Ma'ruf Amin: Kemiskinan Tidak Bisa Diukur dengan Tipis Tebalnya Tempe

POLITIK | 7 Januari 2019 06:53 Reporter : Sania Mashabi

Merdeka.com - Calon Wakil Presiden nomor urut 01, Ma'ruf Amin angkat bicara terkait banyaknya kritik tentang tempe yang semakin mahal tetapi tipis seperti ATM. Menurutnya ketebalan tempe tidak bisa dijadikan ukuran keberhasilan dalam pemerintahan.

"Bahkan diumpamakan itu, kemisikinan itu makin banyak, harga-harga makin mahal. Sehingga tempe-tempenya sekarang, katanya kaya, kaya apa? Kartu ATM," kata Ma'ruf saat memberikan pidato di Hari Lahir (Harlah) PPP ke-46 di Kantor DPP PPP, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Minggu (6/1) malam.

"Menghilangkan kemiskinan, menghilangkan pengangguran itu, tidak bisa diukur dengan tipis tebalnya tempe," sambungnya.

Ma'ruf mengatakan ukuran keberhasilan pemerintahan hanya bisa dinilai oleh lembaga yang memiliki kredibilitas. Karena itu, lanjut dia, keberhasilan tidak bisa hanya dilihat dari titis dan tebalnya tempe.

"Itu melalui penilaian-penilaian oleh lembaga yang kredibel. Berhasil atau tidak yang sebenarnya itu sudah," ungkapnya.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu menilai selama ini banyak masyarakat yang masih mengingkari nikmat dari pemerintahan Calon Presidennya yakni Presiden Joko Widodo (Jokowi). Kali ini Ma'ruf menggunakan kalimat yang lebih halus untuk mengungkapkan banyaknya masyarakat tidak mau mengakui kinerja Jokowi.

Sebab jika ia takut akan ada yang tersinggung kembali seperti kalimat kontroversial buta dan budek yang ia lontarkan bagi masyarakat yang tidak melihat kinerja dan capaian Jokowi.

"Maksud saya buta itu bukan buta matanya tapi buta hatinya, lahum ayunun la yubsiruna biha. Punya mata tapi tidak melihat. Lahum adzanu la yasmauna biha. Punya telinga tapi tidak mendengar. Saya tidak ingin menggunakan kata-kata itu lagi karena takut dibully," tandasnya.

(mdk/ded)