Golkar NTT Nilai Tak Ada Alasan Mendasar untuk Percepatan Munas

POLITIK | 26 Juni 2019 11:29 Reporter : Eko Prasetya

Merdeka.com - Ketua DPD Partai Golkar Nusa Tenggara Timur (NTT), Melki Laka Lena menegaskan bersama jajaran pengurusnya baik tingkat Provinsi maupun DPD II pada 22 Kabupaten/Kota menolak keras yang namanya ajakan Munaslub.

"Bagi Partai Golkar NTT baik Provinsi maupun para pengurus dari 22 Kabupaten dan Kota menolak keras yang namanya Munaslub. Itu hanya desakan oknumoknum, pribadipribadi saja. Dan itu kami dari NTT akan tantang," kata Ketua DPD Partai Golkar NTT Melki Laka Lena, Rabu (26/6).

Melki menyebutkan sudah berkoordinasi dengan para pengurus Partai, DPD dari sejumlah Provinsi. Semuanya sepakat dan secara tegas menolak gerilya sejumlah pribadi, atau oknumoknum yang meminta Munaslub.

"Saya sudah menelepon beberapa teman ketua Partai Golkar dari beberapa provinsi. Mereka menyatakan yang sama, hampir semuanya menolak yang namanya Munaslub," jelas Melki.

Dia menegaskan pengurus DPP sekarang ini masa baktinya tinggal enam bulan karena akan berakhir pada bulan Desember 2019 mendatang.

"Jika Munaslub maka ketua terpilih hanya bertugas enam bulan saja. Karena Desember akan ada Munas yang normal. Karena itu kami tolak," ujarnya.

Selain itu sebut Melki, tidak ada alasan yang krusial untuk menggelar Munaslub Golkar. Apalagi semua pengurus juga sudah lelah menggelar Munaslub selama beberapa tahun ini.

"Tidak ada satu alasan kuat dan mendasar untuk dilaksanakan Munaslub. Mereka pribadipribadi itu terus gerilya untuk Munaslub. Ketika ditanya alasan mendasar apa juga mereka tidak bisa menjelaskan. Mereka kontak kami. Ketika kami tanya alasan mereka tidak menjawab," ujarnya.

Kalau permintaan mereka dengan dalih karena suara Golkar turun pada Pemilu tahun 2019 ini juga tidak bisa diterima.

"Yang ini juga tidak bisa diterima. Ini dalil tak masuk akal yang dimainkan oknumoknum kader Partai yang tidak berdasar. Semua komunikasi mereka dengan para pengurus di daerah, ditolak. Saya harap mereka sadar dan kembali ke jalan yang benar. Kalau itu mereka laksanakan, minta maaf pasti akan dimaafkan juga," kata Melki.

(mdk/eko)