Elite Gerindra Selidiki Dugaan Ketua DPC Tangerang Aniaya PAC Sindang Jaya

POLITIK | 7 Agustus 2019 18:27 Reporter : Kirom

Merdeka.com - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra dan Anggota DPR RI Daerah Pemilihan Banten III, Tangerang Raya, Sufmi Dasco, mengaku pernah mendengar isu kematian pengurus PAC Gerindra Sindang Jaya, alm Tasikin Doni, akibat penganiayaan yang dilakukan sesama rekan pengurus DPC Gerindra Kabupaten Tangerang.

"Saya pernah dengar isu ini. Inikan sudah lama ya isunya, kemudian hilang. Karena saya juga sibuk Pilpres segala macam," kata Sufmi Dasco, Rabu (7/8).

Dia mengaku akan segera memanggil dan meminta klarifikasi terhadap dugaan kasus tersebut, kepada yang bersangkutan yakni Ketua DPC Gerindra Kabupaten Tangerang inisial RGS.

Namun, sejak awal Dasco menyangsikan kebenaran isu tersebut. Karena rumor itu datang saat mendekati masa pergantian pengurus DPC di Kabupaten Tangerang.

"Saya akan coba klarifikasi dengan yang bersangkutan. Saya tidak tahu, apakah itu memang benar kejadian atau karena ada persaingan tidak sehat, soal ketua yang baru. Karena salah satu calon kuat adalah dia (RGS)," ungkap Sufmi Dasco.

Meski begitu, Sufmi Dasco mengaku sangat menyayangkan kejadian tersebut, dan memastikan akan meminta penjelasan yang sebenar-benarnya kepada kedua belah pihak.

"Saya kenal keduanya, almarhum itu yang mengenalkan saya dengan dia (RGS). Tapi kita akan cek seksama, akan kita dalami, karena kejadian ini sudah lama dan isunya baru keluar, saya juga menyayangkan keluarganya juga telepon saya," tandas Dasco.

Sebelumnya, keluarga almarhum Tasikin Doni, mengaku hanya bisa pasrah. Keluarga juga tak berani mengadukan dugaan penganiayaan tersebut ke polisi.

Sebelum meninggal korban sempat bercerita mengenai dugaan penganiayaan dialaminya kepada istri dan orang-orang. Korban pun disarankan melaporkan dugaan penganiayaan itu ke polisi.

"Waktu itu banyak yang mengetahui dari cerita almarhum. Orang-orang yang mendengar itu juga mengajak suami saya melapor, tapi dilarang. Karena takut ada apa-apa sama saya dan anak," kata istri almarhum Tasikin Doni, Nita Maryanti kepada wartawan, Selasa (6/8).

Bahkan, sampai menjalani perawatan di rumah sakit hingga akhirnya meninggal dunia, almarhum meminta dugaan kasus penganiayaan ini tidak diekspos keluar. Meskipun keluarga besar korban sempat meminta kasus ini ditindaklanjuti secara hukum.

"Almarhum sempat cerita banyak kalau dipukuli, dicekik, bahkan dijeblesin (dipentokin ke tembok). Tapi almarhum enggan melaporkan ke polisi karena takut. Bahkan kami juga sempat diancam," tuturnya.

Ketika dikonfirmasi, Ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten Tangerang, RGS membantah tudingan tersebut. Menurut RGS isu itu sengaja dihembuskan jelang pelantikan DPRD Kabupaten Tangerang, karena dirinya kembali terpilih sebagai anggota DPRD periode 2019-2024.

Dalam ceritanya (RGS), peristiwa yang terjadi di kediamannya pada tanggal (18/4) itu, hanya perdebatan seputar form C1 yang disetorkan ke DPC. Padahal menurut RGS seharusnya form C1 itu diserahkan ke dirinya untuk mengcounter rapat pleno di kecamatan.

"Banyak saksinya kok, tidak ada pemukulan. Tapi tiba-tiba almarhum pak Doni lapor ke pak jaro katanya dipukulin," ungkap RGS.

Namun RGS tidak tuntas saat menceritakan kronologi perdebatan yang terjadi di rumahnya pada 18 April tersebut. Menurut RGS, dirinya sudah menjelaskan peristiwa ini ke pihak keluarga dan dirinya sudah meminta maaf secara pribadi maupun secara institusi parpol. (mdk/rnd)

Baca juga:
Ditemani Petinggi Gerindra, Prabowo Dikabarkan Sudah Tiba di Bali untuk Kongres PDIP
Sekjen PPP Sebut Kadernya Berpeluang jadi Ketua MPR jika Gunakan Sistem Paket
PPP Ingatkan Fadli Kalau Gerindra Mau Gabung Jangan Kritik Pemerintah
Fadli Zon Minta Jangan Kriminalisasi Pohon Terkait Listrik Padam
Diancam, Korban Dugaan Penganiayaan Ketua DPC Gerindra Tangerang Takut Lapor Polisi
Fadli Zon soal Insiden Listrik Padam: Harus Ada yang Bertanggung Jawab
Fadli Sebut Larangan Eks Napi Korupsi Maju Pilkada Harus Sesuai UU

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.