Membaca Respons Politik Golkar dan NasDem di Tengah Manuver Politik Prabowo

POLITIK | 16 Oktober 2019 22:32 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Pengamat politik LIPI, Siti Zuhro menilai, jika Partai Gerindra benar-benar bergabung dalam barisan koalisi pemerintah, maka akan membuat cemburu partai lainnya di dalam koalisi. Di sisi lain, kritik terhadap pemerintah tidak akan seperti yang terjadi di periode pertama pemerintahan Jokowi. Sebab, oposisi praktis tak bisa berbuat banyak karena kalah dominan.

"Itu pasti (buat cemburu) dan sudah diomongkan, beberapa partai langsung merespons dan tidak positif. Kita saksikan NasDem dan Golkar bahasanya agak kritis," tutur Siti di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Rabu (16/10).

Siti menilai, Gerindra tak akan ngotot masuk ke koalisi bila sebelumnya mendapat jatah kursi ketua MPR. Saat ini setelah kursi ketua MPR menjadi milik Partai Golkar, hitungan politik berubah.

"Itu saja bacanya, cenderungnya ke sana. Sebetulnya, kalau kemarin Gerindra itu mendapatkan ketua MPR bisa jadi tidak harus masuk ke koalisi pemerintah," ucapnya.

Dia memprediksi, pemerintahan Jokowi periode kedua bakal lebih adem. Alias, tak ada banyak kisruh bila dibanding dengan periode sebelumnya.

"Kayaknya yang lalu lebih kisruh ya. Diawali dengan kisruh yang luar biasa karena baru selesai pemilu, MD3 itu diganti. Karena UUD MD3 diganti, maka konskuensi logisnya PDIP tidak bisa menjadi ketua DPR RI," jelas dia.

Reporter: Ratu Annisaa Suryasumirat
Sumber: Liputan6.com

Baca juga:
PPP Ingatkan Gerindra, Demokrat & PAN: Kalau Masuk Koalisi Jangan Berlaku Oposisi
Peneliti LIPI Nilai Sinyal Merapatnya Gerindra Tanda Koalisi Jokowi Tak Solid
Akbar Tanjung Tak Masalah Gerindra Masuk Kabinet Jokowi
Ngabalin: Saya Tak Tahu Kali Ini Presiden Masih Ikut Bareng PAN atau Tidak
Prabowo Menunggu Ajakan Jokowi Merapat ke Koalisi Pemerintah

(mdk/noe)