Kubu Jokowi Komitmen Jaga Marwah Prabowo Pasca Pilpres 2019

POLITIK | 23 April 2019 21:15 Reporter : Yunita Amalia

Merdeka.com - Direktur Program Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf, Aria Bima mengapresiasi wacana adanya upaya rekonsiliasi oleh kedua belah pihak pasangan calon Presiden-Wakil Presiden pasca perhelatan Pemilu 2019. Meski tensi tinggi saat Pemilu tak terhindarkan, dia mengatakan, pihaknya berkomitmen menjaga marwah Prabowo Subianto.

Ditemui di posko pemenangan Jokowi-Ma'ruf, dia mengungkapkan, upaya ini terus dilakukan agar tidak terus menerus meninggalkan luka batin, terkhusus kepada Prabowo Subianto yang kembali berduel dengan Jokowi.

"Saya kira Pak Jokowi juga berkeinginan membela Pak Prabowo dengan cara yang benar dengan cara yang tetap menjaga marwah kewibawaan dan kehormatan pak prabowo," katanya, Selasa (23/4).

Kendati wacana rekonsiliasi belum menunjukkan realisasinya dalam waktu dekat, Aria meyakini hal itu akan terjadi tinggal menyesuaikan waktu keduanya. Dia menambahkan upaya rekonsiliasi tidak hanya mencocokkan waktu namun juga memantapkan hati masing-masing usai kontestasi yang disebutnya menguras energi dan pikiran.

"Kami paham betul itu (rekonsiliasi) mungkin belum bisa, atau belum saatnya atau nunggu waktu yang tepat. Tapi kami tetap percaya sikap patriotik Pak Prabowo ini yang akan tetap menjadi pertalian batin diantara mereka berdua yang menginginkan bagaimana suasana damai persatuan dan kesatuan itu harus tetap dikedepankan," tukasnya.

Berbeda dengan Aria soal rekonsiliasi, Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Dahnil Anzar Simanjuntak menilai bahwa gelaran Pilpres 2019 saat ini baik-baik saja. Menurutnya, tak ada gesekan antara kubu 01 dan 02 sehingga diperlukan rekonsiliasi.

"Rekonsiliasi itu dilakukan kalau ada konflik. Emang sekarang ada konflik? Kan enggak ada. Jadi justru cara berpikirnya yang harusnya diperbaiki," kata Dahnil di Prabowo-Sandi Media Center Jalan Sriwijaya I No 35, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (22/4).

Menurut Dahnil, perdebatan saat ini merupakan hasil perhitungan suara yang berbeda. Itu pun wajar dalam gelaran pesta demokrasi.

"Ini enggak ada konflik sama sekali. Yang muncul adalah perdebatan biasa saja antara perbedaan hasil yang muncul," ucapnya.

"Dan itu biasa saja dalam setiap kompetisi. Jadi rekonsiliasi itu bisa dilakukan kalau ada konflik," tambah Dahnil.

Kemudian, menurut Dahnil, situasi panas yang terjadi saat ini lantaran banyaknya kecurangan yang terstruktur, sistematik, dan masif (TSM).

"Panas karena ada TSM itu. Kecurangan yang TSM. Panas karena ada ketidakadilan. Kalau semuanya baik-baik saja ya tidak masalah. Kuncinya penegakan hukum yang adil. Jadi perhatian khusus kita itu di situ," tandas Dahnil Anzar Simanjuntak.

(mdk/fik)