Moeldoko: Jiwasraya Tak Ada Hubungannya dengan Moeldoko!

POLITIK | 24 Januari 2020 14:42 Reporter : Muhammad Genantan Saputra

Merdeka.com - Partai Demokrat mengaitkan posisi tersangka kasus Jiwasraya, Harry Prasetyo dengan jabatannya di Kantor Staf Kepresidenan (KSP). Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menegaskan, kasus Jiwasraya tidak hubungannya sama sekali dengan KSP.

"Begini loh, saya ulangi lagi. Jiwasraya sama sekali tidak ada hubungannya sama Moeldoko, KSP, jauh, jauh sekali," kata Moeldoko di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (24/1).

Moeldoko mengakui bahwa Harry Prasetyo pernah bekerja di KSP. Dirinya menganggap hal tersebut merupakan suatu keteledoran.

"Tetapi bahwa Pak Harry itu pernah di KSP iya. Pertanyaannya kok bisa ke sini? Lah itu mungkin di situ kita ada keteledoran SDM kita untuk mendalami. Tapi persoalannya kita gak ngerti siapa background sesungguhnya. Karena saat itu Jiwasraya belum seperti saat ini," tuturnya.

1 dari 3 halaman

Moeldoko mempersilakan saja bila Partai Demokrat mengaitkan kasus Jiwasraya dengan KSP. Namun, dia menegaskan, KSP punya hak untuk menepis anggapan tersebut karena sama sekali tidak terlibat.

"Jadi kalau mau ngait-ngaitkan silakan saja, gakpapa. Tapi saya juga punya hak dong. Kalau itu nyinggung-nyinggung saya juga bisa punya alasan untuk membela diri. Saya katakan enggak ada sama sekali," tegasnya.

"Nanti bisa dilihat kok itu apakah pernah itu Harry setor ke saya, kan ada di BAP. Nanti di BAP akan menyampaikan dengan jelas, itu saja kira-kira biar gak berkepanjangan," ujar Moeldoko.

2 dari 3 halaman

Mantan Panglima TNI tersebut tidak ingin Partai Demokrat membangun persepsi buruk kepada Istana untuk kepentingan politik di tahun 2024.

"Gak ada hubungannya dgn KSP. Jangan membangun persepsi, halusinasi. Ini 2024 masih jauh jangan nembak yang enggak-enggak," ujar dia.

Moeldoko melanjutkan, pemerintah melalui Kejaksaan Agung sudah bekerja untuk menyelesaikan kasus Jiwasraya. Baiknya, kasus ini diserahkan kepada penegak hukum.

"Kita kan Jiwasraya, Asabri, dan lain-lain ini kan udah ditangani oleh aparat, oleh Kejaksaan, jadi tunggu saja hasilnya. PPAT juga sudah bekerja. Karena akan ketahuan semua siapa sih yang bermain di situ. Udah diserahkan ke aparat hukum ya. Kita gak usah intervensi," tutupnya.

3 dari 3 halaman

Sebelumnya, Anggota Komisi III DPR dari Fraksi Demokrat, Benny K Harman mengatakan salah satu tersangka kasus korupsi Jiwasraya, Harry Prasetyo pernah bekerja sebagai Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Kepresidenan (KSP).

"Kalau follow the people, follow the man. Maka apakah Harry Prasetyo ini yang pernah menjadi Tenaga Ahli utama KSP. Itu kan. Nah ini follow the people ini. Jadi, kalau si Harry Prasetyo tadi pernah menjadi direktur keuangan 2008-2018, kemudian Pak Jaksa Agung yang dia jadi Tenaga Ahli Utama di KSP itu tahun berapa?" kata Benny di Gedung DPR, Jakarta, Senin (20/1).

Benny pun curiga, Jiwasraya ini ada kaitannya dengan Pemilu 2019. Sebab, dia yakin korupsi besar tersebut terjadi menjelang Pemilu 2019.

"Jangan jangan follow the money follow the people tadi ada hubungannya dengan pemilihan umum 2019 yang lalu. Kan gitu Pak. Ya aku gak tahu itulah. Tapi ini kan ada konsistensi Pak, ada kasus Jiwasraya ini main begitu canggih begitu halus, dari Istana dikendalikan, kan gitu, kalau betul Istana," kata Benny.

"Makanya saya ingin tahu. Apa betul, kok lama-lama istana ini jadi bungkam maling maling ini, gimana. Ini harus dibuka. Harus dibuka. Tapi kan saya enggak tahu. Betul enggak. Jangan jangan Prasetyo yang lain, makanya saya tanya. Apa betul yang dimaksudkan ini," tutup dia. (mdk/rnd)

Baca juga:
Benny Tjokrosaputro Catut Nama Karyawan untuk Transaksi dengan Jiwasraya
Kejagung Geledah Rumah Heru Hidayat dan Hary Prasetyo Terkait Jiwasraya
Kejagung Sebut 5 Tersangka Kasus Jiwasraya Simpan Aset di Luar Negeri
Kasus Jiwasraya dan Bumiputera Dituding Runtuhkan Kredibilitas OJK
Kejagung Blokir 35 Rekening Milik 5 Tersangka Kasus Jiwasraya
Kejagung Sita Ribuan Sertifikat Tanah Milik 5 Tersangka Korupsi Jiwasraya

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.