Musibah di Partai Ka'bah

POLITIK | 9 Desember 2019 19:59 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - PPP akui kisruh internal berdampak merosotnya suara di Pemilu 2019. Persepsi yang terbangun di masyarakat terhadap PPP menjadi negatif akibat kisruh tersebut.

Wasekjen PPP Achmad Baidowi punya solusi agar persepsi di masyarakat menjadi positif. Salah satunya, PPP harus solid di internalnya terlebih dahulu.

Tidak ada lagi dualisme antara kubu Humprey Djemat atau Suharso Monoarfa. Dualisme ini berawal konflik yang terjadi antara Suryadharma Ali dan Romahurmuziy usai Pilpres 2014.

1 dari 3 halaman

Baidowi pun telah menulis sebuah buku yang bercerita tentang konflik di partainya tersebut. Buku itu berjudul 'Musibah Partai Ka'bah'.

"Kita berharap, dalam 5 tahun ke depan asumsi tersebut hilang dari publik. Di antaranya apa, ya PPP harus solid. Kepengurusan itu harus solid. Ketika kepengurusan solid maka PPP dalam menjalankan agenda kepartaian. Itu akan lebih terkonsolidasi dan bisa comeback bisa recovery pada Pemilu 2024," jelas Baidowi saat acara Bedah Buku 'Musibah Partai Ka'bah', Senin (9/12).

2 dari 3 halaman

Pria yang akrab disapa Awiek ini menambahkan, pengalaman pemilu pada 2019, serta rentetan persoalan selama 5 tahun terakhir sejak 2014 diharapkan tidak terulang. Apabila hal tersebut terulang, maka bukan tidak mungkin pada 5 tahun yang akan datang akan benar-benar menjadi musibah untuk PPP.

"Tentunya dengan saya menulis buku ini sebagai intropeksi, sebagai muhasabah bagi PPP. Persoalan 5 tahun kemarin itu menyisakan masalah yang cukup mendalam bagi internal PPP. Terbukti ya suara PPP merosot. Kalau ini tidak ada pembenahan maka sulit bagi PPP untuk melakukan recovery," tutur Awiek.

3 dari 3 halaman
TOPIK TERKAIT

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.