Membaca Gestur Jokowi dan Analisa Bamsoet Mundur dari Caketum Golkar

Membaca Gestur Jokowi dan Analisa Bamsoet Mundur dari Caketum Golkar
POLITIK | 5 Desember 2019 16:06 Reporter : Randy Ferdi Firdaus

Merdeka.com - Airlangga Hartarto kembali didaulat sebagai ketua umum Golkar di Munas X, Rabu (4/12). Airlangga jadi ketum secara aklamasi karena rival terkuatnya, Bambang Soesatyo (Bamsoet) mundur dari pencalonan.

Bamsoet mundur setelah bertemu Aburizal Bakrie (Ical) dan Luhut Binsar Panjaitan bersama Airlangga di Kantor Kemenko Kemaritiman, beberapa jam jelang Munas X dibuka.

1 dari 4 halaman

Pengamat politik Akar Rumput Strategic Consulting (ARSC) Bagus Balghi menganalisa, setidaknya terdapat dua hal yang menjadi penyebab utama mundurnya Bamsoet. Tak cuma Bamsoet, Caketum lainnya juga ikut mundur pasca keputusan Ketua MPR itu.

Bagus menilai, faktor pertama gestur politik Presiden Jokowi terkait usulan amandemen masa jabatan presiden tiga periode. Sebagaimana diketahui Presiden Jokowi menolak usulan yang sempat digaungkan sejumlah politisi. Sebagai Ketua MPR, Bamsoet sempat pula disebut-sebut turut merespon wacana ini, meskipun kemudian dibantahnya.

2 dari 4 halaman

Akibat isu ini, Jokowi dengan gestur politik yang khas dan keras menyebut wacana amandemen terkait periodisasi jabatan presiden sampai tiga kali justru bisa menjerumuskannya. Hal ini dianggap sebagai sebuah komunikasi politik tinggi dari Jokowi terkait isu ini yang mengurungkan langkah Bamsoet maju sebagai calon ketua umum.

Faktor kedua adalah ketenangan dan sikap akomodatif sosok Airlangga Hartarto sebagai ketua umum dalam menghadapi situasi partai yang memanas.

"Kita bisa melihat, di awal sempat banyak tuduhan ditujukan ke kubu Airlangga, mulai dari intervensi istana, isu munas tidak demokratis, kemunduran prestasi partai dan seterusnya. Tapi Airlangga Hartarto sebagai ketum mampu membuktikan sekaligus menunjukkan gaya kepemimpinan yang tenang, santun, terbuka dan konsensual. Namun juga jelas dan tegas dalam membangun komunikasi kepada berbagai faksi internal di Golkar," kata Bagus saat dihubungi wartawan, Kamis (5/12).

3 dari 4 halaman

Bagus juga melihat gejala menguatnya rasionalitas, kebijaksanaan dan kedewasaan berpolitik dari kader-kader Golkar di Munas tahun ini.

Meskipun godaan politik uang cukup tinggi dalam Munas, kata dia, kader Golkar mampu membuktikan kedewasaan dan rasionalitas yang bijaksana dalam berdemokrasi. Terutama menjaga stabilitas partai dan kebutuhan menjaga kedekatan dengan pemerintah.

"Bagaimanapun kedekatan terhadap pemerintah yang berkuasa adalah dan akan selalu menjadi isu utama Golkar," jelas Bagus.

4 dari 4 halaman

Sementara itu, Pengamat Politik dari Universitas Jenderal Soedirman Indaru Setyo Nuprojo memuji aspek kedewasaan dan kenegarawanan sosok Bamsoet. Selanjutnya, rekonsiliasi antara Airlangga dan Bamsoet menjadi ukuran dari kedewasaan dan kebijaksanaan partai sebesar Golkar.

"Munas Golkar ini disorot oleh semua kekuatan politik yang ada. Saya pikir mereka tidak akan sembarangan melakukan upaya-upaya yang memperburuk nilai jual Golkar ke depan. Implementasinya adalah bagaimana nantinya bentuk kepengurusan DPP Partai Golkar mampu menampung berbagai faksi di posisi-posisi startegis," tutupnya. (mdk/rnd)

Baca juga:
Ma'ruf Amin akan Tutup Munas Golkar Malam Ini
Ada Beda Pendapat, Sidang Komisi AD/ART Munas Golkar Berlangsung Panas
Airlangga Tawarkan Posisi Kehormatan untuk JK dan Luhut di Golkar
Golkar Klaim Suasana Pemilihan Ketum Demokratis dan Kekeluargaan
Usulan Agar Airlangga Ditetapkan Capres 2024 Belum Tentu Jadi Keputusan Munas Golkar
Munas Dipercepat, Airlangga Hartarto Ditetapkan Sebagai Ketua Umum Golkar 2019-2024

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami