Benarkah koalisi Prabowo-Sandi mulai rapuh?

POLITIK | 23 Oktober 2018 06:35 Reporter : Syifa Hanifah

Merdeka.com - Wakil Sekretaris TKN Jokowi-Ma'ruf, Raja Juli Antoni menilai ada kerapuhan dalam koalisi yang mengusung pasangan Prabowo-Sandi pada Pilpres 2019. Benarkah penilaian kubu Jokowi?

"Menunjukkan koalisi yang rapuh, di mana semuanya diborong satu partai. Presiden dan Wapres, Sekretaris, Bendahara, juga dari Gerindra," kata Raja Juli.

Dalam beberapa momen, memang ada migrasi dukungan dari barisan Prabowo-Sandi ke Jokowi-Ma'ruf. Bahkan muncul di publik kesan tidak kompak. Berikut ulasannya:

1 dari 4 halaman

Kader Demokrat pilih dukung Jokowi

Deddy Mizwar. ©2018 Merdeka.com

Kader Demokrat tidak sepenuhnya mendukung Prabowo-Sandi di Pilpres 2019. Padahal Demokrat adalah salah satu partai pendukung Prabowo-Sandi.

Beberapa kader Demokrat memilih mendukung Jokowi, seperti Deddy Mizwar, yang kini resmi menjadi juru bicara Jokowi-Ma'ruf. Gubernur Jatim Soekarwo, kemudian Tuan Guru Bajang Zainul Majdi, yang juga telah menyerahkan surat pengunduran dirinya sebagai kader per tanggal 19 Juli 2018 lalu.

2 dari 4 halaman

Deretan gubernur memilih dukung Jokowi

Lukas Enembe di Musda Demokrat Papua. ©2017 Merdeka.com

Gubernur yang berasal dari partai koalisi Prabowo-Sandi juga ada yang memilih bergabung mendukung Jokowi-Ma'ruf. Di antaranya, Gubernur Maluku Utara Abdul Gani Kasuba yang berasal dari PKS. Kemudian ada nama Lukas Enembe. Gubernur Papua itu juga terang-terangan menyatakan seluruh kader Partai Demokrat di Papua mendukung pasangan bakal capres-cawapres Joko Widodo-Ma'ruf Amin di Pilpres 2019.

"Saya sudah sampaikan kepada Pak Sekjen (Demokrat), ini semua kader Demokrat, baik bupati semua dukung Jokowi. Sudah saya kasih tahu begitu," kata Lukas Enembe.

3 dari 4 halaman

Caleg PAN ogah mengkampanyekan Prabowo-Sandi

sekjen PAN Eddy Soeparno. ©2017 Merdeka.com/eddysoeparno.com

Dalam acara survei Polmark Sekretaris Jenderal PAN, Eddy Soeparno mengatakan calegnya enggan mengkampanyekan Prabowo-Sandi. Alasannya, tidak ada keuntungan bagi PAN.

"Bahkan sekarang, di antara caleg kita yang berjuang di daerah, mohon maaf ketum, mohon maaf sekjen. Tetapi di bawah saya mungkin tidak bisa terang-terangan untuk berpartisipasi dalam pemenangan Pak Prabowo. Karena konstituen saya tidak sejalan dengan itu. Jadi mohon maaf," kata Eddy saat diskusi Polmark di Hotel Veranda, Jakarta Selatan, Kamis (18/10).

4 dari 4 halaman

PKS hanya kampanyekan Sandi?

Kampanye PKS. ©2014 merdeka.com/imam buhori

Dalam beberapa hari beredar surat internal PKS. Inti surat itu adalah instruksi dari elite PKS agar kadernya menkampanyekan Sandiaga Uno. Dalam surat itu hanya tertulis nama Sandi, tidak ada Prabowo Subianto.

Dalam surat yang dikeluarkan pada tanggal 17 September 2018 tertulis semua kader dari Fraksi PKS harus menginisiasi untuk memenangan Sandiaga di Pilpres 2019. Hal itu dilakukan untuk mendapatkan efek ekor jas (coattail effect) bagi PKS.

Para anggota fraksi juga diharuskan mengoordinasikan jadwal kampanye ke Direktur Pencapresan PKS, Mardani Ali Sera.

"Memang ada surat edaran itu. Bukan berarti belum dilakukan kampanye pileg dan pilpres. Itu hanya menegaskan, menguatkan, jadi kebijakan dasarnya kita, PKS mendukung Prabowo-Sandi sebagai capres-cawapres," kata Wakil Ketua Majelis Syura PKS Hidayat Nur Wahid. (mdk/has)

Baca juga:
Ditetapkan tersangka, Ahmad Dhani masih tetap Jurkamnas Prabowo-Sandi
Gerindra nilai wajar PKS 'ngarep' coattail effect dari Sandiaga
Prabowo: Resolusi jihad adalah bagian penting dalam lahirnya Indonesia
Demi coattail effect, PKS instruksikan kader kampanyekan Sandiaga Uno
Gerindra: Jokowi raja utang, 2019 kita mesti ganti presiden
PDIP jawab serangan Fadli Zon ke Jokowi: Bedakan kebohongan & belum capai target