Jokowi Diingatkan Pilih Menteri yang Berpengalaman Atasi Konflik Sosial

POLITIK | 19 Oktober 2019 19:55 Reporter : Iqbal Fadil

Merdeka.com - Presiden Joko Widodo memberi sinyal bahwa kabinet baru pemerintahannya akan diumumkan dalam waktu dekat tak lama setelah pelantikannya. Sinyal itu juga diberikan oleh Jokowi lewat postingan media sosial instagram milik Jokowi.

Lewat postingan itu, dia mengatakan agar warganet bersabar karena sebentar lagi akan diumumkan, tinggal menunggu waktunya.

Namun demikian, dalam memilih siapa menteri di kabinet kedua ini, Presiden Jokowi harus memilih anak buahnya yang mampu mengatasi konflik sosial dan menangani potensi disintegrasi yang terjadi belakangan ini.

"Saya kira ini wajib memilih menteri yang berkualitas, karena kalau kita bicara masalah konflik sosial memang harus diselesaikan, kasus seperti Aceh, Papua, harus jadi perhatian betul Presiden," ujar Pengamat Politik dari Indo Barometer Muhammad Qodhari ketika dihubungi wartawan, Sabtu (19/10/2019).

Tak hanya itu, lanjut dia, Presiden Jokowi juga harus mampu memilih menteri yang mengerti masalah kekinian. Misal seperti potensi konflik di wilayah-wilayah rawan gejolak sosial. Seperti yang terjadi di Aceh yg terbilang sensitif benturan.

Yang paling penting adalah masalah-masalah seperti yang terjadi saat ini, mengenai intoleransi, radikalisme, dan konflik sosial akar rumput. Karena Ini umumnya sering muncul. Seperti masalah Papua bukan hanya masalah di keamanan saja, tetapi lebih kepada intoleransi dan radikalisme.

"Saya kira ini masalah besar ini, yang harus benar benar diperhatikan," kata dia.

Kunci dari masalah masalah di atas itu adalah ada di Kementerian-kementerian dalam hal ini anak buah Jokowi di Kabinet periode dua ini. Kabinet Jokowi bisa belajar dari penyelesaian konflik di Aceh sedikit banyak memberi pengalaman empiris.

Kementerian-kementerian tertentu memiliki peran sentral dalam mencegah terjadinya konflik sosial yang kerap muncul di kalangan masyarakat. Misalnya di Kemendikbud ada Diknas, ini yang memiliki peran, dalam hal ini memberikan pemahaman agar tidak terjadi permasalahan permasalahan sosial.

Untuk itu peran Menteri di periode kedua ini bisa mengatasi persoalan persoalan sosial yang dapat memicu konflik. "Masalah masalah menjadi pekerja rumah ini di periode kedua ini bisa diselesaikan melalui pendekatan pendekatan yang baru. "Jangan pakai rumusan yang pertama di periode kedua ini," ujar Qodari.

Di timur Indonesia masih punya masalah di Papua, di Barat punya pengalaman konflik sosial berkepanjangan di Aceh. Pengalaman di Aceh harus harus jadi perhatian serius Jokowi Amin.

Maka menterinya harus kuat, agar kedua isu itu bisa dikelola dengan aman. Jangan sampai terjadi terjadi lagi konflik intoleransi dan radikalisme ini di kemudian hari," ujar dia.

Termasuk, lanjut dia, Jokowi perlu memiliki menteri, yang memiliki kemampuan lobi di level internasional. Salah satunya, seperti konflik yang mencuat di kalangan internasional.

"Persoalan Papua, Aceh, yang terjadi bukan hanya masalah ekonomi saja. Maka pembantu Presiden Jokowi harus bisa menyelesaikan masalah masalah yang terjadi, pendekatan nya bukan lagi seperti pendekatan yang pertama," tutup Qodari.

Baca juga:
Sambut Pemerintahan Baru, Ini Pekerjaan Rumah Jokowi-Ma'ruf 5 Tahun ke Depan
Sekjen PPP Prediksi Jokowi Umumkan Menteri 1-3 Hari Setelah Pelantikan
Keluar dari RSPAD, Wiranto Hadiri Acara Perpisahan di Kantor Kemenko Polhukam
Gerindra dan Demokrat Bergabung di Kabinet Jokowi, Ini Kata Akbar Tandjung
Analisa Indo Barometer soal Peluang Prabowo Subianto jadi Menhan
Ilham Habibie Siap Jika Diminta Jokowi Menjadi Menteri

(mdk/bal)