PDIP persilakan incumbent maju lagi di pilkada, asal kinerjanya baik

POLITIK | 16 Mei 2015 22:07 Reporter : Arie Sunaryo

Merdeka.com - Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak akan digelar akhir 2015 mendatang. Sejumlah partai besar telah menyusun strategi untuk merebut kursi orang nomor satu di kabupaten/kota. Tak terkecuali Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) pimpinan Megawati Soekarnoputri.

Sebagai partai pemenang pemilu, PDIP tak ingin kalah dalam perebutan kursi bupati dan wali kota, seperti dikemukakan politisi PDI Perjuangan, Aria Bima. Dia mengaku partainya telah mempunyai strategi khusus untuk memenangkan ajang pesta politik lima tahunan itu.

"Di masa reses ini kami PDIP sudah menjajaki kesiapan DPC dalam menghadapi pilkada serentak. Kami juga sudah mempelajari situasi dan menyiapkan strategi-strategi khusus untuk menghadapi Pilkada serentak tahun ini," ujar Aria Bima usai menjadi pembicara dalam acara sosialisasi empat pilar kebangsaan di Kantor DPC PDIP Kabupaten Sukoharjo, Sabtu (16/5).

Menurut dia, partainya akan memaksimalkan kekuatan masing-masing daerah dan calon. "Calon yang bukan incumbent akan kita maksimalkan dukungannya, akan lebih diperhatikan," katanya.

Aria mengakui Pilkada serentak kali ini akan lebih berat dibanding pilkada sebelumnya. "Kalau serentak tentu lebih berat. Dulu antar daerah bisa saling membantu, karena tidak bareng. Perhatian DPP dan DPD juga bisa lebih fokus ke satu daerah yang sedang Pilkada, tapi dengan serentak maka masing-masing daerah harus memaksimalkan kekuatannya," terang dia.

Salah satu strategi yang disiapkan PDIP, lanjut dia, adalah dengan memberi kesempatan kepada incumbent untuk kembali mencalonkan diri dalam pilkada. Namun partai memberi syarat kinerja incumbent tersebut baik selama 5 tahun memimpin.

Sedangkan untuk daerah yang kepala daerahnya sudah tidak bisa maju kembali, seperti di Klaten dan lainnya, partai akan mencarikan kader terbaik. Perhatian khusus bagi daerah yang calonnya merupakan calon baru diberikan, karena dimungkinkan masih ada faksi-faksi ekses dari proses penjaringan dan penyaringan yang membutuhkan waktu untuk menjadi mesin yang solid sebagai tim pemenangan partai.

Aria menjelaskan, di Jawa Tengah nantinya ada 21 kabupaten dan kota yang ikut Pilkada serentak. Dari partainya ada peserta yang merupakan calon incumbent, namun beberapa calon lainnya merupakan pendatang baru.

"Ada yang tidak bersedia lagi mencalonkan atau karena sudah dua kali menjabat. Semua sudah kami petakan dan sudah kami buatkan persiapan maupun strategi sendiri-sendiri," jelasnya.

Selain memaksimalkan kekuatan kader dan struktural partai, pihaknya juga memaksimalkan kemampuan dan popularitas calon. Mereka boleh melakukan komunikasi dengan jejaring di luar partai untuk memaksimalkan dukungan. Sementara itu proses penjaringan tetap melalui jalur struktural.

"Pada proses penyaringan, selain akan ditentukan oleh pimpinan pusat, tentunya popularitas, tingkat penerimaan publik serta kemampuan pribadi calon juga menjadi bahan pertimbangan yang tak kalah penting," pungkasnya. (mdk/rnd)

Baca juga:

Dikabarkan dipanggil Megawati soal pilkada Surabaya, ini kata Risma

KPU rawan ditekan partai politik soal revisi UU Pilkada

Bahas pilkada serentak, DPR rapat dengan Jokowi 18 Mei

Kubu Ical menang di PTUN, tak otomatis Golkar bisa ikut Pilkada

Jika diboikot Parpol, Airin bakal maju independen Pilkada Tangsel

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.