Pengarahan Ical, Akbar Tandjung dan Agung Laksono untuk Golkar

POLITIK | 14 November 2019 19:51 Reporter : Eko Prasetya

Merdeka.com - Politisi Senior Golkar Aburizal Bakrie atau biasa disapa Ical mengatakan Munas tidak hanya ajang memilih ketua umum. Tetapi pemikiran-pemikiran Partai Golkar yang akan menjadi arahan bagi pembangunan Indonesia di masa depan.

"Termasuk di dalamnya pembahasan Visi Negara Kesejahteraan 2045. Saya, Pak Agung Laksono, Pak Andi Mattalatta, Pak Akbar Tandjung, adalah generasi yang telah lewat, tetapi kami masih punya semangat," kata Ical di Rapimnas Partai Golkar, Jakarta, Kamis (14/11).

Ical melanjutkan, kader Golkar harus terus bersatu. Kalau bersatu, Golkar dapat memaksimalkan semua energi yang dimiliki untuk memikirkan kemajuan partai. Sehingga ke depan Golkar tidak akan ada lawan.

"Partai Golkar di tahun 2024, harus bisa mencalonkan presiden atau wakil presiden dari kader Partai sendiri. Kita tabuh gendang kita sendiri. Kita menari di gendang kita sendiri. Satu tekad kita, Golkar menang di 2024," katanya.

Munas ke depan, lanjutnya, harus dipikirkan agar bagaimana beberapa calon yang ada bisa berunding. Sehingga bisa menelurkan musyawarah mufakat.

"Kita kesampingkan ego-ego yang ada. Di situlah, Golkar akan menjadi pemenang. Kita juga harus pertimbangkan agar ada generasi-generasi milenial yang masuk ke dalam kepengurusan Partai Golkar," tuturnya.

"Kita kembalikan Partai Golkar sebagai The Party of Ideas. Kita bangkitkan Golkar dengan ide-ide dan gagasan. Kita gunakan media-media yang ada, baik media konvensional, maupun media sosial. Kami menghargai apa yang diraih di Pemilu 2019 lalu. Ke depan, dalam membangun partai, kita harus berkeliling dan mencari masukan-masukan dari daerah/DPD," imbuhnya.

1 dari 2 halaman

Akbar Tandjung

Sementara itu, politisi senior Golkar lainnya, Akbar Tandjung mengatakan Munas akan memilih dan menetapkan ketum partai untuk 5 tahun ke depan. Ada proses sesuai ad/art yang mengatur soal ini.

"Catatan saya, jika proses tidak bisa ditempuh dengan musyawarah mufakat, maka terpaksa dilakukan dengan pemungutan suara. Mekanisme itu sudah ada dan diatur dalam ad/art," kata dia.

Saat ini, lanjutnya, Golkar harus mempersiapkan langkah-langkah strategis untuk menghadapi agenda-agenda politik ke depan. Di mana tahun 2020 nanti akan menghadapi pilkada serentak.

"Insyaallah Partai kita akan menjadi pemenang. Pilkada dan agenda-agenda politik tersebut, akan memperlihatkan wajah partai kita kepada publik secara nasional. Partai kita lahir untuk menjaga Pancasila, yang berorientasi karya-kekaryaan untuk pembangunan. Pembangunan yang diselenggarakan bertujuan sebagai pengamanan Pancasila," tuturnya.

Kemudian, kata dia, dalam semangat menyongsong agenda-agenda politik di masa depan, yang terutama perlu melakukan evaluasi sistem kaderisasi. Pokok-pokok pikiran yang nanti dihasilkan oleh Munas, termasuk tema Negara Kesejahteraan, harus dapat diselenggarakan dengan baik.

"Salah satu masukan saya tentang sistem politik pada pemilu 2024 mendatang, adalah penggunaan kembali sistem konvensi. Terakhir, harapan saya agar rapimnas dan Munas dapat berjalan tertib dan lancar," paparnya.

2 dari 2 halaman

Agung Laksono

Politisi Senior Agung Laksono dalam kesempatan itu juga berharap Munas harus lebih baik. Baginya, tidak hanya memilih ketua, tetapi mampu melahirkan gagasan-gagasan.

"Saya merasa gembira, karena sudah ada kesepakatan soal Munas, yakni tanggal 3-6 Desember di Jakarta. Menjadi tugas SC untuk sebaik-baiknya menyiapkan bahan-bahan materi, bukan hanya menyangkut kepengurusan tetapi juga gagasan-gagasan partai yang dapat digunakan untuk kemajuan bangsa dan negara Indonesia," katanya.

Pengambilan keputusan, kata dia, utamakan musyawarah untuk mufakat. Apalagi Golkar sebagai partai besar.

"Melalui Munas nanti, kita perlu kapitalisasi sebaik-baiknya apa yang kita miliki hari ini dalam menyongsong momentum politik 2024. Tidak ada lagi petahana saat itu. Bahkan saat ini kita memiliki potensi dengan menduduki posisi-posisi strategis, menko, menteri, dan sebagainya, sehingga ini menjadi ajang Partai Golkar menunjukkan eksistensinya," tuturnya.

Selain itu, katanya, Golkar juga perlu mengoptimalkan kader-kader untuk mengisi pos-pos BUMN agar dapat mengabdi demi kepentingan bangsa dan negara.

"Kita adalah keluarga besar, sudah tentu ada perbedaan-perbedaan. Tetapi apapun perbedaannya, semuanya harus menjalankan apa yang nantinya menjadi keputusan bersama," kata dia.

"Formatur terpilih harus bersama-sama merangkul. Hal ini bukan berarti lantas pengurus DPP akan membengkak, namun tetap harus selektif. Kita harus prioritaskan kader-kader terbaik, tokoh-tokoh masyarakat, organisasi sayap, yang semuanya itu akan berperan sebagai vote getter," imbuhnya.

Kemudian terkait sekolah kader yang diusulkan Airlangga, kata dia, perlu diapresiasi. Program kaderisasi yang disusun dengan baik akan memperkuat posisi partai.

Dia melanjutkan, untuk pengurus DPP yang akan datang, pikirkan tentang perbaikan AD/ART. Bentuklah tim khusus AD/ART yang bisa merumuskan tentang perbaikan AD/ART yang lebih baik. Termasuk dengan meminta masukan-masukan dari daerah.

"Dalam pemilihan umum ke depan, kita hindarkan cara-cara yang bertentangan dengan nilai-nilai partai kita. Kita hindarkan politik uang. Kita jaga bersama marwah dan integritas partai kita. Dalam kepengurusan ke depan, saya mengusulkan adanya pembentukan tim: (a) Pembinaan dan Pemantapan Ideologi Pancasila, dan (b) Perubahan Sistem Pemilu. Seperti kita tahu, pemilu yang lalu terlalu rumit dan banyak memakan korban, karena perlu dipikirkan perbaikannya," tutupnya. (mdk/eko)

Baca juga:
Bamsoet Psywar Airlangga: Kalau Yakin Didukung Pemilik Suara Kenapa Rancang Aklamasi
Belum Putuskan Maju Munas, Bamsoet Bilang 'Tunggu Tanggal Mainnya'
Ical Ingin Munas Golkar Berjalan Musyawarah Mufakat
Munas Golkar 2019 Diyakini Berjalan Musyawarah Mufakat Tanpa Persaingan
Airlangga Sebut Aklamasi Calon Ketua Umum di Munas Golkar Pernah di Zaman Ical
Lewat Pantun, Airlangga Ajak Kader Bersatu Besarkan Golkar