Pemilu 2019 'Kuburan' Bagi Partai Politik Baru yang Minim Gagasan

POLITIK | 22 Maret 2019 20:24 Reporter : Yunita Amalia

Merdeka.com - Pengamat politik, AS Hikam menduga terjadi inersia atau kemandekan politik yang membuat partai minim gagasan. Padahal setiap penyelenggaraan Pemilu terdapat partai politik baru. Karena itu dia menganjurkan ada perombakan sistem kepartaian demi kualitas politik di Indonesia.

"Saya kira ada inersia politik. Makanya saya selalu mengatakan salah satu hal yang penting dilakukan adalah perombakan di sistem kepartaian," ujar Hikam saat menghadiri diskusi Para Syndicate, Jakarta Selatan, Jumat (22/3).

Hikam mengamini, untuk mendobrak sistem kepartaian saat ini tidak mudah. Seharusnya kehadiran partai alternatif atau partai baru mampu mendobrak tatanan sistem lama yang dianut partai saat ini. Namun kenyataannya partai baru tidak menjadi jawaban perubahan sistem kepartaian. Harus ada platform serta gagasan baru.

Merujuk data survei Litbang Kompas per Maret elektoral partai baru seperti PSI, Garuda, Berkarya, Perindo masih di bawah ambang batas parlemen atau parliamentary threshold, sebesar 4 persen. PSI (0,9 persen), Berkarya (0,5 persen), Garuda (0,2 persen), sementara Perindo (1,5 persen).

"Pileg 2019 adalah kuburan bagi partai politik alternatif (partai baru). Kalaupun survei ini benar ya masuk kuburan," katanya.

Dia tidak sependapat jika parliamentary threshold dinilai sebagai penghambat partai baru untuk unjuk gigi. Justru adanya ambang batas seperti itu bertujuan meningkatkan kualitas sistem politik.

"Secara teoritis bagus karena sebetulnya kita ingin agar PT (parliamentary threshold) kita juga bisa menunjukkan efektif ada mayoritas dan yang tidak. Kita berharap ada perampingan jumlah partai," ucapnya.

Selain partai baru, survei Litbang Kompas juga menunjukkan partai lama seperti Hanura berada di posisi rawan. Elektoral partai besutan Oesman Sapta Odang itu terancam gagal masuk Senayan karena elektabilitasnya hanya berkisar 0,9 persen. Sementara partai lama yang tidak lolos parlemen pada 2014-2019 seperti PBB dan PKPI, berpotensi kembali gagal, karena elektabilitasnya masing-masing 0,4 persen dan 0,2 persen.

Sementara itu, partai-partai seperti Nasdem, PPP dan PAN belum aman. Sebab, dengan elektabilitas Nasdem (2,6 persen), PPP (2,7 persen), PAN (2,9 persen), masih dalam rentang ancaman ketidaklolosan ambang batas parlemen 4 persen.

Survei Litbang Kompas ini dilakukan melalui pengumpulan pendapat melalui wawancara tatap muka ini pada 22 Februari-5 Maret 2019. Sebanyak 2.000 responden dipilih secara acak menggunakan metode pencuplikan sistematis bertingkat di 34 provinsi Indonesia.

Menggunakan metode ini, pada tingkat kepercayaan 95 persen, margin of error penelitian +/- 2,2 persen dalam kondisi penarikan sampel acak sederhana. Meskipun demikian, kesalahan di luar pemilihan sampel dimungkinkan terjadi. (mdk/noe)

Baca juga:
Relawan di Jatim Diingatkan Tak Catut Nama Jokowi Hanya Demi Tarik Massa
Sandi Prihatin 6 Guru Honorer di Tangerang Dipecat Usai Foto Pose 2 Jari
Mendagri Perintahkan Ridwan Kamil Tunda Pelantikan Tiga Kepala Daerah
Viral Mobil Dinas di Acara Prabowo, TNI Selidiki Ketidaknetralan Anggota
RSUD Kudus Siapkan Ruang Khusus Caleg Stres yang Sulit Bedakan Realitas & Imajinasi
3 Caleg di Bekasi Meninggal Dunia, KPU Buat Berita Acara Perubahan DCT

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.