Waspadai 'Tsunami' Covid-19 Usai Lebaran

Waspadai 'Tsunami' Covid-19 Usai Lebaran
ilustrasi tenaga kesehatan kelelahan. ©Liputan6.com/Herman Zakharia
PERISTIWA | 13 Mei 2021 05:04 Reporter : Wisnoe Moerti

Merdeka.com - Beberapa hari terakhir terlihat berbagai upaya dilakukan pemudik untuk lolos dari penyekatan aturan larangan mudik. Mulai dari masuk dalam kabin barang, menggunakan ambulans, melalui jalan tikus yang tidak dijaga petugas, hingga nekat menerobos penyekatan.

Dilansir Antara, Rabu (12/5), ratusan ribu kendaraan sudah berhasil diputarbalik, namun ribuan juga yang berhasil lolos. Sebagian besar adalah pemudik roda dua yang lebih fleksibel mencari jalur-jalur alternatif. Beberapa kali rombongan pemudik bermotor berupaya menjebol pos penyekatan di Bekasi dan Karawang, mereka sengaja menolak kebijakan larangan mudik.

Bahkan di beberapa titik mereka dibantu warga setempat yang mengarahkan ke jalur-jalur tikus yang aman dari hadangan petugas.

Anjuran untuk tidak mudik masih banyak dilanggar. Belum ada data pasti berapa yang bisa lolos mudik. Mereka yang lolos memang akhirnya bisa berkumpul dengan keluarga. Namun mereka tidak sadar yang dibawa mudik bukan hanya oleh-oleh Lebaran, tetapi bisa jadi virus yang sudah menginfeksinya.

Pemudik Positif Covid-19

Bisa dilihat dari angka yang dilaporkan Pemerintah. Dari 6.742 tes acak, didapatkan konfirmasi positif sebanyak 4.123 orang atau persentase 61,2 persen. Bisa dibayangkan jika mereka yang membawa virus ini juga lolos dari pemeriksaan di satgas tingkat desa sehingga berpotensi menularkan kepada anggota keluarganya yang lain.

Angka itu juga memberikan gambaran pentingnya upaya testing digencarkan kalau perlu menyisir semua pemudik sehingga bisa mengurangi potensi penularan di daerah tujuan mudik.

Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN) Airlangga Hartarto mengungkap, sebanyak 1.686 orang yang terbukti positif itu di antaranya langsung menjalani isolasi mandiri karena tanpa gejala, sementara 75 orang yang bergelaja dirawat di rumah sakit.

Dengan asumsi itu maka dari jika ada setengahnya saja pemudik yang tidak melengkapi bukti tes covid, maka angka secara keseluruhan bisa mencapai 30 persen dari pemudik yang lolos sampai pulang kampung berpotensi membawa virus ke keluarga mereka.

Hampir semua desa tujuan mudik sudah bersiaga dan kembali melakukan cek ulang tes antigen dan beberapa diantaranya memang diketahui membawa virus corona sehingga dilakukan karantina. Terbukti, sebanyak dua dari lima pemudik tujuan Solo yang lolos penyekatan setelah dites antigen ternyata positif Covid-19.

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Surakarta Ahyani mengatakan, dari lima pemudik asal Tangerang, dua di antaranya positif, yang satu dibawa ke Donohudandan yang satu karena bergejala maka dibawa rumah sakit.

Di daerah lain juga sudah banyak dilaporkan pemudik yang dinyatakan positif setelah sampai di tujuan seperti di Kudus dan Pati, Jawa Tengah serta di Sintang, Kalimantan Barat.

Berharap semua yang terpapar corona bisa terjaring satgas di tingkat desa sehingga bisa dilakukan karantina lebih dini untuk mencegah penularan ke keluarga mereka.

Antarpemudik juga harus tetap waspada karena penularan juga bisa terjadi sepanjang perjalanan mudik. Dan tidak ada jaminan juga mereka yang sudah bebas covid bisa aman sampai kampung halaman karena bisa jadi terpapar di perjalanan, apalagi melihat banyak kerumunan pemudik bermotor menjelang titik penyekatan.

