Jika Gaya Komunikasi Tak Diubah, Elektabilitas Jokowi Bakal 50:50 dengan Prabowo

POLITIK | 4 Desember 2018 14:27 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Dua calon presiden Joko Widodo alias Jokowi dan Prabowo Subianto dinilai tidak memanfaatkan peran juru bicara (jubir) dalam kampanye mereka. Padahal para capres, terutama Jokowi, dapat mengurangi blunder dengan adanya jubir.

"Harusnya Jokowi menggunakan juru bicara, jadi kalau-kalau salah bisa di-counter. Tapi enggak, pak Jokowi senang ngomong sendiri," kata Pakar komunikasi Hendri Satrio di diskusi Setnas Prabowo-Sandiaga, Menteng, Selasa (4/12).

Menurut Satrio, para capres menanggapi suatu peristiwa di akhir sedangkan para jubir menanggapi di awal, dengan demikian maka akan mengurangi kesalahan.

"Lebih baik fungsi jubir digunakan, jadi kalau ada salah bisa diperbaiki," ujarnya.

Satrio menilai, capres harus lebih hati-hati dalam menyampaikan pendapat. "Sekarang harus hati-hati nanti blunder lagi. Sekarang pak Prabowo tone jadi lebih tenang, jadi bagaimana tim medianya," ucapnya.

"Sementara Pak Jokowi, enggak harus semua pertanyaan wartawan dijawab, kalau belum ada jawabannya enggak dijawab enggak apa-apa," tambah Satrio.

Sario menyatakan pertarungan Pilpres 2019 berbeda dengan 2014. Dia mencontohkan pada 2014 Jokowi memiliki banyak relawan. Namun, di Pilpres 2019, para relawannya itu sudah banyak menjadi komisaris.

"Sementara di kubu Pak Prabowo ada alumni 212 yang sangat militan," ucapnya.

Apabila gaya komunikasi Jokowi tidak diubah, Satrio memperkirakan elektabilitas Jokowi vs Prabowo akan sama pada Februari 2019 mendatang.

"Ini kalau dibiarkan sampai Februari akan 50:50," tandasnya.

Baca juga:
Ini Analisa Mengapa Jokowi Terapkan Strategi Menyerang di Pilpres 2019
Ketua KPK Minta Ketua Umum Parpol Serius Tegakkan Sistem Integritas
MUI Prihatin Pendukung Capres Sibuk Sebar Ujaran Kebencian dan Hoaks
Danny Pomanto Ungkap Alasan Dukung Jokowi Sekali Lagi Pimpin RI
DPD Tanah Bumbu Dukung Jokowi, Sekjen PAN Serahkan ke DPW Kalsel
Kubu Prabowo: Pengkritik Reuni 212 Tak Suka Umat Islam Bersatu

(mdk/dan)