Ini kata Hatta Rajasa soal ricuh pencoblosan di Hong Kong

Ini kata Hatta Rajasa soal ricuh pencoblosan di Hong Kong
POLITIK | 7 Juli 2014 18:16 Reporter : Angga Yudha Pratomo

Merdeka.com - Pemungutan suara Pilpres 2014 di Hong Kong kemarin berlangsung ricuh. Pasalnya, banyak Warga Negara Indonesia (WNI) di sana yang tidak dapat memberikan hak suaranya.

Menanggapi hal itu, calon wakil presiden Hatta Rajasa meminta Komisi Pemilihan Umum (KPU) segera bertindak. "Saya kira KPU harus mengambil jalan, mumpung masih ada waktu sekarang ini. Karena hak memilih dan hak dipilih itu hak konstitusi warga negara. Jadi sedapat mungkin kalau bisa difasilitasi untuk dicarikan jalan keluarnya," ujar Hatta di Sukabumi, Jawa Barat, Senin (7/7).

Di sisi lain, ketika dimintai keterangan soal dugaan Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) di Hongkong tidak netral, manta Menko Perekonomian itu langsung mendesak lembaga pengawas Pemlu agar lebih aktif. Bahkan, Hatta menyebut bahwa Bawaslu seharusnya bisa mengambil tindakan tegas.

"Bawaslu harus memeriksa (dugaan) itu. Karena bagaimanapun juga, memilih itu adalah hak setiap warga negara. Walaupun dia tak wajib menyalurkannya, tapi hak warga negara harus dijamin," tuntasnya.

Seperti diketahui, KPU telah menetapkan Pemilu Presiden (Pilpres) di luar negeri berlangsung mulai tanggal 4 Juli dan berakhir 6 Juli. Namun, Pemilihan Presiden yang berlangsung di lapangan Victoria Park, Hong Kong berakhir ricuh.

Hal tersebut tidak terlepas banyaknya Warga Negara Indonesia (WNI) yang tidak bisa menggunakan hak suaranya akibat keterbatasan waktu. Salah seorang WNI, Fera Nuraini mengatakan, ribuan WNI yang berada di sana telah mengantre sejak pukul 07.00 waktu Hong Kong.

"Izin lapangan hanya sampai jam 5 sore, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) sudah meminta perpanjangan waktu tapi tidak diberikan oleh pihak Victoria Park," ujar Fera kepada merdeka.com, Minggu (6/7).

Lanjut Fera, ada sekitar 500 WNI dari 32 ribu Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang tidak bisa menyalurkan aspirasinya tersebut. Kemudian mereka meminta keterangan panitia dari KJRI, PPLN dan Bawaslu.

"Mereka menjawab tidak bisa berbuat apa-apa karena keputusan ada di KPU pusat bahwa pencoblosan hanya sampai jam 5 sore waktu Hong Kong." (mdk/ren)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami