Kiai Vs Santri Sendiri di Pilkada Jember

Kiai Vs Santri Sendiri di Pilkada Jember
Kiai Berhadapan Dengan Santri Sendiri di Pilkada Jember 2020. ©2020 Istimewa
POLITIK | 5 September 2020 17:17 Reporter : Muhammad Permana

Merdeka.com - Panggung politik kerap menghadirkan kejutan tersendiri. Seperti yang terjadi di Jember, Jawa Timur.

Seorang bakal calon wakil bupati harus berhadapan dengan salah satu kontestan yang terhitung masih 'santrinya' sendiri. Fenomena santri berhadapan dengan kiainya sendiri merupakan fenomena yang unik di kalangan pesantren khususnya warga NU.

Adalah KH Muhammad Balya Firjaun Barlaman atau Gus Firjaun yang maju sebagai bakal calon wakil bupati (bacawabup) berdampingan dengan pengusaha H. Hendy Siswanto. Gus Firjaun saat ini aktif sebagai pengasuh Pondok Pesantren Ash-Shiddiq Putra (Ashtra). Ia meneruskan jejak sang ayah, KH Achmad Shiddiq yang merupakan mantan Rais Am PB NU (1984 – 1991).

Sementara itu, di kubu seberang, terdapat Ifan Ariadna Wijaya yang merupakan bakal calon wakil bupati, mendampingi Abdussalam. Kedua orang tersebut sama-sama berlatar belakang pengusaha dengan usia 40 tahun ke bawah.

Ifan ternyata pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren Ashtra. Namun keduanya tidak sempat bertemu. Karena ketika Ifan menimba ilmu di Pesantren Ashtra, Firjaun sedang menimba ilmu di Pondok Pesantren Al Falah, Kediri, yang merupakan salah satu pesantren tua di Jawa.

Meski berhadapan dengan santri sendiri, Firjaun menyebut, keputusan Ifan untuk maju dalam Pilkada Jember 2020 adalah hak politik yang harus dihormati.

"Ya itu hak politik beliau ya, saya tidak ingin menghalangi hak setiap warga. Dari keluarga besar saya juga tidak masalah. Karena kita tidak ada beban harus menang, kalah juga tidak masalah," kata pria berusia 52 tahun ini.

Firjaun menegaskan, pilihannya untuk maju dalam Pilkada karena dorongan dari para gurunya yang kini menduduki struktur di PW NU Jawa Timur. “Saya sebelumnya beberapa kali menolak tawaran Haji Hendy untuk maju. Tetapi karena perintah dari masyayikh ( para guru di pesantren), saya sebagai santri harus taat,” ujar mantan anggota DPRD Jawa Timur ini.

Jauh sebelum resmi maju, Firjaun mengakui sempat bertemu secara langsung dengan Ifan Ariadna. Saat itu, Ifan sudah mulai rajin menyosialisasikan diri untuk maju dalam Pilkada Jember 2020. Sedangkan Firjaun, saat itu masih menolak tawaran dari Hendy untuk maju dalam Pilkada Jember.

"Saat itu saya sampaikan, mas Ifan ini kan masih muda, pengalaman politik belum banyak. Sedangkan posisi petahana saat ini masih sangat kuat. Saya sarankan, apa tidak sebaiknya dia investasi dulu selama lima tahun, lalu maju di periode berikutnya. Saya bicara seperti itu, karena saat itu posisi saya belum resmi dan sudah menolak untuk maju. Makanya saya menyarankan seperti itu (agar Ifan mundur),” tutur Firjaun.

Saran agar Ifan menunda niatnya maju dalam Pilkada, disampaikan Firjaun karena khawatir jika calon semakin banyak, maka peluang petahana saat ini akan semakin besar untuk kembali terpilih. Namun, saran Firjaun itu ditolak oleh Ifan.

"Tapi ternyata dia punya pertimbangan lain. Karena ada tugas katanya,” papar Firjaun.

Meski sarannya ditolak sang murid, Firjaun tidak merasa keberatan. “Kalau dia menganggap saya guru, ya taat seharusnya. Tetapi karena ini politik, maka dibalik, ya tidak apa-apa. Guru yang memberikan muridnya kesempatan untuk berprestasi,” kata Firjaun sembari tertawa.

Baca Selanjutnya: 3 Kali Sowan...

Halaman

(mdk/gil)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami