DPR Minta Pembukaan Sekolah Tak Serentak, Cuma di Zona Hijau Covid-19

DPR Minta Pembukaan Sekolah Tak Serentak, Cuma di Zona Hijau Covid-19
POLITIK | 29 Mei 2020 10:06 Reporter : Ahda Bayhaqi

Merdeka.com - Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian meminta pembukaan tahun ajaran baru dibedakan setiap wilayah. Hetifah menilai, hanya sekolah di zona hijau bisa beraktivitas kembali. Hetifah mengatakan, prioritas utama adalah keselamatan siswa dan guru, kurikulum tidak masalah dinomorduakan.

"Jikalau memang sekolah ingin dibuka, harus dipastikan memang hanya untuk daerah yang berada dalam zona hijau sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Gugus Tugas Penanganan Covid-19," ujar Hetifah dalam keterangan yang diterima, Jumat (29/5).

Kendati sekolah dibuka kembali, kegiatan belajar mengajar diharapkan mengkombinasikan tatap muka dan virtual. Agar meminimalisir kontak langsung dan mengoptimalkan sarana dan prasarana yang ada.

"Kemendikbud harus terus menggencarkan program peningkatan kapasitas guru, kepala sekolah, dan orangtua agar hal ini dapat berjalan efektif," kata Hetifah.

Hetifah meminta, tenaga pendidik menjadi pihak yang aktif memantau keadaan para murid baik kesehatan jasmani maupun rohani. Serta diharapkan mensosialisasikan gerakan hidup sehat kepada siswa dan orangtua.

"Tenaga UKS juga harus dioptimalkan. Mereka harus secara aktif melakukan pengecekan kondisi kesehatan tiap muridnya setiap pagi sebelum masuk sekolah," ucapnya.

1 dari 1 halaman

Hetifah mengakui tak semua wilayah terjangkau akses internet. Sehingga, dia meminta Kemendikbud dan Kominfo bekerjasama untuk menyediakan akses internet ke pelosok.

"Sebelum hal itu terwujud, Kemendikbud harus memikirkan program-program afirmasi bagi mereka, seperti program-program TVRI dan RRI, pendampingan guru ke rumah, dan lain-lain," ucapnya.

Politikus Golkar ini mengingatkan, pembukaan sekolah harus dibarengi penerapan standar yang baru. Hetifah mengatakan, sarana dan prasarana sanitasi perlu diperbaiki hingga ruang kelas diterapkan protokol kesehatan seperti menjaga jarak.

"Untuk sekolah yang belum dapat memenuhi standar-standar diatas, lebih baik untuk tidak dipaksakan dibuka dahulu," kata dia.

Lebih lanjut, Hetifah meminta Kemendikbud mencontoh pembukaan kegiatan belajar dari negara lain. Seperti di Australia yang memberlakukan murid hanya masuk seminggu sekali.

"Hal ini hanya agar guru dapat mengevaluasi keberjalanan pembelajaran daring yang telah dilakukan seminggu kebelakang, dan memberikan arahan untuk seminggu ke depan. Pertemuan antar-murid sangat diminimalisir," ucapnya. (mdk/rnd)

Baca juga:
Menantikan Kebijakan New Normal untuk Dunia Pendidikan
Penerimaan Siswa Baru di Kota Tangerang Dibuka Online Mulai 11 Juni
FSGI: Pembelajaran Jarak Jauh Terbaik Jika Penyebaran Covid-19 Masih Tinggi
Kemendikbud: Tahun Ajaran Baru Tidak Dimundurkan
Pemerintah Diminta Fokus Belajar Daring Ketimbang Kembali Sekolah di Tengah Pandemi
Sekolah Mau Dibuka, Federasi Guru Ingatkan Kebijakan Jangan Bikin Bingung

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Pariwisata Banyuwangi Bersiap Menyambut New Normal

5