Mengacu hasil survei, Demokrat sebut AHY kandidat terkuat cawapres Prabowo

POLITIK | 31 Juli 2018 14:07 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Partai Demokrat resmi berkoalisi dengan Partai Gerindra. Keputusan koalisi ini diambil usai Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bertemu kedua kalinya dengan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto di kediaman Prabowo di Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (30/7) pagi.

SBY juga telah menyatakan dukungannya untuk Prabowo sebagai capres pada Pilpres 2019 melawan petahana, Joko Widodo (Jokowi).

Mengenai siapa yang akan menjadi cawapres Prabowo, Ketua DPP Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean mengatakan partai koalisi belum melakukan pembahasan. Munculnya dua nama dari hasil ijtima ulama dan beberapa tokoh masih sebatas rekomendasi. Siapa yang akan menjadi cawapres Prabowo akan dibahas parpol koalisi dan keputusan akhir di tangan Prabowo.

Namun jika mengacu hasil survei sejumlah lembaga survei, Ferdinand mengatakan Ketua Kogasma Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) merupakan kandidat terkuat yang layak disandingkan dengan Prabowo. Saat pertemuan pertama Prabowo dengan SBY di Mega Kuningan pekan lalu, Prabowo menyatakan tak masalah jika nantinya akan berdampingan dengan AHY.

AHY, kata Ferdinand, diajukan partainya karena merupakan aspirasi para kader Demokrat secara nasional. "Dan boleh kita menyebut aspirasi masyarakat secara nasional. Hasil lembaga survei menempatkan nama AHY itu untuk mendampingi Pak Prabowo dan Pak Jokowi sebetulnya dan kita harus lihat keinginan masyarakat," jelasnya, Selasa (31/7).

Pihaknya akan menyambut baik jika pada akhirnya Prabowo memilih AHY menjadi cawapres. "Kalau masyarakat ingin Pak Prabowo berdampingan dengan AHY kita terima juga. Banyak masyarakat mengusulkan nama AHY juga dan hasil lembaga survei, AHY terkuat untuk mendampingi Prabowo sebagai kandidat terkuat. Itu gambaran dari masyarakat," jelasnya.

Prabowo dan AHY memiliki latar belakang yang sama yaitu dari militer. Namun menurut Ferdinand saat ini sudah tak relevan membicarakan komposisi militer-militer atau militer-sipil ataupun sipil-sipil untuk bertarung dalam kepemimpinan nasional. Mengingat, kata dia, saat ini Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla komposisinya sipil-sipil.

"Tidak relevan bicara komposisi militer-militer. Enggak ada masalah. Dan yang paling relevan siapa sosok yang bisa mengeluarkan bangsa ini dari berbagai masalah yang mendera bangsa ini. Dari manapun latar belakangnya yang penting sosoknya mampu mengeluarkan bangsa ini dari berbagai persoalan," terangnya.

Terkait kapan para parpol koalisi pengusung Prabowo akan berkumpul membahas cawapres, Ferdinand mengatakan belum mengetahui. Saat ini Prabowo juga masih terus melakukan komunikasi politik dengan petinggi parpol lainnya.

"Sampai saat ini belum ada rencana kapan pembahasan cawapres dan Pak Prabowo juga terus membangun komunikasi politik dengan yang lain," ujarnya. (mdk/rzk)

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.