4 Kritik tajam Ali Mochtar Ngabalin pada Amien Rais dan PA 212

POLITIK | 5 Juni 2018 03:00 Reporter : Desi Aditia Ningrum

Merdeka.com - Politikus senior PAN Amien Rais kerap melontarkan pernyataan pedas terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi). Misalnya ketika Amien mengatakan jika Presiden Jokowi akan dilengserkan Allah di tahun 2019.

Pernyataan Amien Rais tersebut membuat gerah orang-orang di sekelilingnya. Salah satunya adalah Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin. Sehingga Ngabalin mengkritik tajam cara Amien Rais tersebut. Tak cuma itu Ngabalin juga memberikan kritiknya terhadap Persaudaraan Alumni (PA) 212 yang dijadikan kendaraan politik. Berikut kritik tajam Ngabalin;

1 dari 4 halaman

Ngabalin minta Amien Rais jaga lisan

Amien Rais. ©2012 Merdeka.com

Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin menanggapi pernyataan politikus senior PAN Amien Rais tentang Presiden Joko Widodo atau Jokowi yang akan dilengserkan Allah pada Pilpres 2019.

Menurut Ali Mochtar Ngabalin, sebagai seorang tokoh seharusnya Amien Rais jangan melontarkan fitnah dan pernyataan yang terkesan mengadu domba rakyat. Meskipun berbeda pilihan politik. "Jangan, jaga lisanmu sebagai tokoh," kata dia di gedung Bina Graha, komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (30/5).

Dia berpendapat, Amien Rais sepatutnya juga tidak menghakimi seseorang layaknya Tuhan.

2 dari 4 halaman

Ngabalin minta PA 212 berhentikan Amien Rais

Prabowo dan Amien Rais umroh. ©2018 Merdeka.com

Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin menegaskan dirinya mendukung adanya Persaudaraan Alumni 212. Terlebih lagi PA 212 merupakan organisasi yang membawa kepentingan orang banyak.

Akan tetapi, dia menolak jika PA 212 digunakan untuk kepentingan politik seperti yang dilakukan Ketua Dewan Penasihat 212 Amien Rais. Ngabalin bahkan meminta PA 212 memberhentikan Amien Rais.

"Saya mengimbau, saya menyarankan, saya menasihati diriku dan semua yang merasa memiliki organisasi Persaudaraan 212 segera mengajukan nota protes, kepada Ketua Dewan Pembina Persaudaraan 212 untuk segera diberhentikan dan jangan merusak organisasi itu," katanya beberapa waktu lalu.

3 dari 4 halaman

Ngabalin minta Amien Rais berpolitik pakai PAN bukan PA 212

Prabowo dan Amien Rais umroh. ©2018 Merdeka.com

Ali Mochtar Ngabalin meminta Amien Rais harusnya memanfaatkan partainya sendiri yaitu PAN untuk memuluskan kepentingan politiknya. "Saya cuma bilang dan menyarankan, Pak Amien punya Partai Amanat Nasional, kenapa tidak dipakai itu? Kasihan," kata Ngabalin di Jakarta.

Ngabalin tak ingin jika PA 212 digunakan untuk kepentingan politik praktis. Menurut dia, hal itu akan berdampak kurang baik kepada kebhinekaan di Tanah Air. Menurutnya, jika ingin berpolitik praktis, sebaiknya pendukung PA 212 bergabung ke partai politik saja. "Republik ini kan memakai sistem demokrasi, kenapa tidak menggunakan partai politik. Pak Amien Rais punya Partai Amanat Nasional. Disalurkan kembali ke PAN, yang mau masuk Gerindra masuk Gerindra, yang mau masuk Partai Bulan Bintang, partai lain silakan." katanya.

4 dari 4 halaman

Ngabalin sarankan PA 212 gabung ke partai politik

Presidium Alumni 212 berganti nama jadi Persaudaraan Alumni 212. ©2018 Merdeka.com

Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV Kantor Staf Presiden Ali Mochtar Ngabalin meminta persaudaraan alumni atau PA 212 untuk bergabung ke partai jika ingin berpolitik praktis. "Saya tidak mau persaudaraan 212 dipakai sebagai alat politik praktis," kata Ngabalin.

Ngabalin mengaku sedih jika PA 212 digunakan untuk kepentingan politik praktis. Menurut dia, hal itu akan berdampak kurang baik kepada kebhinekaan di Tanah Air. (mdk/has)

Baca juga:
Ali Mochtar Ngabalin minta Amien Rais tak fitnah Jokowi
Wasekjen PAN sebut Ali Mochtar Ngabalin ingin disorot sejak masuk Istana
Belum sebulan masuk Istana, Ngabalin langsung sentil Fadli Zon dan Amien Rais
Ali Mochtar Ngabalin ke Amien Rais: Jaga lisanmu sebagai tokoh!
Ali Mochtar Ngabalin ingatkan penumpang gelap dalam gerakan reformasi
Suara lantang Ali Mochtar Ngabalin setelah jadi pegawai Istana