BPN Sebut Kegiatan Apel Kebangsaan di Simpang Lima Potensi Disusupi Kampanye
POLITIK | 15 Maret 2019 02:30 Reporter : Danny Adriadhi Utama

Merdeka.com - Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi menilai kegiatan Pemprov Jawa Tengah yang menggelar Apel Kebangsaan bertajuk 'Kita Merah Putih' di Lapangan Simpang Lima, Semarang pada Minggu (17/3) berpotensi disusupi agenda kampanye yang tidak sesuai aturan.

Direktur Materi dan Debat BPN Prabowo-Sandi, Sudirman Said mengatakan, Apel kebangsaan itu bisa saja menjadi acara pengerahan aparatur sipil negara (ASN). Sehingga, dia mengungkapkan, acara tersebut berpotensi disisipi kampanye mendukung salah satu pasangan calon.

"Tapi pengerahan ASN dan perangkat pemerintahan di hari terakhir pemilu itu harus dilihat secara cermat, karena acara melibatkan 35 kabupaten kota Jateng. Kami minta Bawaslu juga ikut serta berperan dalam pengawasan," katanya di posko pemenangan, Semarang, Kamis (14/3).

Dia menjelaskan, kegiatan apel kebangsaan sebenarnya tidak akan menjadi persoalan selama dilakukan sesuai dengan aturan. Untuk itu, mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral itu meminta Pemprov Jateng terbuka mengenai sumber dana apel tersebut.

"Jika potensi kampanye, tidak masalah. Tapi harus jelas sumber dananya, harus datang dari pasangan calon, bukan dari APBD. Kita akan cek, jika benar dari APBD untuk kampanye itu bagian dari pelanggaran netralitas," jelasnya.

Pada kegiatan itu, akan ada Deklarasi Kebangsaan yang rencananya dibacakan oleh Gubernur Jateng sebelum nantinya ditutup dengan menyerahkan simbol kebangsaan pada generasi muda diiringi lagi Bagimu Negeri. Sebagai wujud untuk meneruskan semangat nasionalisme pada anak muda dan menyampaikan pesan agar mereka turut merawat keberagaman Indonesia.

"Nanti kita lihat, hari Minggu akan seperti apa. Tapi akan lebih baik, pemimpin di semua level, presiden, menteri, gubernur, bupati, wali kota, semua itu memberi contoh yang baik. Bahwa yang kalian urus adalah negara dan bangsa keseluruhan," ujarnya.

Seperti diketahui Pemerintah Provinsi Jateng berencana akan menggelar Apel Kebangsaan yang akan dihadiri berbagai elemen masyarakat sebagai wujud keberagaman Indonesia. Adapun komponen yang dilibatkan meliput santri,pramuka, linmas, pekerja, petani, nelayan, pelajar, seniman, mahasiswa, pelajar, tokoh lintas agama hingga olahragawan dan kelompok difabel.

Kegiatan ini rencananya, akan dimulai pukul 06.00 WIB dan dibagi ke dalam dua segmen. Pertama, Suara Kebangsaan dan segmen kedua Orasi serta Deklarasi Kebangsaan.

Terdapat empat panggung untuk acara ini dengan panggung utama di lapangan Simpang Lima. Lalu panggung di Jalan Pahlawan, Jalan Pandanaran dan Jalan Ahmad Yani. Sejumlah tokoh juga akan naik ke panggung untuk mengisi orasi. Mereka adalah sosok dengan komitmen dan perhatiannya pada pembangunan semangat nasionalisme dan kebangsaan.

Para tokoh tersebut antara lain, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, KH. Maimun Zubair, Habib Luthfi, Gus Muwafiq, KH Munif Zuhri, Prof Mahfud MD, KH Ahmad Daroji, Uskup Rubiatmoko (Keuskupan Agung Semarang), Pendeta Eka Laksa (PGI), Nyoman Suraharta (PHDI), Go Boen Tjien (Matakin) dan Pujianto (Walubi).

Tidak sekedar orasi, acara ini juga akan dimeriahkan pertunjukkan musik dari sejumlah musisi ternama. Sebut saja Slank, Letto, Armada, Virza, serta Nella Kharisma. Dan yang tak kalah heboh adalah host-nya, yaitu Vincent-Desta dan Cak Lontong. Selain itu juga ada paduan suara mahasiswa, paduan suara gereja, Tari Saman dari siswa SMA, salawat Kanzus Habib Ali Zaenal Abidin, dan ada juga Tarian Barongsai.

Baca juga:
AHY & Petinggi Demokrat Datangi Rumah Prabowo Subianto
KPU Ingatkan Hasil Quick Count Baru Boleh Dirilis 2 Jam Setelah TPS Tutup
BPN Prabowo Anggap Ma'ruf Ikut Debat Bukan Sebagai Ulama, Tapi Politisi Ulung
Komunitas Siber Prabowo & Influencer se-Surabaya Diskusi Bahas Kedaulatan Digital
Cak Imin soal Prabowo Tak Percaya Survei: Jangan Pakai Lembaga Abal-Abal
PKB Inisiasi Gerakan Nusantara Bertauhid Demi Tangkal Perpecahan di Pilpres

(mdk/fik)