Bamsoet Jadi Ketua MPR, Langkah Airlangga Pertahankan Ketum Golkar Kian Mulus

POLITIK | 11 Oktober 2019 23:15 Reporter : Dedi Rahmadi

Merdeka.com - Hubungan antara Airlangga Hartarto dan Bambang Soesatyo (Bamsoet) sempat memanas dalam perebutan kursi Ketua Umum Golkar. Kini keduanya telah berdamai, Bamsoet malah mendukung Airlangga sebagai Ketum Golkar periode 2019-2024 dalam Munas Golkar pada bulan Desember 2019.

Tokoh senior Golkar, Fadel Muhammad menilai terpilihnya Bamsoet menjadi Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Periode 2019-20124 akan meredakan konflik internal dalam tubuh Partai Golkar. Dan memuluskan Airlangga melenggang di Munas Golkar.

"Ya betul arahnya ke sana, supaya tidak ada konflik internal. Seperti biasa ini kan proses," jelas Fadel.

Fadel berharap jika Airlangga menjabat kembali kursi Ketum Golkar nanti, citra partai berlambang beringin ini bisa kembali baik. Semuanya juga dapat mendukung kinerja Golkar sampai pada masa pemilu berikutnya.

"Harapannya bagus, Insya Allah semua baik. Golkar menyatu untuk mendukung mereka," tutur dia

Sementara itu, Ketua DPP Partai Golkar Dito Ariotedjo menegaskan tidak ada kesepakatan yang terjadi antara keduanya, dan dari pihak Bamsoet yang memiliki kesadaran penuh memberikan dukungan kepada Airlangga.

"Setahu saya bukan tukar jabatan yah, itu kesadaran (Bamsoet) sendiri," ungkap dia.

Dengan dukungan yang diberikan Bamsoet, Dito mengapresiasi mantan Ketua DPR RI itu sehingga bisa memuluskan jalan Airlangga sebagai Ketua Umum Golkar.

"Peluang Airlangga terlihat semakin mulus untuk kembali menjabat ketua umum Golkar, terlebih sejak bersatunya pak Bamsoet bersama pak Airlangga Hartarto. Semoga sampai Munas kekompakan dan kesolidan ini terjaga. Agar lebih siap menghadapi tantangan Golkar ke depan," ujar Dito.

Menanggapi hal itu, Peneliti Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandes menyambut baik konsolidasi internal Partai Golkar. "Nah tentu sekarang kalau kita lihat, posisi Airlangga seperti di atas angin di Munas," kata Arya.

Tapi dia memberikan catatan, dalam sejarah Partai Golkar pascareformasi dinamika menjelang Munas adalah hal yang biasa terjadi. Misalnya, saat Surya Paloh pernah berhadapan dengan Aburizal Bakrie, lalu ada Jusuf Kalla berhadapan dengan Akbar Tandjung. Arya mengingatkan Airlangga jangan senang dahulu karena bisa jadi ada kandidat lain yang bisa muncul kemudian.

"Golkar kan identik dengan kompetisi internal dan menurut saya dengan dinamika internal yang tinggi kemudian dengan karakter partai sebagai partai yang mengedepankan internal dan mengedepankan demokratisasi internal. Artinya calon kuda hitam itu ada potensinya. Kompetisi di Golkar itu tinggi," ujarnya.

(mdk/ded)