10 Bulan jadi Oposisi di Pilpres 2019, Sekjen PAN Bilang 'Sesak Napas'

POLITIK | 19 Juli 2019 20:02 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Sekretaris Jenderal PAN Eddy Soeparno mengatakan sejarah partainya selalu berada di pemerintahan. Dia menyebut baru di Pemilu 2019, PAN berperan sebagai kubu oposisi mengusung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sebagai calon Presiden dan Wakil Presiden.

"Memang kalau kita lihat saat ini historical, kita bicara historis, dari berdirinya PAN sampai dengan tahun 2018 kemarin, PAN itu belum pernah berada dalam oposisi. Hanya di tahun 2019, Pemilu, PAN pertama kali berada di luar pemerintahan," kata Eddy di kantor Para Syndicate, Jakarta, Jumat (19/7).

10 bulan menjadi oposisi, kata Eddy, PAN merasa seperti sesak napas. Meski begitu, Eddy mengklaim menjadi oposisi tak menyurutkan semangat kader PAN untuk berjuang.

"Saya kira itu, baru kita merasakan di luar pemerintah seperti apa. Kalau ditanya pandangan pribadi ketika itu selama 10 bulan, kita berada di luar pemerintahan, ya pendapat pribadi saya, sesak napas. Bukan berarti karena kita sesak napas patah semangat. Tidak bisa menunjukkan jati diri dan identitas partai," jelas Eddy.

Eddy menyebut PAN hingga kini belum menentukan arah koalisi usai putusan gugatan sengketa Pilpres oleh Mahkamah Konstitusi. PAN punya 3 opsi yang bakal dipilih di Rakernas, yakni gabung koalisi pemerintah, oposisi atau penyeimbang.

"Apapun yang kita akan putuskan besok dan opsinya saya kira sudah jelas. Berada di oposisi yang tidak bergabung dengan pemerintah, bergabung dengan pemerintah atau kita berada di tengah-tengah konstruktif kritis," pungkasnya.

Reporter: Putu Merta Surya Putra

Baca juga:
Hanafi Rais Protes Klaim Ketum PAN yang Sebut Amien Rais Dukung Jokowi
Gerindra Incar Ketua MPR, PAN Pilih Tunggu Anggota DPR Baru Dilantik
PAN Koalisi Rasa Oposisi, Gerindra Dinilai Lebih Bisa Diterima Pendukung Jokowi
Zulkifli Hasan Klaim Amien Rais Dukung Jokowi
Ketum PAN: Kami Enggak Boleh Minta-minta Kursi Menteri

(mdk/ray)