pipa. Wartawan yang mengintip aktivitas itu gagal membuntuti truk tangki dan mobil pick up sampai ke rumah pelanggannya.

Di lokasi itu, terjadi perdebatan antara wartawan dengan sopir mobil pick up yang melarang memotret aktivitas di lokasi air kubangan.

"Jangan ambil gambar, nanti kami masuk media, seperti kemarin ada yang masuk media," kata salah seorang pedagang, yang juga sopir pick up yang menutup sebagian wajahnya dengan masker.

Wartawan tetap memotret, dan sopir tersebut sempat menepiskan tangan ke arah ponsel wartawan. Perdebatan pun berakhir setelah wartawan melaporkan kasus itu kepada pihak kepolisian.

Sopir itu minta maaf, dan membuang air dari dalam drum petak.

"Saya tak akan jual air ini pak. Saya minta maaf. Saya hanya cari makan," katanya.

Namun ketika ditanya apakah mencari makan dengan cara yang tidak baik ini membuat dirinya tidak merasa bersalah, sopir tersebut terdiam.

"Bapak bisa bayangkan jika air yang mengandung timbal ini dikonsumsi pelanggan? Merasa berdosa atau tidak," ucap Iskandar, salah seorang wartawan media daring.

Baca juga:
Kebakaran Lalap Hutan Jati di Semarang
Sudah Tiga Bulan, 19 Kecamatan di Lebak Alami Krisis Air Bersih
Kemarau Panjang, Warga Darul Imarah Aceh Mengalami Krisis Air
Kemarau Panjang, Sebagian Warga di Aceh Besar Mengalami Krisis Air
Ribuan Ikan Mati Kekeringan di Danau Yunani
Stok Beras 2,5 Juta, Menteri Amran Tegaskan Cukup Penuhi Kebutuhan Hingga Akhir Tahun

(mdk/fik)