Mulyadi Gerindra: Sudah Dua Gubernur, Banjir di Bandung Tak Pernah Selesai

POLITIK | 13 November 2019 15:47 Reporter : Randy Ferdi Firdaus

Merdeka.com - Anggota Komisi V DPR dari Fraksi Gerindra Mulyadi merasa heran dengan banjir yang kerap terjadi di Bandung. Setiap tahun, ribuan warga terpaksa menjadi korban banjir, seolah tak ada solusi menghadapi hal tersebut.

Saat Rapat Kerja dengan Menteri PU-PR Basuki Hadimuljono, Mulyadi mengkritik koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah perihal penanganan banjir itu. Bahkan sudah dua gubernur, banjir di Bandung tak kunjung selesai.

"Saya kadang miris, sudah ganti beberapa gubernur dan bupati, itu banjir di Bandung yang merendam 8 kecamatan, puluhan ribu warga, setiap tahun, harus jadi korban," jelas Mulyadi di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (12/11).

Terlebih lagi, banjir terjadi tak jauh dari Institut Teknologi Bandung (ITB), yang notabene banyak orang-orang hebat. Harusnya dilibatkan untuk menangani banjir yang kerap menerjang ibu kota Jawa Barat tersebut.

"Itu banjir Bandung tak jauh dari ITB, tidak jauh dari institut teknologi nasional, banyak kajian, ahli tata kota dan sebagainya, seperti tidak berdaya menghadapi itu, kenapa pemerintah pusat tidak ikut melakukan sinergi dan berkoordinasi dengan Pemda? Sampai gubernur dua periode tiga periode tidak pernah selesai masalah banjir Bandung," tambah Politikus Gerindra tersebut.

Diketahui, sejak era Ahmad Heryawan dua periode hingga Ridwan Kamil saat ini, banjir yang kerap menggenangi Kota dan Kabupaten Bandung tak kunjung ada solusi.

Anggota Dewan Pembina Gerindra ini juga meminta agar Menteri Basuki dan jajarannya memperbaiki koordinasi dan komunikasi antara pemerintah pusat dan daerah demi kesejahteraan masyarakat.

"Ke depan fungsi koordinasi dari tingkat pusat dan daerah harus ditingkatkan," jelas Anggota Banggar DPR RI ini lagi.

1 dari 3 halaman

Infrastruktur Jawa Barat

Mulyadi juga mengkritik rencana pemerintah membangun tol di Jawa Barat. Apalagi, pembangunan jalan dilakukan hanya karena tujuan mengurai kemacetan akibat volume kendaraan yang semakin bertambah.

Mulyadi mengkritisi, kalau hanya karena alasan volume kendaraan bisa koordinasi dengan provinsi Jabar. Karena, menurut dia, kemacetan itu hanya bersifat periodik saja.

"pak kemacetan Lebaran seperti kegiatan ritual warga Jabar, yang sepertinya ternyata itu sedang terjadi distribusi ekonomi pada masyarakat Jawa Barat yang dilintasi. Bayangkan kalau tol itu dibangun pak, banyak industri rumah tangga, destinasi wisata dan kepentingan masyarakat yang harusnya masih bisa dikembangkan nanti akan terabaikan," kata mantan Ketua DPD Gerindra Jawa Barat itu.

Dia pun mengingatkan, apapun yang tengah menjadi proyek pemerintah baiknya dikonsultasikan dulu ke para pihak terkait. Termasuk tokoh masyarakat, agama di sekitar kawasan pembangunan. Dengan demikian, tujuan pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat bisa tercapai.

2 dari 3 halaman

Vila Orang Jakarta di Puncak

Mulyadi juga mengkritik soal banjir di Jakarta yang selalu disalahkan kepada orang Bogor. Anggota DPR dari Dapil Kabupaten Bogor ini menegaskan, banjir yang terjadi di Jakarta karena resapan air di Puncak telah dibangun vila milik orang Jakarta.

"Kalau Jakarta banjir katanya kiriman dari Bogor, saya bicara rasio yang paling simple, beban puncak luar biasa pak, tapi daerah resapan airnya dijadikan vila-vila orang Jakarta," jelas Mulyadi.

Dia juga menyinggung rencana pembangunan jalur puncak dua. Hingga kini tidak terealisasi, tak tahu apa kendalanya.

"Sampai hari ini puncak dua anggaran didorong dari kabupaten, provinsi, tidak pernah terealisasi, negara seperti tidak hadir mengatasi itu. Sementara Puncak diatur oleh Keputusan Presiden. Saya kira ini menjadi catatan penting," tutup dia.

3 dari 3 halaman

Banjir Bandang 3 Orang Tewas

Pada Februari 2019 lalu, tiga orang warga tewas akibat diterjang banjir bandang yang terjadi di Komplek Pasir Jatienda, Dusun Pasir Jati RT 04/RW 06, Desa Jatiendah Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung.

Data dari BPBD, tiga orang yang meninggal yakni Firdasari (35), Nuraini (25) dan Rauvan (17 bulan). Selain itu, tiga orang juga mengalami luka-luka akibat kejadian bencana alam ini yakni Kiki (12) mengalami luka berat, Nisa (14) mengalami luka ringan dan Ajay (45) mengalami luka ringan.

Gubernur Jawa Barat M Ridwan Kamil atau Emil ikut berduka atas musibah banjir bandang yang terjadi di Komplek Pasir Jatienda itu.

"Yang terkena kalau tidak salah sekitar 12 rumah ya dan mudah-mudahan tidak banyak yang terkendala, ada tiga yang meninggal kita turut berduka cita dan prihatin," ujar Gubernur Emil, di Gedung Negara Pakuan Kota Bandung, Minggu.

Pihaknya telah meminta Bupati dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung untuk melakukan tanggap darurat ke lokasi bencana banjir bandang tersebut.

"Saya harap Pemkab melalui BPBD Kabupaten Bandung bisa segera dalam menyelesaikan masalah pasca kejadian waktu dekat ini dan situasi di sana kembali menjadi normal," kata dia. (mdk/rnd)

Baca juga:
Fadli Zon Sebut Setiap Masyarakat Dapat Bantu Negara Dalam Pertahanan
Fadli Zon Soal Pemulangan Rizieq: Kalau Pemerintah Mau, Satu Hari Selesai
Rapat dengan Prabowo, Gerindra Minta Prajurit TNI di Papua Lebih Diperhatikan
Politikus PKS ke Prabowo: Saya Berasal dari Fraksi Sekutu Bapak
Menyiapkan Sandiaga Uno Gantikan Peran Prabowo
Sandiaga: PKS Jadi Penentu Kursi Kosong Wagub DKI