12 pemudik dari denpasar berencana menyeberang ke jawa menumpang perahu nelayan

Pengawasan Pemudik

Upaya pengawasan bagi para pemudik yang sudah sampai di kampung harus lebih diperketat. Minimal mereka harus dikarantina untuk tidak melakukan perjalanan ke luar rumah keluarga mereka selama minimal selama lima hari sehingga kalaupun di anggota keluarga mereka ada yang mulai bergejala maka bisa dilakukan tes cepat antigen. Termasuk menghindari salat Idulfitri berjemaah.

"Jadi kalau memang sudah melakukan karantina ya monggo salat Id. Tapi kalau belum karantina tidak usah memaksa salad Id karena hukumnya sunah, tidak wajib," kata Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen di Semarang, Senin (10/5).

Pria yang akrab disapa Gus Yasin ini menuturkan, masyarakat tidak bisa mengetahui pemudik yang datang terbebas dari penyakit menular atau tidak. Lebih aman jika pemudik melaksanakan Salat Id terpisah dari kerumunan warga.

"Kalau harus salat bersama sama, carilah ruang yang aman yang tidak di dalam masjid atau kerumunan," ungkapnya.

Masyarakat harus disadarkan bahwa kondisi pandemi Covid-19 di Indonesia pada musim mudik tahun ini berbeda dengan tahun lalu karena saat ini sudah ada tiga varian virus corona di Indonesia, bahkan sudah terdeteksi ada sejak awal tahun 2021.

Beberapa virus SARS-CoV-2 jenis baru sudah masuk ke Indonesia antara lain B117 asal Inggris, kemudian B1351 asal Afrika Selatan dan varian mutasi ganda dari India B1617.

Wajar jika Epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Pandu Riono berharap pemerintah segera membenahi strategi testing, traching dan treatment (3T) untuk bisa mengamankan secara dini mereka yang sudah terpapar dan menyiapkan segala sesuatunya untuk mengantisipasi lonjakan yang pasti akan terjadi.

Dia memprediksi tetap ada lonjakan Covid bahkan khawatir lonjakan akan membuat kondisi grafik penularan covid melonjak seperti pada Januari 2021 yang angka harian paparanya berkisar antara 10.000 sampai 14.000 kasus.

Pandu meminta Pemerintah Indonesia siap siaga untuk mengantisipasi ancaman "tsunami" Covid-19 usai Lebaran.

Walau secara nasional, angka harian masih bisa dikendalikan pada kisaran 5.000 kasus, namun dalam beberapa pekan terakhir ini saja, sejumlah sudah menunjukkan kenaikan angka paparan covid.

Kenaikan tren tambahan konfirmasi kasus harian itu menyebabkan tujuh provinsi mempunyai Bed Occupancy Ratio (BOR) lebih dari 50 persen per 8 Mei 2021 yaitu di Sumatera Utara 63,4 persen, Riau 59,1 persen, Kepulauan Riau 59,9 persen, Sumatera Selatan 56,6 persen, Jambi 56,2 persen, Lampung 50,8 persen dan Kalimantan Barat 50,6 persen.

Tidak salahnya semua pihak khususnya di daerah mengantisipasi lonjakan kasus harian ini pascalebaran ini dengan menyiapkan tim survailans dan fasilitas kesehatan yang memadai, dan kesiapan tenaga kesehatannya.

Banyak pihak menyuarakan pentingnya data pemudik yang bisa lolos sampai kampung halaman secara nasional sebagai gambaran peta mobilitas dan menjadi dasar bagi pemerintah pusat dan daerah mengantisipasi lonjakan kasus Covid-19.

Perkembangan kasus Covid-19 di dunia menunjukkan adanya gelombang dan varian baru yang terjadi di sejumlah negara seperti di India. Berbagai upaya harus terus dilakukan, mencegah kejadian serupa agar tidak terjadi di Indonesia.

"Pelajaran yang harus kita pegang dari kejadian di India adalah, begitu kasus Covid-19 meningkat maka diikuti oleh meningkatnya fatalitas atau angka kematian. Penyebab pastinya dari peristiwa di India, belum diketahui seutuhnya," terang Prof. Dr. Drh. I Gusti Ngurah Kade Mahardika, Ahli Virologi Universitas Udayana Bali dalam Dialog Produktif bertema 'Belajar dari India Tingkatkan Kepatuhan Prokes Sekarang Juga' yang diselenggarakan KPCPEN dan ditayangkan di FMB9ID_IKP, Kamis (29/4).

pemudik beralasan ingin nikah di jawa tengah

Tidak Silaturahim Fisik

Dengan keyakinan sudah merebaknya tiga varian mutasi virus maka masyarakat harus lebih sadar untuk menahan diri dari aktifitas silaturahim tatap muka yang berlebihan selama Lebaran termasuk acara halal bihalal karena semakin banyaknya pergerakan silaturahim maka potensi penyebaran juga semakin besar.

Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid-19 Sonny Harry B Harmadi mengingatkan potensi mobilitas lokal di daerah di tengah kebijakan larangan mudik karena dipastikan silaturahim selama lebaran menjadi budaya yang sulit ditinggalkan.

Selain silaturahim adalah potensi kerumunan di pusat perbelanjaan dan lokasi wisata yang biasanya menjadi tujuan masyarakat untuk bergembira selama Lebaran.

Satgas penanganan Covid di daerah perlu mengawasi secara tegas pembatasan kapasitas orang di pusat perbelanjaan, kuliner dan lokasi wisata serta protokol kesehatan seperti jaga jarak, memakai masker dan menyediakan tempat cuci tangan yang memadai

Kalau perlu Pemda mengajurkan warga untuk tidak melakukan silaturahim antarwilayah desa atau kecamatan untuk menjaga mobilitas warga, apalagi jika daerah itu sudah dinyatakan sebagai zona merah.

Juru bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19, Wiku Bakti Bawono Adisasmito meminta masyarakat yang merayakan Lebaran Idulfitri 2021 di zona hijau dan kuning tidak melakukan silaturahmi fisik. Dia menyarankan, silaturahmi Lebaran pada zona tersebut dilakukan secara virtual.

Zona hijau menunjukkan sebuah wilayah tidak terdampak atau tidak ada kasus Covid-19, sedangkan zona kuning berisiko rendah terhadap Covid-19.

"Silaturahmi fisik juga tetap dilarang dalam zona ini. Maka dari itu, disarankan untuk melakukan silaturahmi virtual melalui video call atau conference," katanya dalam konferensi pers yang disiarkan melalui YouTube BNPB Indonesia, Rabu (12/5).

Wiku mengatakan aktivitas tatap muka memang tidak dilarang di wilayah zona hijau dan kuning. Namun, untuk mencegah penularan Covid-19, silaturahmi tatap muka pada Lebaran Idulfitri kali ini ditiadakan.

"Ingatlah silaturahmi fisik sangat berpotensi menjadi awal penularan Covid-19 mengingat kontak fisik yang sering kali tidak dapat dihindari dengan sanak saudara," ujarnya.

Sejumlah pemda juga sudah mulai khawatir dengan melonjaknya angka penyebaran covid menjelang Lebaran dengan kebijakan menutup lokasi wisata yang berada di zona merah dan oranye penyebaran Covid, menutup juga lokasi pemakaman selama Lebaran karena tradisi ziarah kubur selama dua hari pertama Lebaran.

Berharap warga sadar akan ancaman virus Covid di musim mudik ini yang lebih menular sehingga memilih tetap di rumah selama Lebaran dan memanfaatkan silaturahim virtual untuk melepas kerinduan.

Puasa Ramadan yang mengajarkan bagaimana menahan nafsu hendaknya diwujudkan dalam perilaku warga untuk menahan diri dari mobilitas selama Lebaran agar lonjakan paparan virus corona tidak terjadi.

Jangan sampai "tsunami" virus ini melanda Indonesia akibat kelalaian menjaga mobilitas karena capaian pengendalian paparan virus selama ini sudah mengorbankan kematian dari ratusan dokter, perawat dan petugas layanan masyarakat. (mdk/noe)

Baca juga:
Wabup Jember: Pencegahan Kerumunan Tempat Ibadah Lebih Memungkinkan dari Mal & Pasar
DMI: Hampir Semua Masjid Besar di Jakarta Selenggarakan Salat Id
Tingkat Kematian Pasien Covid-19 di Jakarta Lebih Rendah dari Rata-Rata Global
Data Kasus Covid-19 di Indonesia per 12 Mei 2021
Cegah Penyebaran Covid-19, Umat Muslim Diminta Tak Bersalaman Saat Salat Id

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami